
Yumna mulai membuka kedua bola matanya perlahan. Suara ramai di kamar rawat inapnya membuat tidur Yumna sedikit terganggu.
"Bunda ...." panggil Yumna saat melihat Bunda Sinta sudah berada di ruangan rawat inapnya.
"Yumna ... Kamu terbangun. Maaf kalau ganggu istirahat kamu, sayang. Gimana kabar kamu? Kenapa bisa begini sih?" tanya Bunda Sinta lembut lalu berjalan menghampiri putri bungsunya.
Bunda Sinta yang begitu rindu pada Yumna langsung mengusap pelan kepala Yumna dengan penuh kasih sayang.
"Yumna gak apa -apa, Bunda. Bunda gak perlu se -khawatir ini," ucap Yumna berusaha menenangkan hati Bunda Sinta.
"Gak apa -apa, gimana? Bunda denger kabar kamu hampir mau di ...." ucapan Bunda Sinta langsung terhenti saat Yumna angkat bicara.
"Cukup Bunda jangan di teruskan. Nyatanya Yumna masih baik -baik saja kan? Yumna di selamatkan tepat pada waktunya," ucap Yumna pada Bunda Sinta.
"Lalu, Siapa orang yang menolong kamu, Na? Kamu harus mengucapkan banyak terima kasih padanya," titah Bunda Sinta pada Yumna. Bunda Sinta duduk di tepi ranjang dan memegang tangan putri bungsunya.
__ADS_1
"Nah itu Bun. Yumna belum tahu, siapa yang menolong Yumna dan memebawa Yumna ke rumah sakit. Tadi siang, Yumna keburu tak sadarkan diri," ucap Yumna sedikit menyesalkan kejadian siang tadi.
"Kamu gak ingat sama sekali. Suaranya mungkin?" tanya Bunda Sinta mencoba mencari tahu. Paling tidak, keluarga Yumna ingin mengucapkan terima kasih karena telah menolong dan menyelamatkan Yumna.
"Sama sekali gak ingat Bun. Ya, sudahlah. Nnati suatu hari pasti akan ketahuan juga, siapa orang yang telah membantu Yumna," ucap Yumna pada Bunda Sinta.
"Adek guekuh ... Abang kangen lho," ucap Jone langsung memeluk Yumna, adik bungsunya lalu mengecup pucuk kepala Yumna dengan penuh kasih sayang.
Yumna masih di perlakukan seperti anak kecil. Padahal Yumna sudah menikah.
"Abang kangen sama kamu, anak manja. Suka kangen sama teriakan nyaring kamu," ucap Jone terkekeh.
Yumna hanya mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
"Adik kak Dafa, harus kuat dan berani. Gak boleh cengeng, ya," ucap Kak Dafa yang slelau menyemangati Yumna.
__ADS_1
"Makasih Kak Dafa. Dilarang pacaran di ruangan ini," tegas Yumna tertawa.
"Siapa yang mau pacaran? Dih," ucap Yuri tertawa.
"Na? Duta gak ada kabar?" tanya Bunda Sinta mulai to the point memebicarakan tentang rumah tangga Yumna.
"Belum Bun. Nomor ponselnya juga gak aktif sudah beberapa hari ini. Bunda Gita juga gak bisa di hubungi. Apartemn Kak Duta juga gak pernah di angkat, kayak kosong tuh. Tapi, denger -denger, kata dosen Yumna, Kak Duta akan kembali ke Indonesia dalam waktu dekat, karena bulan depan wisuda. Aneh kan? Kapan bikin skripsinya coba? Apalagi kondisi Kak Duta kan ...." ucapan Yumna sengaja terhenti. Pikirannya mulai melayang beberapa bulan kemarin saat Yumna datang ke Jepang untuk menemui Duta, suaminya. Duta yang harus duduk di kursi roda, tak bisa berjalan dan tak bisa melihat.
Semua diam dan suasana kembali hening beberapa saat.
"Jadi ... Kamu masih ingin mempertahankan rumah tangga kamu, Na?" tanya Bunda Sinta pada Yumna.
Pertanyaan Bunda Sinta membuat Yumna terkejut dan menatap lekat wajah Bundanya yang juga menatap serius ke arah Yumna.
"Maksud Bunda apa? Bunda ingin Yumna pisah dari Kak Duta? Gitu?" tanay Yumna dengan suara bergetar dan wajah yang mulai terlihat tak suka.
__ADS_1