Duta & Yumna

Duta & Yumna
109


__ADS_3

Pagi ini setelah kedua kakaknya pergi bekerja. Yumna baru turun kembali ke bawah menuju ruang makan dan melanjutkan sarapan paginya. Kebetulan Bunda Sinta juga sedang membuat adonan kue untuk pesanan tetangga di kompleks rumah.


"Na? Mau makan apa? Biar Bunda masakkin?" tanya Bunda Sinta pada Yumna.


"Gak usah Bunda. Makan roti aja. Nick mau jemput juga," ucap Yumna yang memang sudah terlihat rapi tapi tanpa membawa tas speerti biasanya.


"Kamu mau pergi?" tanya Bunda Sinta lirih.


"Iya Bunda," jawab Yumna dengan mulut penuh dengan roti.


Bunda Sinta pun meletakkan alat pengocok telur dan berjalan menghampiri Yumna.


"Na ... Kamu pergi sudah ijin sama Duta?" tanay Bunda lembut meletakkan kembali susu hamil Yumna yang belum habis tadi.


"Perlu? Gak perlu juga kan? Buat apa?" ucap Yumna ketus.


"Biar bagaimana pun, Duta itu suami kamu, Na. Kamu harus tetap hormat," ucap Bunda Sinta menasehati.


"Hormat pada suami yang gak menghargai posisinya sebagai menantu? Masih pantas? Kalau sekarang Yumna di suruh pilih, maka Yumna pilih untuk bercerai," ucap Yumna lantang.


Belum juga tema pembahasan antara ibu dan anak itu selesai. Suara mobil sport Nick sudah berada di halaman dan membunyikan klaksonnya.


Tin ... Tin ... Tin ...

__ADS_1


Yumna menoleh ke arah depan yang jaraknya jauh. memang tidak terlihat jelas tapi bayangan mobil cukup jelas menutupi sinar matahari yang masuk ke dalam rumah memalui jendela.


"Yumna berangkat dulu ya Bun. Cuma mau jalan -jalan aja ke Pantai," ucap Yumna langsung berdiri dan mencium punggung tangan Bunda Sinta.


"Ya hati -hati. Bilang Nick, pelan -pelan bawa mobilnya," titah Bunda Sinta pada Yumna.


Yumna bergegas pergi meninggalkan rumah dan masuk ke dalam mobil.


"Haii ... Kok mukanya murung gitu bumil cantik ini? Mau ke Pantai kan?" tanya Nick yang selalu bersemangat jika pergi bersama Yumna.


"Jadi dong," jawab Yumn aberusaha memberikan senyum ramah pada Nick. Yumna langsung duduk manis dan memasang sabuk pengaman.


"Ini jajanan untuk ibu hamil biar gak kelaparan dedek bayinya selama perjalanan," ucap Nick dengan senyum tulus memberikan satu plastik besar berisi cemilan.


"Gak apa -apa, Na. Aku peduli sama kamu dan kesehatan bayi kamu," ucap Nick tersenyum lalu melajukan mobilnya dan segera keluar dari rumah Yumna.


Bunda Sinta menatap mobil Nick yang sudah pergi menghilang dari pandangannya. Dengan cepat, Bunda Sinta menghubungi Duta.


***


Ponsel Duta bergetar beberapa kali. Di layar ponselnya tertera nama Bunda Sinta, nama mertuanya yang meneleponnya. Duta cemas dan terlihat panik. Tapi ia tidak bisa mengangkat telepon di situasi sedang rapat dengan klien besar.


Herlandan nampak melirik ke arah Duta dan memajukan duudknya untuk melihat ke layar ponsel Duta yang mengerjap menyalakan lampu.

__ADS_1


Dua jam kemudian, Duta menelepon kembali Bunda Sinta. Tapi kali ini, Bunda Sinta juga tak mengangkat karena sibuk di dapur.


Duta mencoba menelepon Yumna, tapi lagi -lagi ponsel itu tidak aktif. Duta semakin cemas dan menelepon Kak Jone.


"Ta? Kenapa? Ada apa?" tanya Jone kaget.


"Ekhemm .. Tadi Bunda telepon, tapi gak ke angkat Kak. Duta lagi rapat. Ada apa ya? Tadi di telepon balik malah gak di angkat juga sama Bunda. Ponsel Yumna juga gak aktif," tanya Duta cemas.


"Ekhmmm ... Kurang tahu ya, Ta. Sebenarnya loe sama Yumna ada masalah apa?" tanya Jone tiba -tiba memberanikan diri bertanya pada Duta.


"Ada masalah apa? Gak ada masalah apa -apa," ucap Duta memastikan dengan penuh keyakinan.


"Beneran gak ada apa -apa?" tanya Jone masih tak percaya.


"Bener Kak. Gak ada apa -apa. Cuma emang Yumna akhir -akhir ini sulit di hubungi. Kebetulan Duta juga sibuk sama kerjaan," ucap Duta menjelasakan duduk perkaranya.


"Kapan loe bisa ke INdonesia buat jemput istri loe? Gak mungkin kan, kalian berjauhan kayak gini," ucap Jone memberi saran.


"Duta belum bisa cuti Kak. Waktu Yumna bilang gak mau balik ke Paris dan emmilih tinggal sama Bunda, ya Duta pasrah aja. Uang bulanan juga sudah Duta transfer buat periksa kandungan dan jajan Yumna," ucap Duta lirih.


"Gue cuma gak mau loe sama Yumna ada salah paham. Apalagi kalau loe sampe ada pihak ketiga. Loe lawannnya sama gue!" tegas Jone pada Duta.


"Gak ada Kak. Beneran," ucap Duta tergagap sendiri.

__ADS_1


"Gue ada bukti. Ntar gue kirim ke nomor loe!" tegas JOne menutup ponselnya dan segera membuka amplop cokelat berisi foto -foto Duta adenagn seorang wanita.


__ADS_2