
Malam ini, Yuri sengaja menginap di apartemen Yumna. Selama ini. Yumna sudah berani tidur dan beraktivitas sendiri di kamar apartemennya secara mandiri.
Di balkon apartemennya, Yumna dan Yuri duduk bersantai di kursi goyang sambil menikmati cokelat hangat dan beberapa cemilan yang di bawa oleh Yuri untuk menemani obrolan santai mereka.
"Bersih nih rumah," kekeh Yuri pada Yumna.
"Bersih dong. Udah jadi istri nih, beresin rumah itu jadi makanan sehari -hari. Gak usah ribet deh," ucap Yumna pada Yuri sambil menyeruput cokelat hanagt buatannya.
"Gak cuma pinter bersih -bersih ya. Bikin cokelat hangat juga makin pinter," goda Yuri sambil menggoyangkan kursinya dengan kepala menengadah ke atas melihat langit malam yang penuh dengan bintang berkelap kelip sangat indah sekali.
__ADS_1
"Hah ... Itu sih gampang. Belajar dong, mau jadi istri harus serba bisa. Biar Kak Dafa itu makin cinta sama kamu, Ri," ucap Yumna sekenanya.
"Jihhh ... Kok jadi ngomongin Yuri sih. Nasib kamu gimana Na? Kok sekarang makin jarang berkomunikasi. Memang kamu gak kangen sama Kak Duta?" tanya Yuri menyelidik.
Yumna hanya menghembuskan napasnya dengan kasar dan tersenyum kecut. Soal ini tidak perlu di bahas dan di tanyakan juga kali. Tentu saja, Yumna itu kangen dan rindu. Walaupun Yumna tetap teguh pada pendiriannya agar Duta, suaminya yang meminta maaf kepada Yumna terlebih dulu karena sudah mengabaikan keinginan Yumna.
"Kangen pasti iya dong. Tapi, kaut -kuatan aja deh. Bunda Gita masih suka telepon sih dan kasih kabar kalau Kak Duta baik -baik saja. Yumna lagi mau fokus kuliah dulu aja, biar cepet selesai, dan Yumna bisa kembali ke Jepang lalu cari kerja di sana sambil menemani dan merawat Kak Duta," jawab Yumna penuh kekhlasan dan ketulusan.
Niat Yuri hanya ingin Yumna tidak merasa kesepian dan selalu merasa sendiri.
__ADS_1
"Yumna males. Malah pengen begini aja, jadi mahasiswi biasa saja. gak mau aneh- aneh, banyak musuhnya," tawa Yumna terkekeh. Yumna ingat kejadian dulu saat Duta masih menjadi Ketua BEM, lihat saja, ia harus menelan pil pahit karena cemburu dan di abaikan.
"Kemarin Bima nemuin aku, Na. Dia pengen kita kolaborasi, kamu jadi ketua dan aku jadi sekertaris. Kak Dafa juga ngasih ijin kalau aku mau masuk jajaran dalam struktur organisasi. Kak Dafa bahkan banyak ngajarin Yuri untuk menjadis eorang pemimpin, katanya jadikan sebuah pengalaman," ucap Yuri.
"Gak. Sekali gak tetap gak. Yumna itu sudah malas berinteraksi sama orang. Enak gini, kuliah terus pulang, ngerjain tugas sendiri atau kelompok di Kampus. No ribet tahu," ucap Yumna lantang.
"Ya udah. Kalau gak mau. Ekhemm ... Hati -hati, kayaknya Bima ada rasa sama kamu, Na," ucap Yuri mengingatkan.
"Nah itu dia, amkanya Yumna gak mau, Ri. Udah kebaca soal itu. Yumna gak mau bermain api, kalau sudah tersulut nanti bisa bakar semuanya. Yumna cuma latihan silent aja sama Kak Duta, tapi bukan berarti Yumna mau mengakhiri semuanya kan?" ucap Yumna pada Yuri.
__ADS_1
"Yuri salut sama kamu Na. Bisa kamu bertahan dengan keadaan seperti ini. Belum lagi menerima kondisi Kak Duta yang jauh dari kata sempurna saat ini," ucap Yuri memuji.
"Semua itu karena cinta. Cinta Yumna kepada Kak Duta itu tulus, no kaleng -kaleng. Jadi, apapun yang terjadi, Yuma akan tetap setia sama Kak Duta," ucap Yumna penuh rasa bahagia.