Duta & Yumna

Duta & Yumna
11


__ADS_3

Yumna membuka ponselnya dan mulai mencari aplikasi GPS dan mengetikkan sebuah nama alamat yang tertulis di surat itu. Yumna ingin memastikan jika alamat itu benar adanya dan dimana letaknya. Ini Negara Jepang, dan Yumna baru pertama kali ke negara ini. Yuri tak ada entah pergi kemana tak berpamitan.


Yumna menatap pencarian alamat itu dan muncul di layar ponselnya. Jaraknya tidak jauh dengan apartemen milik Duta yang saat ini di tempati Yumna. Kalau berjalan kaki sekitar lima belas menit. Dari ujung jalan belok ke kiri dan terus ketemu lampu merah lalu ke arah kanan sedikit. melihat jalan peta yang tidak jauh, Yumna memilih berjalan ke tempat tujuan.


Dengan tubuh mungil yang masih lelah karena melewati perjalanan panjang, Yumna menembus udara dingin di hari yang sudah gelap itu. Tubuhnya haanya di tutupi jaket yang tidak tebal tapi cukuplah untuk menerjang hawa dingin yang sedang di alamai Negeri sakura itu.


Degub jantung Yumna semakin berdetak keras dan dadanya terus berdebar semakin kencang. Ada rasa bingung, cemas, panik, was -was, dan entah apalagi yang di rasakan Yumna saat ini. Senang, sedih, kesal, menyesal, semua rasa itu bercampur menjadi satu.


Langkah kaki Yumna kecil namun berjalan cepat sekali dengan tatapan kedua mata tak lepas dari layar ponselnya. Tempat macam apa yang akan Yumna kunjungi karena semuanya tidak jelas.


Sampai di ujung gang ke arah kanan, Yumna tidak menemukan jalan lagi. Jalan itu buntu dan di sekelilingnya hanya ada bangunan tinggi. Yumna seperti terjebak dan salah arah. Yumna berbalik dan menatap ke arah atas. Tanpa senagaja membaca papan nama bangunan tinggi yang ada di sebelahnya.


Yumna mengeja sekali lagi papan nama tersebut. Tepat sekali, ini adalah bangunan yang ia cari. Nama bangunan ini sesuai dengan nama yang tertulis di surat itu. Sakura Lovers. Entah tempat apa itu yang jelas terlihat sangat sepi.


"Ini benar gak sih? Jangan -jangan aku hanya di tipu," umpat Yumna yang ragu untuk masuk ke dalam.


Tapi, rasa ingin tahunya begitu besar. Yumna memilih masuk ke dalam bangunan itu dan menaikin beberapa anak tangga hingga mencapai di lantai atas. Bangungan itu tidak tinggi hanya terdiri dari tiga lantai saja. Yumna masuk adri arah belakang gedung. Sebenarnya gedung itu adalah sebuah restaurant besar dan cukup terkenal.


Yumna menaiki tangga dengan perasaan ragu dan semakin takut saja. Napasnya terus memburu dan semakin melangkah naik, semakin tersasa ngos -ngosan.


Yumna berdiri di depan pintu kaca dan terlihat sosok lelaki yang sedang duduk manis menatap ke arah bawah melihat gemerlapnya lampu yang begitu indah mewarnai kota. Entah Duta memang sedang memandang keindahan kota itu atau Duta hanya melamun karena memikirkan Yumna.


ceklek ...


Suara pintu kaca di buka dan terdengar decitan pintu di buka. Detak jantung Duta semakin terasa begitu keras sekali. Ia tahu, Yumna, istrinya telah datang. Yumna pasti datang untuk menemuinya, tapi masalahnya sekarang, kondisinya yang seperti ini bisa di terima atau tidak oleh Yumna.


Langkah kaki Yumna pelan berjalan menghampiri Duta yang duduk sambil berpegangan pada pagar pembatas yang ada di atas.


"Kak Duta ...." panggil Yumna dengan suara pelan sekali. Yumna ragu takut salah orang. Tapi kalau di lihat perawakannya sungguhlah benar, sosok lelaki yang ada di depannya adalah Duta, suaminya. Dari postur tubuhnya, tegapnya, punggung, dan cara duduknya.

__ADS_1


Tubuh Duta di tutup pakaian yang sedikit tebal. Kakinya juga di tutup sepatu boot khusus untuk musim dingin. Lehernya juga di tutupi slayer. Itu yang Yumna lihat dari tampak belakang.


Duta sudah membuka mulutnya dan ingin bersuara menjawab sapaan Yumna yang sudah terlebih dahulu memanggil namanya. Tapi, Yumna sudah berjalan menuju dinding pagar pembatas dan berdiri sambil memegang teralis besi itu tanpa menoleh ke arah Duta.


Duta memejamkan kedua matanay dan emarsakan aroma wangi tubuh Yumna yang khas dan selalu Duta ingat di otaknya.


"Yumna ...." panggil Duta lirih dan sangat lembut. Suara Duta nampak sekali hati -hati.


Yumna baru menoleh ke arah Duta setelah yakin, bahwa itu Duta, suaminya. Duta menunduk dengan kaca mata hitam dan duduk di atas kursi roda denagn tangannya kini memegang remote pada kursi roda itu.


Yumna menatap Duta yang menunduk dan lihat kursi yang ia lihat dari jauh itu adalah kursi roda bukan kursi biasa. Yumna hanya fokus pada meja makan untuk dinner malam ini yang ada di dekat Duta. Yumna pikir, ini adalah kejuta, surprise. Tapi, malah dirinya yang terkejut.


Yumna berjalan menghampiri Duta yang terus menunduk. Yumna berjongkok dan memegang kedua lutut Duta. Pandanagn Yumna tak bisa lepas dari ujung kepala Duta hingga ke bagian bawah kakinya.


"Kak Duta kenapa?" tanya Yumna lirih.


"Kak Duta?" panggil Yumna kembali.


Tangan Yumna terulur untu memegang wajah Duta yang menunduk. Duta hanya diam saat Yumna menaikkan dagu Duta agar wajahnya terangkat dan keduanya saling berhadapan. Air mata Duta juga sudah mengalir di pipinya.


"Kak Duta kenapa? Kenapa Kak?" tanya Yumna pelan sekali. Yumna masih tidak bisa menyembunyikan isak tangisnya.


"Na ...." jawab Duta sambil menelan air liurnya. Tangan Duta mencari tangan Yumna yang memegang lututnya dan di genggam erat.


Punggung tangan Yumna di cium oleh Duta. Duta ingin meminta maaf pada Yumna.


"Kenapa Kakak gak bilang? Ada sebenarnya Kak?" tanya Yumna kembali sambil menatap Duta.


"Ceritanya panjang Na. Panjang sekali. Kamu malu, Na?" tanya Duta pada Yumna.

__ADS_1


"Malu? Malu kenapa? Karena Kak Duta berada di kursi roda? Yumna sama sekali gak malu. Malahan Yumna mau rawat Kak Duta biar cepat sembuh, biar kita sama -sama lagi kayak dulu, dan menggapai impian kita memliki rumah sederhana dan unik serta anak yang lucu -lucu. Itu impian kita kan kak? Impian yang kita bangun sebelum Kak Duta berangkat ke Jepang. Yumna mau mewujudkan impian itu," ucap Yumna tergagap dan sesegukan. Sesekali Yumna mengehla napas pendek untuk bisa melanjutkan ucapannya.


"Impian kita sepertinya akan runtuh Na. Kakak bukan lelaki sempurna seperti dulu," ucap Duta pelan.


"Tidak sempurna? Kak? Ini kaki Kakak ada dua? Pasti Kakak bisa berjalan lagi. Sebenarnya ini kenapa Kak? Kenapa bisa sampai begini," tanay Yumna masih penasaran dan bingung.


Duta mengehal napas panjang dan mencoba tetap tenang.


"Kak Duta ... Yumna rindu," ucap Yumna memeluk tubuh Duta dengan erat.


Duta yang kaget dengan pergerakan Yumna pun samapi etrkejut hingga kaca mata hitamnya terlepas dari kedua matanya.


"Sekarang ada Yumna, Kak. Kita bisa melihat bintang di langit bersama," ucap Yumna lirih.


Sejak dulu, Duta paling suka menatap bintang di langit bersama Yumna. Saat ini dan malam ini begitu banyak taburan bintang.


Yumna mengendurkan pelukannya dan menatap Duta, suaminya tanpa kaca mata hitam. Tatapan Duta kosong dan tak berarah.


Yumna menatap Duta dengan bingung dan mengibaskan satu tangannya ke depan wajah Duta dan Duta tak berkedip.


Saat itulah air mata Yumna kembali jatuh dan tak kuasa menahan sakit serta kecewa di hatinya.


Yumna berdiri melepas semua genggaman tangan itu dan berjalan mundur menjauhi Duta.


"Na ... Kamu mau kemana?" panggil Duta mencari Yumna denagn kedua tangannya meraba -raba.


Yumna menutup mulutnya dan memejamkan kedua matanya.


"Kamu mau pergi? Pergilah yang jauh, Na. Sejauh kamu bisa pergi dan tinggalkan Kakak. Kakak tahu, hal ini pasti akan terjadi. Kakak tahu, kamu malu kan, punya suami buta," ucap Duta menangis.

__ADS_1


__ADS_2