Duta & Yumna

Duta & Yumna
48


__ADS_3

Pertemuan sembilan orang di apartemen Duta terbilang cukup lama. Dari siang sebelum jam makan siang hingga sore sampai langit senja berubah kemerahan. Semua teman Duta sengaja pulang agak petang dan kondisi langit sudah menggelap.


"Sayang ... Na?" panggil Duta pada Yumna yang masih melungker di atas kasur dengan selimut bulu tipis menutupi seluruh tubuh Yumna hingga bagian leher. Yumna terlihat seperti ular piton yang sedang mencari tempat nyaman untuk memejamkan kedua matanya karena kekenyangan.


Duta melihat istri kecilnya sepertinya kelelahan karena melihat meja tugas untuk menggambarnya masih stay dengan lampu sorot. Sepertinya Yumna penat dan langsung istirahat. Duta tak mau mengganggu dan kembali ke dapur untuk membereskan cucian piring bekas tamunya tadi. Setidaknya Duta harus bisa berbagi tugas meringankan beban Yumna.


Tak hanya pandai membereskan rumah, Duta juga membuat sup jagung dan udang goreng tepung serta susu hangat untuk istrinya. Ini salah satu bukti rasa sayang dan rasa cinta Duta pada Yumna.


Setengah jam berkutat dengan pekerjaan dapur serta memasak. Duta sudah membawa nampan berisi satu mangkuk besar sup jangung, susu hangat, air jahe dan udang goreng tepung ke dalam kamarnya. Nampan besra itu di letakkan di atas nakas dan Duta duudk di tepi ranjang lalu mengusap lembut kepala Yumna.


"Na ... Sayang, bangun yuk. Udah malam ini, ada tugas gak? Nanti gak selesai lho," ucap Duta pelan lalu mengecup pipi Yumna dan tubuh Yumna terasa hangat. Duta memegang kening Yumna yang memang sedikit demam. Pantas saja menyelimuti tubuhnya, ternyata Yumna kedinginan dan menggigil.


"Na ... Yumna sayang? kamu sakit Na? Apa yang sakit? Kok badan kamu panas begini?" ucap Duta panik. Duta langsung mengambil baskom kecil dan mengisi dengan air untuk mengompres kening Yumna. Untuk smeentara hanya itu yang bisa Duta lakukan. Duta segera menelepon dokter keluarganya yang biasa memeriksa kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Eunghhh ... Jangan!! Tolong janagn Bima!!" teriak Yumna meracau dengan selimut yang terus di pegang dengan erat oleh Yumna.


"Na? Sayang? Kamu kenapa Na?" ucap Duta panik. paling tidak Duta sudah memanggil dokter dan paling tidak setengah jam lagi datang.


Tangan Duta terkepal erat mendenagr nama Bima lolos begitu saja dari bibir Yuma yang mulai memucat.


"Jangan sakit sayang. Kamu mau ujian, nanti malah repot, Na," bisik Duta terus menciumi wajah Yumna yang masih terasa panas di tangan Duta.


Duta menelepon Bunda Gita dan Ayahnya untuk memberitahu bahwa Yumna sedang sakit. Badannya panas dan terus emngigau. Tidak luap, Duta juga menelepon Bunda Sinta dan Papah Yumna serta kedua kakak laki lakinya yang teramat sangat kepo dengna kondisi adiknya.


"Duta sayang. Kamu sama Yumna itu sama. Kalian kalau jauh dan sakit, pasti panik, bingung, cemas. Yumna pasti gak apa -apa, mungkin kecapekan aja. Anak BUnda jangan di suruh kerja rodi tiap malam, jadinya lelah bin lemes tuh," goda Bunda Sinta pada Duta.


"Arghh ... Bunda bisa aja. Maklum anak muda, pengantin baru, dan udah lama gak ketemu. Wajar kan," ungkap Duta malu -malu.

__ADS_1


"Nah kan bener. Minum vitamin aja, banayk makan protein sama buah biar kembali fit. Salam Bunda buat Yumna ya," ucap Bunda Sinta menasehati.


"Iya Bunda. Bun ...," panggil Duta yang ingin bicara dengan Kak Jone atau Kak Dafa soal kampus. Tapi, ini bukan waktu yang tepat. Yumna sedang sakit, dan butuh dirinya. Tidak mungkin Duta kembali egois untuk memikirkan kampus. Ini namanya cari mati.


"Ada apa Ta?" tanya Bunda Sinta lembut.


"Arghh ... Tida apa -apa Bun. Nnati saja. Ekhemm itu ada tamu, mungkin dokternya usdah datang. Duta tutup ya teleponnya," ucap Duta pada ibu mertuanya.


Duta menutup teelpon itu dan meletakkan ponselnya di laci nakas sambil menatap wajah Yumna yang cantik dan terlihat pucat.


Ting!


Satu notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Yumna. Duta mengambil ponsel Yumna dan membukanya. Ada nomor baru yang tidak di save oleh Yumna. Nomor itu tanpa ada nama bawaan dan profilnya kosong. Nomor baru itu mengirimkan sebuah video mengerikan sekali. Ada sebuah paket yang berisi anak kucing dengan tubuh yangh berlumur darah. tidak hanya itu kepala anak kucing itu gepeng dan bagian dalam perutnya terurai keluar. Sungguh menyeramkan sekali.

__ADS_1


Duta meremas tangannya dan menulis nomor itu di sebuah kertas lalu memblokir nomor itu dan di hapus. Jangan sampai Yumna melihatnya karena bisa tambah stres lagi. Trauma lama tentang penusukan yang di lakukan Atika juga sepertinya belum sembuh total dari ingatan Yumna. Ini sudah ada darah lagi. Bisa mati berdiri lama -lama karena ketakutan.


"Kenapa? Kenapa harus Yumna yang di teror!! Kalau memang masalahnya dengan aku, lebih baik langsung ke aku bukan ke Yumna yang tidak tahu apa -apa!" ucap Duta kesal sekali. Wajahnya kesal penuh emosi.


__ADS_2