Duta & Yumna

Duta & Yumna
21


__ADS_3

"Mbak ambil ya," rengek Joko, OB kampus yang terus mencoba merayu Yumna untuk menerima buket bunga mawar merah itu.


Yumna jadi tidak selera makan. Ia kembali membungkus makanannya dan di masukkan ke dalam tasnya. Yumna memilih berdiri dan berpura -pura hendak akan ke kamar mandi, Yumna melewati Joko begitu saja, tanpa satu patah kata pun.


"Mbak ... terima dong. Apa susahnya sih," pinta Joko terus mengejar Yumna yang mulai risih dengan kehadiran serta rengekan Joko.


Yumna mempercepat langkahnya dan masuk ke dalam toilet wanit. Tidak mungkin kan, Joko akn ikut ke dalam. Paling juga akan nunggu di depan toilet. Yumna yang sebenarnya tidak ingin buang hajat dan hanya ingin menghindari rengekan Joko saja berjalan menuju wastafel dan menatap wajahnya di snaa. Wajah lelah dan kedua mata sayu karena harus begadang beberapa malam ini untuk membuat gambar berakhir dengan maket.


Semester ini benar -benar melelahkan sekali. Bukan saja ambil mata kuliah full time tapi juga tugas dan kuis dadakan begitu membuat Yumna merasa penat.


Setengah jam sudah Yumna berada di dalam kamar mandi. Maket yang akan di berikan kepada dosennya tertinggal di kursi tunggu tadi. Lebih tepatnya memang tadi terburu -buru jadi sengaja di tinggal.


Yumna keluar dari toilet, dan menoleh ke arah kiri lau ke kanan untuk melihat OB gila tadi. Nampaknya sudah sepi dan sama sekali tidak ada orang. Yumna keluar dari toilet lalu berjalan lagi menuju kursi tunggu. Maket yang di letakkan di sana tidak ada.


"Kok bisa gak ada sih? Udah ada namnya padahal. Iseng banget yang ambil," umpat Yumna kesal.


"Kamu cari ini?" tanya Bima yang sudah berdiri di belakang Yumna membuat Yumna kagete dan membalikkan tubuhnya yang kini berhadapan dengan Bima.

__ADS_1


"Bi -Bima? Ngapain ada di sini? Fakultas kamu kan di gedung sebelah," ucap Yumna menatap maket yang sudah ada di tangan Bima.


"Memangnya ada yang melarang kalau beda fakultas gak boleh berkunjung ke fakultas lain?" tanya Bima dengan senyum lebar.


"Gak ada yang melarang sih. But the way, itu maket Yumna," ucap Yumna pelan ingin mengambil kembali maket miliknya.


"Eitts ... Aku yang nemuin lho. Kalau mau ambil maket ini, harus terima tawaran aku," ucap Bima pada Yumna.


Yumna mendesah kesal. Bisa -bisanya Yumna terjebak dengan lelaki macam Bima.


"Lembut dikit jadi perempuan," pinta Bima pada Yumna.


"Ngerti gak sih. Yumna ini lagi males berdebat. Cepet bilang tawaran apa?" tanya Yumna mulai kesal sendiri.


"Oke. Pertama, terima undangan VIP untuk nonton finala klub basket aku di GOR. Kedua, terima bunga ini," pinta Bima pada Yumna. Yumna mebelalakkan kedua matanay melihat buket mawar merah tadi yang di bawa oleh Joko. Yumna hanya menerka, jadi Bima adalah tersangkanya.


"Itu bungan dari kamu?" tanya Yumna pada Bima dengan ketus.

__ADS_1


"Bukankah aku yang pegang? Tentu dari kau dong," ucap Bima mencovba meyakinkan Yumna.


"Kamu yang bayar OB tadi untuk merengek memberikan bunga itu untuk Yumna?" tanya Yumna semakin ketus.


Kini berganti Bima yang melongo bingung menatap Yumna. Bukan Bima namanya kalau tidak bisa bermain drama.


"Jadi mau terima dua tawaran aku demi maket kamu? Atau menolak dan maket ini ...." ucapan Bima langsung di sela Yumna.


"Ambil saja maketnya. Dari pada Yumna harus terima dua tawaran kamu yang gak masuk akal itu," ketus Yumna.


"Sombong banget kamu jadi perempuan, Na!! Sok cantik tahu gak sih!!" ucap Bima membalas ucapan Yumna dengan ketus juga.


"Kamu yang gak tahu diri Bim. Bukankah kamu tahu, Yumna ini sudah menikah. Masih saja deketin Yumna, buat apa?" tanya Yumna pada Bima dengan wajah serius.


Bima tertawa keras hingga menggema di sepanjang koridor yang sepi itu..


"Kamu kira untuk apa aku deketin kamu?" ucap Bima dengan wajah yang mendekat ke wajah Yumna.

__ADS_1


__ADS_2