
Dokter muda itu hanya memeriksa kondisi Yumna sekilas dan merasakan ada sesuatu yang aneh pada diri Yumna.
"Memang Duta itu siapa?" tanya dokter muda itu snegaja bertanya pada Yumna untuk memastikan jawabannya sama dan selalu konsisten.
Yumna malah menatap dokter itu lekat dan tersenyum sanagt manis sekali.
"Ini lagi main tebak -tebakan atau soal ujian?" tanya Yumna terkekeh sendiri.
"Memang ada yang aneh dengan pertanyaan saya?" tanya dokter itu dengan tatapan sendu.
Yumna menggelengkan kepalanay dnegan cepat.
"Tidak ada. Lihat cincin ini. Ini cincin pernikahan kami setahun yang lalu. Itu tandanya kami sudah menikah. Hari ini adalah acara penting Kak Duta, dan Yumna harus datang," ucap yumna penuh semangat dan begitu menggebu -gebu.
Mendengar ucapan Yumna dokter muda itu dan Bunda Sinta melebarkan senyum bahagia.
"Kamu sudah ingat kalau kamu sudah menikah?" tanay dokter itu masih ragu.
"Memang doketr kira, Yumna akan melupakan moment indah itu? Betapa sulitnya meluluhkan hati Kak Duta, dan Yumna harus berpur a-pura lupa gitu?" tanya Yumna kesal.
"Bu -bukan itu Na. Ekhemm kemarin, kamu itu ...," ucapan dokter muda itu di tahan dan sengaja tak di lanjutkan. takutnya malah ada salah paham lagi.
__ADS_1
"Yumna mau hadir di wisuda Duta. Kasih kami ijin hingga sore, dan kami akan kembali lagi," pinta Bunda pada dokter muda itu dengan memohon.
"Yumna sudah sembuh. Kalian bisa pulang sekarang. Tak perlu ijin," jawab dokter itu melepas infusan Yumna dan menulis tulisan untuk memberi surat pulang.
***
Yumna sudah berada di Butik favoritnya dan berjalan mengelilingi rak pakaian untuk memilih baju yang pantas.
"Ada gak sih, baju yang simple, polos, dan warnanya pastel," tanay yumna yang sejak tadi belum menemukan apa yang ia cari sesuai keinginannya.
"Ini Kak. Ini model baru, dress selutut tanpa lengan dan hanya ada gambar bunga mawar merah di bagian bawah," ucap pelayan itu sambil memberikan dres berwarna hijau tosca itu.
Tatapn mata Yumna berbinar indaah. Baju dres itu sungguh cantik dan sangat elegant sekali.
"Itu bagus sayng. Coo untuk pergi ke acara wisuda. Cepet ganti dulu," titah Bunda Sinta pada Yumna.
Tepat sekali pilihan Yumna. Yumna keluar dari kamar ganti dengan baju baru itu. Sangat cantik dan benar -benar terlihat elegant sekali.
"Cantik Na. Ini bagus kok. Kak Duta pasti suka," ucap Bunda Sita memberi saran.
"Gak terlalu seksi? Ini keteknya kelihatan," ucap Yumna yang berkaca dengan penampilannya dengan sedikit ragu.
__ADS_1
Yumna selalu ingat kata -kata Duta, suaminya untuk sellau berpakaian rapi dan tidak seksi, bisa mengundang bahaya, apalagi jika tidak sedang bersama Duta.
"Kamu cantik. Duta pasti suka. Sudah yang itu saja. Kita belum ke salon, nanti kesiangan. Ini sudah jam delapan," ucap Bunda Sinta memberi tahu.
Yumna mengangguk setuju dan memilih baju yang sudah ia pakai. Lalu mencari salon untuk merias wajahnya agar terlihat lebih cantik lagi.
***
Duta sudah memakai jas hitam dan memakai baju wisuda serta toga. Langkahnya pelan menapak di koridor menuju lantai tiga ke tempat auditorium kampus. Suara riuh dan ramai semua orang yang sedang berbahagia karena hari ini adalah hari yang di tunggu karena ceremony yang palibng di tunggu.
Duta sengaja tak menoleh ke kanan dan ke kiri. Pikirannya kacau dan selalu mengingat Yumna, istrinya yang sejak sore tadi ia tinggal dan belum juga siuman.
Hatinya ingin slelau berada di dekat Yumna, tapi acara ini juga penting hingga Duta meminta ijin pada Bunda Sinta, mertuanya. Bunda Sinta juga menyarankan untuk tetap mengikuti ceremony kampus yang tak akan terulang lagi. Kalau ada sesuatu tentang Yumna, Bunda Sinta akan memberi kabar kepada Duta secepatnya.
Pagi ini, Duta memang belum menelpon mertuanya dan emnanyakan keadaan Yumna, istrinya. Sempat menanyakan lewat pesan singkat tapi belum di balas oleh mertuanya itu. Mungkin mertuanya sedang sibuk.
Duta mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan auditorium itu dan membaca satu per satu shaf per fakultasnya.
Bunda Gita dan Ayah Duta sudah masuk melalui pintu sayap kiri dari pintu kedatanagn tamu spesial. Padahal hari ini Duta sudah mempersiapkan tiga undangan, dua undangan dari kampus dan satu undangan ia beli VIP untuk Yumna, sang istri. Dutaa ingin kebahagiaannya hari ini bisa di lihat oleh sang istri. Semua pengorbanan dan pencapaiannya hanya ia berikan untuk Yumna dan calon bayinya.
Kedua mata Duta basah, ingin rasanya menangis sejadi -jadinya. Tapi itu tak mungkin ia lakukan. Duta tidak mungkin menunjukkan sisi rapuhnya tanpa kehadiran wanita yang sangat ia cintai dan ia sayangi itu.
__ADS_1
"Duta!!" teriak salah seorang temannya.
Duta melirik ke arah asal suara yang melambaikan tangannya lalu menunjukkan ibu jarinya pada Duta. Duta hanya membalas dengan senyuman saja. Duta tetap melangkahkan kakinya dan emncari tempat duduknya sesuai nomor ergistrasinya.