Duta & Yumna

Duta & Yumna
42


__ADS_3

Duta masih menatap Yumna dari arah samping yang masih melotota tak percaya. Bukan saja terlihat takut tapi sedikit cemas.


"Kamu kenal sama dia, Na?" tanya Duta pada Yumna yang masih diam membeku.


"Na? Kakak tanya sama kamu. Kamu kenal sama dia?" tanya Duta mengulang pertanyaannya.


"Eh ... Gak! Yumna gak kenal. Pergi Kak," ucap Yumna lantang. Yumna tak bisa membohongi dirinya sendiri. Walaupun Yumna sedang menutupi sesuatu hal dari Duta, tetap saja, Duta tahu kalau Yumna sedang berbohong.


"Kamu gak lagi bohongin Kakak kan?" tanya Duta pada Yumna.


Yumna menoleh ke arah Duta dan menatap lekat ke arah lelaki yang kini menjadi suaminya itu.


"Kak Duta gak percaya sama Yumna?" tanya Yumna ketus.

__ADS_1


"Percaya kok. Kakak kan cuma tanya saja. Kamu gak lagi bohongin Kakak kan?" ucap Duta santai dan tenang sambil menjalankan kembali mobilnya menuju kampus.


Yumna menyandarkan tubuhnya di jok mobil dan melipat dua tangannya di depan dadanya. Masih ada rasa panik yang terus menghantui perasaan Yumna. Yumna benar -benar takut jika kejadian itu terulang lagi. Apalagi, jika Duta tahu kalau dirinya pernah hampir akan di perlakukan dengan tidak baik oleh lelaki itu.


Tak terasa sudah sampai di halaman parkir kampus. Mobil Duta berhenti tepat di depan tangga maasuk dari arah samping. Yumna melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu mobilnya lalu keluar dari sana.


Duta mengunci mobilnya dan berjalan menghampiri Yumna lalu menggandeng istrinya dengan genggaman erat.


Duta sengaja tidak membahas soal Bima kepada Yumna. Duta hanya ingin, Yumna jujur pada Duta soal Bima.


Yumna menatap Yuri dan Duta bergantian. Ada yang aneh dan ganjal di sini.


"Kamu gak kaget Ri? Ini Kak Duta lho?" tanya Yumna menatap Yuri yang nampak biasa saja. Duta sendiri nampak bingung juga, kenapa Yuri tidak terlihat kaget.

__ADS_1


"Aku mesti ngomong apa, Na. Harus ngomong uwow gitu? Kan gak mungkin juga. Lagi pula, Kak Duta suami kamu, Na, milik kamu. Gak pantas dong, aku memuji berlebihan. Bener gak?" ucap Yuri menjelaskan dengan masuk akal sekali.


"Iya kamu benar Ri. Tapi, kok aneh banget sih," ucap Yumna lirih.


"Aneh gimana. Aku itu kaget tahu. Dari jauh tadi, mau nyapa takut salah. Tapi itu beneran kamu, Na. Kak Duta, selamat ya, mau wisuda? Cumlaude lagi, hebat banget sih," puji Yuri berlebihan.


"Lakik Yumna, gak usah muji berlebihan nanti hidungnya ngembang," ucap Yumna sedikit ketus sambil memutar kedua bola matanay malas.


"Nah kan? Cemburu kan? Tadi nyapa biasa aja, dikira gak peduli kalau Kak Duta sudah sembuh. Di puji malah bininya bingung. Tuh, Kak Duta, kelakuan istrinya begitu. Sebagai sahabat jadi serba salah. Untung mau jadi adek ipar, kudu sabar aku tuh," ucap Yuri terkekeh sambil mengusap dadanya berulang kali..


Duta tersenyum lalu tertawa dan mengusap bahu Yumna yang di rangkul mesra.


"Sayang ... Yuri tuh bener. Bukan berarti dia gak kaget lihat Kakak. Tapi menjaga perasaan kamu. Sudah kamu ke kelas, nanti telat, itu ada Yuri. Kakak mau ke tempat profesor di lantai tiga. Nanti berkabar aja, kalau kamu sudah keluar lebih dulu, bisa tunggu di kantin. Oke?" ucap Duta lembut lalu mengecup kening Yumna dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Aduh!! Pagi -pagi mata Yuri sudah terkontaminasi dengan kebucinan hakiki," ucap Yuri terkekeh sambil membalikkan tubuhnya untuk tidak melihat kemesraan sahabatnya itu.


__ADS_2