Duta & Yumna

Duta & Yumna
140


__ADS_3

Duta semakin sibuk dengan proyek besranya. Duta adalah ketua tim dalam pengerjaan proyek besar itu.


"Lembur lagi ya guys ... Waktu kita semakin smepit. Tinggal satu bulan lagi sebelum peletakkan batu pertama untuk bangunan utama," pinta Duta pada timnya.


"Siap Ta. Semangat ini. Gambar tiga dimensi sudah siap. Anggaran juga sudah oke. Sudah di kroscekjuga sama tim bangunan. Kita tinggal ajukan sama pemilik. Kalau cocok tinggal pengerjaan. Bisa kita lakukan sebelum bulan depan," ucap teman Duta dpenuh semangat.


Proyek besar ini sudah di bayar penuh dengan laba yang cukup besar. Duta juga sudah membayar setengah dari proyek ini. Jika proyek ini sudah oke, maka pembayaran akan Duta lunasi kepada teman -temannya.


"Oke. Gue mau telepon Nick dulu. Dia ada waktu kapan untuk ngobrolin masalah ini," ucap Duta mantap. Duta pun pergi ke depan untuk mencari tempat yang lebih tenang agar bisa berbincang dengan Nick lebih leluasa.


Duta menempelkan ponselnya di telinga dan emndengarkan nada sambung ke ponsel Nick. Beberapa kali nada sambung itu tak segera di angkat oleh pemiliknya.

__ADS_1


"Angkat dong Nick. Ini urusan proyeknya gimanaa?" ucap Duta lirih.


***


"Papah!! Papah!!" teriak Arsista dengan tangisan histreis saat melihat jenasah Papah Wisnu tiba di rumah Nick.


Setelah Papah Wisnu melakukan operasi besar dan kemudian di vonis sembuh. Papah Wisnu di tangkap oleh polisi karena telah menghilangkan nyawa seseorang. Papa Wisnu terbukti telah membuh Papah Arsy dengan memberikan obat keras di dalam minumannya.


Arsista terus memeluk peti jenasa Papa Wisnu yang sudah di tutup dan siap di kebumikan saat itu juga. Nyawa di balas dengan nyawa, itu adalah prinsip Nick. Nick masih dendan dan tidak etrima soal kematian Ibunya yang depresi dan sengaja di telantarkan oleh Papa Wisnu.


"Bajingan kamu, Nick!!" teraik Arsista yang terus mengumpat saat kedua kaki dan tangannya di pasung dan di ikat denagn rantai.

__ADS_1


Arsista di perlakuakn seperti anjing liar yang sengaja tidak di urus oleh Nick. Nick hanya ingin Arsista menyadari semua kesalahannya dan emngakui semua perbuatan biadabnya bersama Papa Wisnu.


Nick berjalan menuju dimana Arsista terduduk elmah di pojok kamar itu. elapak tangan Nick yang besar dan kekar nampak kuat mencengkeram rahang Arsista yang masih menangis.


"Apa kamu bilang? Katakan sekali lagi?! Aku bajingan? Hah!!" ucap Nick denagn wajah geram dan terus mencengkeran rahang Arsista.


Arsista begitu takut dan berekringat di seluruh wajahnya. Nick yang sellau terlihat baik, ramah dan lembut terlebih pada Yumna, ternyata memiliki sisi gelap yang amat menkautkan sekali.


"Inget!! Urusan kita belum kelar. Bagus aku gak negrusak tubuh kamu!! Aku hanya ingin balas dendam dan melampiaskan semua rasa sakit aku, arsa sakit Ibuku yang sudah kamu telantarkan begitu saja!! Jahat kamu, Sis!! Lalu? Aku gak boelh jahat sama kamu?" ucap Nick mengingatkan.


Arsista menggelengkan ekpalanya pelan dan emmohon agar Nick melepaskan rahangnya yang muali terasa sakit seperti sedang tercekik.

__ADS_1


"Ma -af Nick," jawab Arsista terbata menahan rasa sakit di lehernya.


"Ajal lo bakal tiba kayak Papah lo. Inget!! Nyawa harus di balas denagn nyawa!!" ucap Nick dengan suara menyeramkan.


__ADS_2