Duta & Yumna

Duta & Yumna
16


__ADS_3

"Duta ... Tapi saya mengenal baik kamu. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan kamu. Mungkin ini peluang baik untuk kamu, agar kamu bisa melihat lagi," ucap perempuan itu dengan suara lantang saat tahu Duta pergi begitu saja.


Duta tidak mudah percaya dengan orang lain saat ini. Ia memilih diam dan tak banyak bicara atau mengumbar perkenalan. Duta hanya ingin fokus pada kesembuhannya dan mencari donor amta yang tulus ikhlas untuknya.


Langkah Duta terhenti dan mendengarkan setiap ucapan lantang perempuan itu.


"Siapa anda sebenarnya?" tanya Duta dengan suara tak kalah lantang.


"Kita bicara di tempat lain? Bisa? Ada seseorang yang ingin menemui kamu juga, Duta," ucap perempuan itu pelan.


"Siapa? Aku tidak lagi terjebak pada hal -hal yang malah menyusahkan aku nantinya. Siapa orang yang ingin menemui aku?" tanya Duta dengan suara keras dan penasaran.


"Lukas? Kamu kenal Lukas?" tanya perempuan itu dengan suara lembut yang terdengar semakin mendekat pada Duta. Duta hanya bisa merasakan dari pergerakan dan angin yang melewatinya.


Duta kembali terdiam. Lukas? Ya, lelaki yang selama ini dekat dan selalu ingin mendekati Yumna, istrinya. Tentu Duta mengingat sosok Luaks, bagaimana ketampanan Lukas, kepintaran Lukas di Kampus dan bagaimana cara Lukas menatap Yumna selama ini dan itu betul -betul terpatri di memori otaknya. Itu yang membuat Duta selalu cemburu pada sosok Lukas, dan membatasi Yumna untuk bermain dan berinteraksi dengan Lukas.


"Lukas? Ya, di adik tingkatku. Tepatnya teman se -kelas Yumna, istriku," tegas Duta memberitahu hubungannya dengan Yumna dan Lukas seperti apa.


"Hemmm ... Yumna? Wanita cantik yang selalu di ceritakan Lukas? Ohh ... Yumna itu istri kamu? Hebat sekali, ternyata kalian mencinati orang yang sama dan kamu pemenangnya?" ucap perempuan itu sambil terkekeh.


"Aku memang pemenangnya sejak awal. Karena Yumna telah lama menjadi kekasihku sejak kamu sama -sama duduk di bangku sekolah menengah atas," tegas Duta tak mau berbasa -basi.


"Baiklah. Saya tidak mau membahas itu. Saat ini saya hanya di minta untuk mencari keberadaan kamu, Duta. Karena Lukas ingin bertemu kamu," ucap perempuan itu dengan senyum penuh ketulusan. Tapi sayang, Duta tidak bisa melihat senyum tulus itu.


"Kalian tidak sedang mengerjai aku, bukan? Jangan karena aku buta, aku punya kekurangan, terus kalian bisa berbuat semena -mena terhadap aku," ucap Duta mencoba menasihati.

__ADS_1


"Untuk apa? Tidak ada untungnya bukan? Membawa lelaki buta, jika memang tidak ada keperluannya. Sekarang gini aja. Kamu mau atau tidak, kalau kira -kira tidak mau dan keberatan, ya sudah. Tidak masalah, saya akan pergi dan bilang pada Lukas, kalau Duta tidak mau menemui dia," ucap perempuan itu dengan tenang dan santai.


"Baiklah. Aku mau. Tapi, tolong perkenalkan diri anda dulu, biar aku bisa memanggil nama anda dengan sopan," titah Duta pada perempuan itu.


"Kenalkan, aku asisten dokter yang kini merawat Lukas. Namaku, Asma," ucap Asma dengan suara tegas dan lantang.


"Lukas di rawat? Memangnya Lukas sakit apa?" tanya Duta kemudian.


"Ekhemmm ... Kalau soal itu, saya sama sekali tidak bisa membuka rahasia besar ini. Tapi setidaknya, saya bisa membawa kamu ke tempat Lukas. Nanti, kalian bisa bicara banyak di sana," ucap Asma pada Duta.


"Baik. Aku mau bertemu Lukas," ucap Duta pada Asma.


"Good job. Yuk, ikuti apa yang saya katakan agar kamu bisa berjalan dengan baik menuju mobil saya," ucap Asma pada Duta.


Duta hanay mengangguk pelan dan berjalan mengikuti arahan Asma menuju mobil milik Asma.


Beberapa menit kemudian mobil Asma sudah sampai di sebuah restauran milik Lukas. Restauran yang baru saja Lukas buka sebagai tempat atau wadah untuk berkeluh kesah juga. Restauran ini sebenarnya di buat untuk sosial.


"Sudah sampai. Lukas ada di dalam restaurant. Saya keluar dulu dan kamu bersiap dengan tongkat kamu," titah Asma pada Duta.


"Ya. Terima kasih," ucap Duta lembut.


Asma keluar dari mobilnya dan kini membukakan pintu di bagian Duta duduk dan membantu Duta keluar dari dalam mobilnya.


Kini Duta dan Asma sudah berjalan masuk ke dalam restauran milik Lukas. Duta hanya bisa mendengar suara berisik dari lingkungan sekitar, suara obrolan orang dan bunyi denting alat makan yang saling bertabrakan. Di tambah lagi aroma harum dari beberapa masakan yang cukup ia hapal dan aroma wangi dari kopi yang di seduh. Sungguh nikmat sepertinya. Cukup merasakan melalui indera penciumannya saja tanpa harus melihat wujudnya.

__ADS_1


"Lukas ... Ini Dutanya," ucap Asma pada Lukas. Suara Asma terdengar makin santai tidak seperti pertama bertemu tadi yang terdengar kaku dan serius sekali. Duta mengira, usia Asma tentu lebih tua dari dirinya. Secara menjadi asisiten dokter itu kan, memerlukan pendidikan yang cukup lama juga. Jatuhnya seperti koas.


Lukas membalikkan tubuhnya. Lukas berada di private room sambil menatap pemandangan indah dari dalam ruangan itu menuju ke arah luar jalan ibu kota Jepang.


Lukas menatap Duta yang sudah berdiri di depannya dengan perasaan iba.


"Hai Ta. Apa kabar?" tanya Lukas dengan ramah sambil merangkul Duta dan membawa Duta duduk di salah satu sofa di sana.


"Lukas? Aku baik. Kamu apa kabar? Sejak kapan ada di Jepang?" tanya Duta penasaran.


Duta mulai overthinking. Jangan -jangan kedatangan Yumna kemarin ada kaitannya dengan Lukas.


"Aku baik. Aku sudah beberapa bulan di sini untuk sesuatu hal," ucap Lukas yang kini sudah nampak lebih baik kondisinya.


Ya, Lukas meratapi kehidupan keluarganya yang hancur dan kini ia benar -benar hidup sebatang kara.


"Sudah lama? Untuk urusan apa? Lalu bagaimana dengan kuliah kamu?" tanya Duta mulai penasaran. Informasi ini cukup menarik baginya.


"Tidak perlu aku katakan. Gimana Yumna? Baik?" tanya Lukas kembali sambil mengalihkan pembicaraan.


Lukas harus menemukan waktu yang pas dan tepat untuk membicarakan hal ini agar tidak ada salah paham dan ketersinggungan.


"Yumna? Kenapa tidak kamu tanyakan sendiri? Bukankah kamu punya nomor Yumna," singgung Duta pada Lukas.


"Hemmm ... Nampaknya masih cemburu? Aku dan Yumna hanay sebatas teman atau sahabat saja. Walaupun aku menyukainya tapi aku tak pernah menusuk kamu dari belakang, Duta. Beberapa bulan lalu aku masih bisa menemui Yumna di Kampus, dan aku berpamitan untuk pergi selamanya dan aku berusaha melupakan Yumna dan memblokir semua akses yang membuat aku tidak bisa move on nantinya. Tapi nyatanya takdir berkata lain, umurku yang katanya hanya tinggal beberapa bula lagi ternyata masih bisa panjang. Jujur, aku ingin melihat senyum Yumna kembali. Tapi ... kau tahu, senyum itu hanya untuk kamu, Duta. Senyum Yumna bisa terbit kalau ia ada di dekat kamu," jelas Lukas pada Duta.

__ADS_1


"Jadi? Sebenarnya ada kepentingan apa? Aku di suruh ke tempat ini? kalau hana untuk membahs Yumna, aku lebih baik pergi saja," terang Duta cemburu.


__ADS_2