Duta & Yumna

Duta & Yumna
72


__ADS_3

Duta membawa Yumna di taman rumah sakit dan berhenti di salah satu sudut taman yang penuh dengan bunga dan dapat melihat air mancur itu terus mengucurkan airnya ke bawah. Terlihat sangat indah dan membuat mata dan hati menjadi adem.


Yumna menatap ke arah air mancur itutanpa berkedip. Dari bola matanya yang indah terlihat tatapan Yumna kosong.


"Bagus ya?" ucap Duta yang duudk di samping Yumna sambil melirik ke arah istri kecilnya itu.


Tak ada jawaban dari Yumna. Kedua mata Yumna masih fokus pada air mancur itu dan tangannya bergerak seperti ingin menyentuh air di kolam itu.


Duta melihat Yumna yang ingin berdiri dan berjalan ke arah kolam. Duta memegang tangan Yumna dan membantu Yumna untuk berjalan menuju kolam air mancur itu tanpa banyak bicara.


Duta menuntun Yumna sambil membawa infusan dan terus duduk di pinggiran kolam. Yumna memgang air kolam yang dingin dan tubuhnya bergidik merinding karena dinginnya air kolam itu.


"Dingin ya? Padahal ada sinar matahari. Kmau suka?" tanya Duta pada Yumna yang hanya sekilas menatap Duta dan kembali memainkan air kolam tersebut tanpa sepatah kata pun.


Duta hanya membuang napasnya dengan pelan. Rasanya sungguh tak enak seperti ini terus menerus. Berada di dekat seseorang yang ia cintai tapi sama sekali tak ada artinya. Begini? Apakah ini yang di raskan Yumna dulu?

__ADS_1


Duta terus menatap wajah Yumna yang cantik alami. Mau sampai kapan seperti ini terus? Setiap hari harus mengurus Yumna dengan keadaan yang sama sekali tak bisa mengenali Duta. Entah Duta di anggap apa oleh Yumna saat ini.


"Mau berputar lagi? Atau mau di sini?" tanay Duta lembut.


"Di sini saja," jawab Yumna singkat dan tetap memainkan air denagn tangannya. Yumna seperti kembali menjadi anak kecil dan ingin bermain terus.


Duta tak bisa berkutik dan meletakkan infusan itudi pinggiran kolam lalu membuka makanan miliknya dan mulai menikmatinya dengan udara sore yang sepoi -sepoi.


Yumna melirik ke arah Duta yang asyik denagn keripik singkongnya.


Duta lebih cepat mengambilkan keripik itu lalu menyuapi Yumna.


"Ini kakak suapi saja, biar atanagnmu tidak kotor. Gimana enak?" tanya Duta pada Yumna yang terlihat kaget dan emnerima keripik itu allu mengunyahnya sambil mengangguk -anggukkan kepalanya.


"Enak banget. Mau lagi," pinta Yumna datar.

__ADS_1


Senyum Duta terbit. Duta semakin duduk mendekat dnegan Yumna dan menyuapi gadis pujaannya itu. Melihat wajahnya saja, Duta sudah bahagia, apalgi bisa menemani setiap hari selama dua puluh empat jam penuh.


"Udah. Yumna mual ... Huekk ... Huek ...." Yumna terus ingin memuntahkan isi perutnya tapi tidak bisa.


"Na ... Kamu kenapa? Kita kembali ke kamar saja ya? Takutnya kamu gak cocok sama udara sore dan kamu masuk angin," ucap Duta panik.


"Aku mau masih mau disini," ucap Yumna ketus.


"Tapi, kamu mual kan, itu masuk angin," ucap Duta mendekati Yumna dan memberikan sweaternya agar Yumna tetap merasa hangat.


"Makasih. Aku gak apa -apa kok, cuma mual biasa," ucap Yumna pelan masih tetap bermain air.


"Iya. Tapi makan juga ya, biar gak sakit," pintaa Duta pada Yumna.


"Iya," jawab Yumna singkat tanpa menatap Duta dan fokus memainkan air di kolam itu.

__ADS_1


"Haiiiii ... Duta ... Yumna!!" sapa Lita dengan wajah sumringah membuat Duta terkejut dengan kedatangan semau teman -temannya kecuali Yumna yang sama sekali tidak menoleh ke arah teman -teman Duta malah asyik bermain air.


__ADS_2