Duta & Yumna

Duta & Yumna
117


__ADS_3

Bunda Sinta membangunkan Yumna dan mengabarkana bahwa Duta, suaminya datang.


"Na ... Duta dateng tuh. Kamu mesti bangun. Paling gak siapin minuman buat Duta. Kasihan jauh -jauh dari Paris masa istrinya masih pules begini," ucap Bunda Sinta lembut membangunkan Yumna.


Yumna membuka kedua matanya perlahan. Ucapan Bunda Sinta hanya di anggap angin lalu saja.


"Apaan sih Bun. Gak mungkin juga Kak Duta datang. Dia itu sibuk sama kerjaannya. Udah ah ... Yumna mau tidur lagi. Jangan ngerjain orang hamil Bunda," ucap Yumna sama sekali tidak percaya.


"Kalau kamu gak percaya ya sudah. Bunda cuma kasih tahu" ucap Bunda Sinta yang kemudian bangkit berdiri dan pergi meninggalkan kamar Yumna.


Yumna yang masih berada di bawah selimut pun membuka selimut itu perlahan. Kedua matanya mulai bergerak pelan terbuka karena pantulan silau sinar matahari pagi. Suara Bundanya tadi masih samar di telinganya. Tapi, Bundanya itu tak pernah berbohong. Apa mungkin Kak Duta benar -benar datang sesuai janjinya? Ya, Kak Duta pernah berjanji akan menyusul Yumna. Mungkinkah itu hari ini?


***

__ADS_1


Duta sudah berada di pemakaman umum untuk melawat Papah mertuanya. Ia berjongkok dan memegang kepala nisan sambil berdoa di dalam hati. Mulai terbayang wajah Papah mertuanya yang sungguh baik dan bijaksana. Duta sangat ingat betapa Papah mertuanya itu sangat menyayangi umna, putri bungsunya.


Ada hal yang tak bisa di lupakan oleh Duta sebelum ia meminang Yumna secara khusus pada Papah mertuanya itu. Duta dengan gagah berani bicara untuk segera menikahi Yumna saat masih kuliah.


Papah mertuanya hanya tersenyum dan mengangguk kecil langsung mengiyakan tanpa banyak perdebatan dengan berbagai pertanyaan. Mungkin Papah mertuanya sudah mengenal Duta dan keluarga Duta dengan baik. Tidak ada hal yang bisa membuat Papah mertuanya itu menolak keinginan Duta.


Yumna sudah berdiri di belakang tubuh Duta yang masih tak bergerak menatap sendu kuburan Papah mertuanya. Waktu begitu cepat berlalu. Bahkan Papah mertuanya belum sempat melihat cucu pertamanya yang akan lahir dari rahim putri kesayangannya.


"Papah yang tenang disana. Duta pasti akan menjaga Yumna dengan baik seperti Papah merawat Yumna sejak kecil hingga dewasa ini. Papah tidak perlu cemas, Duta akan menuruti keinginan Yumna demi kebahagiaan Yumna. Duta sudah keluar dari kerjaan Duta di Paris. Duta hanya ingin melepaskan semua hal yang tak membuat Duta bahagia. Ternyata kebahagiaan Duta adalah bersama dengan Yumna," ucap Duta terus mengadu pada kuburan itu.


"Kak ...," panggil Yumna lirih sekali.


Duta menghapus air matanya dengan punggung tangannya dengan asal. Ia tertegun mendengar suara itu seperti suara istrinya. Apa ini hanya sebuah ilusi saja.

__ADS_1


Yumna melangkah dan ikut berjongkok di samping Duta. Duta langsung menoleh ke arah Yumna dan menatap lekat.


"Na? Yumna?" ucap Duta tak percaya.


Yumna mengangguk pelan dan tersenyum manis kepada suaminya.


"Ka -kamu? Sama siapa?" tanya Duta bingung sambil celingukan mencari soosk lain. Cukup merinding juga melihat wanita cantik yang menyerupai sosok istrinya. Mana pagi ini Yumna memakai pakaian putih dengan pahminan untuk menutup kepalanya denagn rambut yang di gerai.


"Sendiri," jawab Yumna pelan sambil menunjukkan kunci mobil pada Duta.


Ya, Yumna baru saja belajar menyetir mobil bersama Nick kemarin. Kalau hanay dari rumah menuju pemakaman saja, Yumna berani karena tidak ada kendaraan yang banyak berlalu lalang.


"Kamu bawa mobil? Kamu bisa nyetir Na?" tanay Duta tertawa.

__ADS_1


Yumna mengangguk kecil mengiyakan ucapan Duta. Duta tahu Yumna tak bisa mengendarai mobil dan tidak pernah Duta ijinkan untuk belajar sekalipun apapun alasannya. Duta hanya ingin Yumna bergantung pada dirinya saja bukan pada yang lain. Tapi ternyata itu juga salah. Selama ini Duta jarang ada di samping Yumna dan malah membuat Yumna menjadi mandiri dengan sendirinya. Ini yang membuat Duta gagal menjadi suami.


__ADS_2