Duta & Yumna

Duta & Yumna
29


__ADS_3

Keesokkan harinya Yumna sudah di perbolehkan pulang karena kondisi tubuhnya mulai stabil dan membaik. Jadi, Yumna tidak perlu lagi di rawat inap, cukup rawat jalan saja.


Pagi ini, Yumna tengah bersiap untuk kembali ke apartemennya dan menunggu pemeriksaan terakhir sesuai jam kunjungan dokter. Yumna masih duduk bersandar pada tumpukan bantal sambil menikmati cemilan snack ringan yang di bawakan Yuri.


"Beres nih," ucap Yuri menutup tas pakaian Yumna dan di letakkan di sofa panjang.


Yumna menoleh ke arah Yuri dan tersenyum manis.


"Makasih zheyenk udah bantuin Yumna," ucap Yumna dengan tulus.


"Sama -sama. Na ... Yuri mau sarapan dulu ya. Kamu gak apa -apa sendirian di kamar?" tanya Yuri pelan.


"Iya Gak apa -apa. Yumna akan tunggu sampai kamu datang dan dokter yang memeriksa datang," ucap Yumna.


Yuri hanya menunjukkan ibu jarinya berarti setuju dengan ucapan Yumna. Yuri pun keluar menuju kantin. Kebetulan Bunda Sinta dan kedua kakak yumna sedang pulang ke rumah untuk mandi dan mengganti pakaian mereka.

__ADS_1


"Arghhh ... kenapa harus kebelet ke kamar mandi sih. Tadi ada Yuri bukannya kebelet. Kalau gini kan, harus ke kamar mandi sambil bawa infusan," ucap Yumna pada dirinya sendiri.


Yumna pun turundari tempat tidurnya sambil membawa selang infus yang masih terpasang di punggung tangannya ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, Yumna keluar dari kamar mandi dan kembali naik ke atas ranjang. Yumna belum menyadari ada yang berubah di dalam kamarnya. Yumna menoleh ke arah nakas di samping ranjang rawat inapnya dan melihat ada buket mawar merah yang sama persis seperti buket mawar merah yang di bawa Joko, OB kampus.


Tak hanya buket mawar merah tapi di sebelahnya lagi -lagi ada kantung plastik berisi makanan. Yumna menggapai buket mawar merah dan pplastik putih di nakas. Buket bunga itu Yumna cium dan harumnya sangat wangi. Aroma wangi dari dalam kantong plastik seperti aroma makanan kesukaan Yumna.


"Bubur ayam dengan banyak cakwenya tanpa kacang dan kuah di pisah. Mungkinkah itu kamu? Apa ini hanya sebuah kebetulan?" tanya Yumna menatap makanan dan buket bunga mawar merah itu dengan tatapan penasaran.


-Hai cantik, akhirnya aku bisa lihat senyum manis kamu. Sehat terus dan tetap semangat-


Yumna menatap isi pesan singkat itu dengan seksama. Gaya bahasanya terlalu resmi jadi tak bisa di tebak siapa pengirimnya. Lebih aneh lagi, orang tersebut bisa masuk ke dalam ruangan ini tanpa terlihat siapa pun.


***

__ADS_1


Bunda Sinta, Kak Jone dan Kak Dafa serta Yuri mengantarkan Yumna kembali ke apartemen.


"Na ... Pulang ke rumah saja. Bunda mumpung ada di rumah," pinta Bunda Sinta pada Yumna.


"Gak Bun. Yumna gak mau merepotkan Bunda, Kak Jone dan Kak Dafa. Yumna mau belajar jadi wanita mandiri dan gak banyak ngeluh," ucap Yumna pelan sambil memangku buket bunga mawar merah yang belum di ketahui siapa pengirimnya.


Tidak sampai setengah jam, Yumna dan yang lainnya sudah sampai di aparetemn milik Yumna dan Duta dekat kampus. Semuanya mengantarkan Yumna kembali ke apartemen.


***


"Gadismu sudah sembuh," ucap Asma pada Lukas.


"Lalu, Kamu temui lelaki brengsek itu?" tanya Lukas pada Asma.


"Sepeduli itu kamu dengan Yumna? Sepeka itu kamu dengan kesedihan Yumna? Bahkan kamu tidak pernah menanyakan kepadaku, apakah aku sudah makan atau belum? Apa kamu melupakan sesuatu, Lukas?" tanya Asma menahan isak tangisnya.

__ADS_1


__ADS_2