
Hari pertama bekerja memang lebih santai. Duta bisa pulang tepat waktu seusai jadwal yang di berikan oleh Om Wisnu.
Duta merapikan gambarnya dan meletakkan amket yang belum selesai di atas meja kerja ruangannya lalu bersiap untuk pulang ke rumah.
"Makan malam yuk? Aku yang traktir, sebagai salam persahabatan," ucap Herlanda pada Duta.
"Sorry. Aku udah ada janji. Lain waktu ya? Oke. Ekhemmm ... Om Wisnu kemana sih? Seharian ini gak ada balik ke kantor. Memang ada klien ya? Tapi kok pergi sendiri," tanya Duta merasa aneh.
Sekertaris Om Wisnu saja tidak pernah tahu, kemana Om Wisnu pergi.
"Ini bukan pemandangan aneh Pak Duta. Besok, lusa, atau lain hari, akan seperti ini setiap hari. Semua tugas kita yang kerjakan, termasuk ketemu klien," ucap Herlanda tertawa. Herlanda adalah karyawan senior. Tiga tingkat dari DUta, jadi sudah paham betul seluk beluk di dalam perusahaan ini.
Duta hanya mengangguk kecil dan tersenyum lebar. Lalu memegang tas kerjanya dan berdiri bersiap pulang.
Malam ini, Duta langsung mencari makanan yang ada di sepanjang jalan trotoar yang ia lewati. Memilihkan makanan untuk makan malam istrinya. Sejak siap, Duta tidak lagi berkomunikasi dengan Yumna. Terakhir berkomunikasi saat Yumna berada di kampus dan telah selesai mendaftar. Setelah itu Yumna hanya memberikan pesan singkat bahwa ia sudah akan pulang tetapi bertemu teman SMA -nya dan akan makan di sebuah kafe tepat di depan kampusnya.
__ADS_1
Duta membelikan makanan khas indonesia yang ada di pinggir jalan itu. Kebetulan ada food truck dan tertulis makanan khas indonesia. Ada beragam variasi sayur dan jenis lauk pauk. Duta kepikiran Yumna pasti belum terbiasa dengan makanan yang ada di negara ini.
Duta membeli kwetiau goreng dan bakso bakar. Duta kembali pulang setelah pesanannya selesai.
***
Yumna menutup tirai jendela arah samping yang jelas menatap ke arah rumah milik Ibu Maheswari.
Tadi siang, setelah Yumna pulang dari kampus. Yumna kembali melihat mobil yang sama ada di depan rumah Maheswari. Kebetulan letak rumah Maheswari ini berada di tikungan dan tidak memiliki tetangga kecuali Yumna yang kini menempati paviliunnya.
Jelas sekali, Maheswari menyambut ramah dengan senyum manis dan pelukan hangat serta kecupan di bibir lelaki yang sudah tua itu. Keduanya bergandengan dan amsuk ke dalam rumah.
Tidak ada kecurigaan apapun dalam pikiran Yumna. Cuma memang merasa ada yang janggal saja. Sekilas ia melihat penumpang yang ada di mobil itu siang tadi adalah lelaki.
"Selamat malam, sayang. Heii ... Ngapain kamu ngintip -ngintip. Suami baru pulang kerja. Capek lho, Na. Bukannya di sambut," ucap Duta pada Yumna.
__ADS_1
"Ehhh ... Maaf Kak Duta. Cuma lihat tadi ada mobil masuk, gak tahunya suami Ibu Maheswari, mereka masih mesra dan sangat romantis banget. Jadi iri," ucap Yumna terkekeh.
"Hemmm ... Jangan suka membandingkan orang, Na. Kita jalani saja yang sedang kita jalani. ang terpenting, yang kita jalani ini penuh kejujuran dan ketulusan, bukan kepura -puraan," ucap Duta menasehati.
Deg!!
Deg!!
Dada Yumna langsung berdegup keras. Selesai mencium punggung tangan Duta. Kata -kata Duta mulai membuat Yumna terusik.
"Ehemm ... Kak Duta bawa apa?" tanay Yumna duduk di samping Duta yang sedang melepas sepatu kerjanya.
"Kwetiauw goreng sama cemilan bakso bakar. Suka kan? Mau makan sekarang? Atau Kakak boleh mandi dulu?" tanay Duta pada Yumna.
"Kakak mandi dulu deh. Bau kecut juga. Biar Yumna siapin makanannya di piring sekalian Yumna buatin kopi hitam. Gimana?" ucap Yumna dengan ide baik.
__ADS_1