
Yumna dan Duta sudah duduk di salah satu kursi yang ada di kedai itu. Yumna sengaja memilih di tempat yang ada di samping kedai, karena pemandangannya lebih indah.
Sambil menunggu tiga pesanan es rainbow mereka, Yumna menatap pemandangan hijau dan air terjun buatan yang ada di kedai itu dengan senyum merona.
"Kayaknya lagi bahagia nih?" tanya Duta pada Yumna. Duta langsung menggenggam tangan Yumna dengan posesif.
Yumna megalihkan pandangannya dari air terjun ke arah Duta dan tersenyum pada lelaki yang selama ini sellau ada untuk dirinya.
"Bahagia dong, karena selalu bersama Kakak," jawab Yumna singkat membuat Duta melayang seketika.
Kenapa sekarang semuanya terasa lebih indah? Di banding saat itu? Atau aku yang kurang peka akan ketulusan Yumna, batin Duta pada dirinya sendiri.
"Kamu gak bosen?" tanya Duta lagi sambil mencium punggung tangan Yumna dnegan penuh kasih sayang.
"Bosen?" tanya Yumna dengan wajah tak suka.
"Kamu gak bosen terlihat cantik terus, bikin Kakak sellau jatuh cinta setiap hari," ucap Duta melanjutkan kata -katanya yang sempat membuat salah paham.
Yumna mencebikkan bibirnya dnegan kesal. Bisa -bisanya Duta menggodanya dengan kata -kata yang membuat Yumna sekarang merasa berada di awan.
"Kak Duta ngeselin," jawab Yumna manaja.
"Kok ngeselin sih? Makanya jangan cantik setiap hari, Kakak makin kacau kalau begini. Pengen cepet -cepet halalin," cicit Duta lirih.
Yumna terdiam dan menatap Duta yang terlihat sedih.
"Tinggal di halalin, kenapa malah mukanya sedih?" tanya Yumna.
"Emang sedih? Gak sedih. Cuma Kakak ada tawaran kerja di Paris setelah lulus. Gimana menurut kamu?" tanya Duta pada Yumna meminta pendapat.
"Kok minta pendapat Yumna. Harusnya Kakak tanya sama Bunda Gita atau Papah?" usul Yumna pada Duta.
"Kamu kan istri kakak," ucap Duta dengan sengaja.
"Calon istri Kak, belum jadi istri," ucap Yumna pelan.
__ADS_1
"Sama aja. Kakak udah anggap kamu jadi istri Kakak," ucap Duta lembut.
Yumna tersenyum dan menatap ke arah tangan mereka. Dua cincin melingkar di jari mereka, sebuah cincin yang sama dnegan mata berlian di bagian tengah.
"Memang kita sudah tukar cincin?" tanya Yumna baru menyadari mereka memakai cincin yang sama.
"Ehh ... Ini kan kita pakai saat ultah kamu tahun kemarin, Na. Kakak sengaja memakaikan cincin yang sama agar kamu tidak lagi di goda oleh yang lain yang bisa buat Kakak cemburu," ucap Duta pada Yumna.
"Hah? Bukannya Kakak yang menjadi idola kampus dan selalu membuat Yumna sedih," ucap Yumna terkekeh lalu terdiam sejenak. Pikirannya mulai melayang ke waktu yang sempat terlupa.
"Sayang? Kenapa?" tanya Duta pelan.
Yumna menggelengkan kepalanya dan menatap pelayan yang datang membawa tiga mangkok es rainbow pesanan mereka.
"Uhhh ... Tinggi sekali tingkatannya. Warnanya juga cantik," ucap Yumna senang.
Lihat saja rainbow cakenya, ada red velvet di bagian atas dengan taburan kacang dan keju, lalu di shap kedua ada tiramisu dengan choco chip, shap ketiga ada taro, lalu pandan dan paling bawah adalah vanila.
Berbeda dengan rainbow cokelat yang jelas semuanya berwarna cokelat, mulai cokelat biasa, cokelat kopi, double cokelat, milo, dan dark cokelat.
"Coba ini Kak. Enak lho," pinta Yumna sambil menyendokkan satu sendok es krim dan di berikan kepada Duta.
Duta pun langsung membuka mulutnya dan menerima suapan es krim dari Yumna.
"Emmmm ... Enak. Semua enak kalau kamu yang nyuapin," cicit Duta manja.
"Dihhh ... Kok Ketua BEM jadi manja gini," goda Yumna pada Duta.
"Gak apa -apa manja sama istri sendiri." ucap Duta cuek.
"Calon istri bukan istri," ucap Yumna meluruskan.
"Oke calon istri tapi besok jadi istriku ya," ucap Duta meminta.
"Gimana Bunda sama Ayah," jawab Yumna tertawa.
__ADS_1
"Ayah dan Bunda pasti merestui," ucap Duta dengan yakin.
"Hemm belum tentu," jawab Yumna terkekeh.
"Kok belum tentu? Memang kenapa?" tanay Duta bingung.
"Soalnya ...," Yumna sengaja menggantungkan ucapannya.
"Soalnya? Apa?" tanay Duta penasaran.
"Yumna belum selesai kuliah," jawab Yumna masuk akal.
"Cuti dulu ya, Sayang," pinta Duta pada Yumna.
"Gak ahh ... Kalau cuti, nanti Yumna makin lama lulusnya. Kak Duta udah kerja, Yumna masih kuliah," cicit Yumna yang merasa malu kalau harus berbanding terbalik dengan Duta.
"tapi kan kamu baru smebuh juga. Atau lanjutkan kuliah di Paris aja? Bisa transfer kuliah kok," ucap Duta memberi solusi.
"Tapi Kak. Banyak pemotongan mata kulaih, kayak ngulang dari awal," ucap Yumna sedikit ragu.
"Ada Kakak. Pasti Kakak bantu," ucap Duta meyakinkan Yumna.
Yumna menunduk penuh keraguan.
"Kenapa? Kamu gak mau Na? Ini impian kita? Menikah, lalu pergi ke Paris," ucap Duta mengingatkan.
"Kak ... Janagn bahas itu ya. Yumna belum siap," pinta Yumna yang jadi tak selera makan es krim lagi.
Duta mengangguk kecil dan ijin ke toilet. Di dalam toilet Duta menatap wajahnya ke cermin. Sesulit ini merayu Yumna yang memang sedikit agak keras.
Bagaimana cara Duta? Agar Yumna mau menerimanya dan mau ikut bersamanya. Duta hanya kepikiran benih yang sudah ada di rahim Yumna. Kalau Yumna menyadari dan amnesianya belum sembuh. Tentu ini akan menjadi masalah besar.
Yumna bisa makin depresi jika tahu hamil dan mereka belum menikah. Apa pelan -pelan di tunjukkan foto pernikahan mereka? Atau bagaimana? Dokter bilang Duta tidak boelh memkasa karena akan merusak memori di otaknya. Duta mengusap wajahnya dengan kasar. rasanya ia ingin menangis.
Duta kembali ke tempatnya dan Yumna tak ada di sana. duta mencari keberadaan Yumna dan melihat ke arah sekitar. Di ujung bangunan ada ramai -ramai disana, Duta menghampiri dan ternyata benar. Sesuatu terjadi pada Yumna.
__ADS_1
"Yumna!!" teriak Duta pada istrinya.