Duta & Yumna

Duta & Yumna
28


__ADS_3

Bunda Sinta hanya menatap ke arah Jone dan Dafa untuk membantu Bunda Sinta memberikan pengertian dan pemahaman kepada adik bungsunya ini.


"Kok malah pada lihat -lihatan? Bunda? Mau Bunda, Yumna pisah sama Kak Duta gitu? Jawab dong Bun? Kan Bunda tadi yang bilang gitu ke Yuma secara gak langsung," tegas Yumna dengan suara lantang dan ketus.


"Na ... Jangan salah paham sama Bunda dong. Bunda itu Bunda kakak juga. Gak ada nasihat Bunda yang gak baik untuk anaknya. Bunda hanya ingin kamu bahagia dan gak menderita," ucap Kak Dafa berusaha menjelaskan.


"Apa? Biar Yumna bahagia dan gak menderita? Gitu kan? Padahal Kak Dafa tahu kan, sejak awal kebahagiaan Yumna itu semua ada di Kak Duta. Semuanya!! Yumna bisa begini karena motivasi Kak Duta. Yumna bisa mandiri karena Kak Duta selalu menyemangati Yumna. Lalu? Saat Kak Duta terjatuh, terpuruk, terus Yumna pergi dan harus ninggalin Kak Duta? Gitu? Jahat banget sih," ucap Yumna dengan wajah memerah karena kesal.


"Sayang ... Bunda gak bermaksud untuk menyuruh kamu berpisah dengan Duta. Tapi, tolong di pikirkan lagi kalau kalian sama -sama jauh seperti ini tanpa ada komunikasi? Hubungan kalian bagaimana? Bagus kalian kejar impian dan cita -cita kalian dulu. Suatu hari kalau kalian masih berjodoh, kalian pasti bisa bersama lagi," ucap Bunda Sinta dengan suara lembut.

__ADS_1


"Sudah ... Yumna gak mau dengar apapun. Yumna mau istirahat. Satu hal lagi, apapun keadaan Kak Duta, dia tetap suami Yumna, dan Yumna tidak akan pernah mau berpisah sekali pun Kak Duta yang meminta pisah dari Yumna. Yumna akan bertahan. Hargai keputusan Yumna," ucap Yumna dengan tegas lalu merebahkan tubuhnya kembali dan menutup tubuhnya dengan selimut hingga menutup wajahnya dan menangis di balik selimut putih berbulu itu.


Hati Yumna begitu sakit, perih dan pedih. Bisa -bisanya Bunda dan kedua kakak kandungnya berpikiran picik seperti itu. Bukannya memberikan semangat dan menenangkan hati Yumna. Ini malah membuat masalah di atas masalah.


"Na ... Yumna sayang. Bunda minta maaf ya. Bunda gak bermaksud untuk membuat kamu tambah sedih. Bunda paham, Bunda hanya ingin yang terbaik untuk kmau, Na. Tapi, kalau memang pilihan kamu itu adalah tetap ingin bersama Duta. Bunda gak masalah. Bunda hanya takut kamu ragu dengan rumah tangga kamu, kamu tertekan dengan keadaan ini. Itu saja. Maafkan Bunda," ucap Bunda Sinta lirih meeminta maaf lalu pergi meninggalkan ruangan rawat inap yang kemudian di ikuti oleh Yuri.


"Bunda ... Mau kemana?" tanya Yuri sopan.


"Maafin Yumna, Bunda. Yumna lagi pikiran sepertinya. Makanya Yumna tidak bisa berpikir jernih. Bunda kan tahu, semester ini, adalah semester terpadat Yumna. Banyak tugas, dan bentar lagi akan menghadapi ujian akhir semester. Belum lagi masalah Kak Duta yang tak bisa di hubungi lagi akhir -akhir ini. Beban pikiran Yumna juga berat. Apalagi kejadian tadi membuat mental Yumna semakin down," ucap Yuri pada Bunda Sinta.

__ADS_1


Bunda Sinta mengangguk kecil dan merangkul Yuri.


"Iya Yuri. Makasih ya, selama ini sudah jadi sahabat yang baik untuk Yumna. Kita makan dulu yuk? Bunda laper," ajak Bunda Sita paada Yuri.


Bunda Sinta dan Yuri pergi ke kantin untuk makan. Keduanya semakin akrab. Apalagi sebentar lagi, Yuri akan menjadi menantu Bunda Sinta.


***


"Yumna ... Gak baik bersikap kasar pada Bunda," ucap Kak Jone pada Yumna yang massih sesegukan.

__ADS_1


Wajahnya masih tertutup selimut dan tubuhnya terlihat bergerak naik turun karena Yumna menangis.


__ADS_2