
Duta masuk ke dalam kamar utamanya dan akan membangunkan Yumna. Perlahan Duta beringsut naik ke atas kasur dan menciumi wajah Yumna dengan gemas. Tangannya menggenggam erat tangan Yumna dan ikiut di ciumi dengan penuh kasih sayang.
Yumna sudah terbangun saat Duta naik ke atas kasur. Tapi, kedua mata Yumna sengaja di pejamkan agar Duta mengira dirinya masih pulas tertidur.
"Sayang ... Bangun dong. Kita pindah tempat yuk? Biar suasananya beda aja," cicit Duta lirih bicara lembut pada Yumna.
"Pindah kemana?" jawab Yumna tiba -tiba membuka kedua matanya hingga Duta terbelalak kaget melihat Yumna yang langsung terkekeh.
"Ya ampun sayang, Kakak kaget setengah mati ini. Kirain beneran tidur, gak tahunya sudah bangun. Sejak kapan kamu bangun, sayang?" tanya Duta pada Yumna.
"Sejak Kakak masuk kamar, pas banget Yumna lagi haus," ucap Yumna pada Duta.
"Huhhh ... Untung saja jantung Kakak masih sehat dan baik. Kalau gak, mungkin Kakak udah kena serangan jantung perlu di evakuasi," tawa Duta renyah menggoda istrinya.
"Kok di evakuasi sih? Itu sih buat korban bencana alam. Kalau Kakak jantungnya kudu di amputasi," ledek Yumna terkekeh.
"Lha kok di amputasi? Memangnya jantung Kakak luka? Atau patah?" tanya Duta bingung.
"Biar patah, biar gak bisa kemana -mana dan tetap bersama Yumna selamanya," cicit Yumna lirih.
__ADS_1
"Sudah bikin candu kamu itu Na. Kakak udah gak bisa lagi kemana -mana. Masih belum yakin sama Kakak?" tanya Duta pada Yumna.
"Percaya kok. Oh iya, Kita mau pindah kemana kak?" tanya Yumna pada Duta.
"Di kamar atas. Gak apa -apa, Kan?" tanya Duta pada Yumna.
"Memang kenapa? SAmpai harus pindah?" tanay Yumna bingung.
"Kakak ingin suasana baru. Kita cari kamar dengan view yang lebih indah. Lagi di persiapkan. Cuma gak bisa pakai nama Kakak, harus pakai nama kamu. Boleh kan? Kakak pinjam identitas kamu ya, Na?" tanya Duta pada Yumna.
"Boleh Kak. Pakai aja. Terus? Barang -barang kita?" tanya Yumna pelan.
"Sebenarnya ada apa sih Kak? Kok kayak serius banget?" tanya Yumna pada Duta.
"Gak ada apa -apa. Yuk, kita beres -beres sekarang," titah Duta pada Yumna.
Yumna hanya mengangguk pasrah dan Duta langsung membantu Yumna merapikan barang -barang pribadinya yang penting saja.
"Ta ... Duta, ayo Ta," titah Ega mengetuk pintu kamar Duta.
__ADS_1
"Itu temen -temen Kakak? Gak pada pulang?" tanya Yumna bingung.
"Gak. Mereka akan tinggal bersama kita. Gak apa -apa kan?" tanay Duta memeluk Yumna.
Yumna tak membalas pelukan Duta, malah melepaskan pelukan itu dan mendorong tubuh Duta ke belakang.
"Sebenarnya ada apa sih Kak? Jangan bercanda sama Yumna! Yumna gak suka di bohongi," teriak Yumna kesal.
"Nanti kalau sudah pindah, Kakak jelaskan semuanya. I'm promise Na. Tolong mengerti dan turuti kata -kata Kakak, kalau kita mau selamat semuanya," ucap Duta lirih.
"Kalau mau selamat? Kak!! Ada apa? Kakak melakukan hal apa lagi? Yumna harus kehilangan Kakak lagi?" teriak Yumna kesal.
"Gak Na!! Demi Tuhan, Kakak tidak akan pernah meninggalkan kamu!! Ada hal lain yang masih abu -abu, dan Kakak belum bisa memastikan apapun, Na. Ikuti dulu, nanti Kakak jelaskan. Ayo Na, waktu kita gak banyak," tegas Duta sambil membawa paper bag besar dan membawa laptop, HP, Charger, dan beberapa pakaian saja.
Yumna hanya mengangguk pasrah dan mengikuti Duta.
"Ikut sama Lita. Bawa ini Ega, kalian langsung kesana. Fi, Mesh, Tolong cek lagi biar gak kelihatan kita pergi dan wajar," ucap Duta.
Yumna masih bingung saat Lita, Ega dan Ferdi membawanya naik menggunakan tangga evakuasi menuju lantai tujuh. Duta sengaja memilih tempat yang jauh dari kamarnya. Di sana sudah ada Ariel dan Andrew yang sedang merapikan tempat dan mengisi makanan serta minuman yang ia beli di mini market terdekat dengan menggunakan jasa toko untuk mengantarkan ke unit mereka.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa sih? Kokmkesannya buru -buru banget?" tanya Yumna pada Lita.