Duta & Yumna

Duta & Yumna
32


__ADS_3

Yumna terkejut tapi Yumna tak boleh lemah dan Yumna harus berpura -pura tegar dan siap menghadapi semua hal yang memang bakal terjadi.


Yumna tersenyum kecut menatap Lukas yang ada di depannya.


"Sudah lihat? Kaget? Bingung? Penasaran?" tanya Lukas pada Yumna.


"Sama sekali gak. Kamu gak perlu susah payah memfitnah Kak Duta seperti itu, Lukas. Yumna tidak akan pernah percaya," ucap Yumna lantang. Yumna memblaaikkan tubuhnya lagi dan pergi meninggalkan Lukas yang termangu menatap kepergian Yumna.


Yumna melangkahkan kakinya pelan seklai menuju gedung kampusnya yang tepat berada di sebelah bangunan kantin itu. Kakinya terasa lemas sekali setelah melihat gambar itu. Gambar yang sudah pasti membuat Yumna kecewa dan sakit hati. Siapa gadis itu? Senyumnya terlihat lepas sekali dan sangat bahagia.


Apa mungkin Kak Duta telah berkhianat dengan janji pernikahannya? Kalau iya, benar -benar jahat sekali. Tapi, kalau itu hanya sebuah setingan, tentu ada orang yang ingin melihat kehancuran rumah tangga Duta dan Yumna.

__ADS_1


Tak terasa air mata Yumna menetes ke pipi. Dengan cepat Yumna menyeka air mata itu agar tidak di lihat oleh beberapa mahasiswa lain yang kebetulan berjalan dan berpapasan dengan Yumna di sepanjang koridor kampus.


"Kenapa harus begini sih endingnya," ucap Yumna lirih sekali.


Pikiran Yumna kembali kacau dan tidak fokus. Tubuhnya enggan masuk ke dalam kelas Pak jarot pagi ini. Rasanya ingin berjalan -jalan ke mall dan mencari apapun yang Yumna sukai.


"Na ... Pak Jarot kosong, katanya di liburkan hari ini, nanti di ganti hari sabtu," ucap seseorang yang satu kelas dengan Yumna.


"Gak. Baru kirim pesan ke salah satu temen kita, katanya gak bisa hadir, dan tugasnya di kumpulkan di bagian pengajaran," ucap teman sekelasnya itu memberi tahu Yumna.


Kebetulan sekali, Yumna sedang malas masuk kelas. Dengan cepat Yumna kembali trun dan masuk ke bagian pengajaran untuk mengumpulkan tugas mata kuliahnya. Di sana sudah ada beberapa temannya yang sudah meletakkan tumpukan bendelan print out tugas mereka secara mandiri.

__ADS_1


"Arghh ... Tugas Yumna," ucap Yumna menatap lebaran tugasnya yang terjatuh dan berpencar di lantai.


"Maaf," ucap seseorang yang tak sengaja menabrak Yumna. Yumna sedang tidak fokus dan tatapannya tak lepas dari beberapa lembar tugas yang terbang agak menjauh dari tempat Yumna terjatuh dan hampir saja terinjak orang.


"Eitsss ... Jangan di injak. Itu tugas Yumna," teriak Yumna yang langsung memunguti semua tugasnya dan merapikan menjadi satu.


Yumna menumpuk tuga situ dan tatapannya lekat pada satu amplop yang ada di meja panjang. amplop itu Yumna ambildan di buka. Amplop itu berisi undangan malam pelepasan dan wisuda bulan depan. Tertulis nama mahasiswanya di sana Duta dengan NIM. 0xxxxx/TA.


"Kak Duta?" ucap Yumna lirih dan segera keluar mencari sosok Duta. Jika amplop itu ada di sana tentu, orang itu yang Yumna yakini Kak Duta belum lama keluar dari ruang pengajaran. Atau jangan -jangan orang yang tadi menabrak Yumna secara tidak sengaja. Orang itu memakai jaket hitam dan kaca mata hitam. Tapi ... Tidak mungkin itu Kak Duta. Bukankah Kak Duta masih ...


Yumna langsung berlari ke arah lobby dan berjalan hingga ke depan teras kampus yang biasa di sebut terminal kampus. Namun tidak ada orang yang Yumna cari. Lalu, Yumna berlari ke arah parkiran, mungkin saja orang yang Yumna cari itu ada di sana. Tapi, tidak juga.

__ADS_1


Lalu? Siapa dia sebenarnya? Benarkah itu Kak Duta? Kalau iya, kenapa tidak datang menemui Yumna? Tapi kalau bukan, kenapa tidakmenyuruh Yumna mengurus semuanya? Atau jangan- jangan soal foto tadi? Benar adanya?


__ADS_2