
Dokter yang sengaja Duta panggil sudah datang dan langsung memeriksa Yumna. Tubuh Yumna terlihat lemas dan menggigil. Bibirnya memutih dan wajahnya pucat. Sesekali bibir itu bergetar dan tangannya berada di depan dada seperti menahan rasa dingin yang menyelimutinya.
"Yumna sakit apa dok? Tadi pagi baik -baik saja, masih kuliah, masih beraktivitas seperti biasa dan makan juga masih mau. Tiba -tiba, Duta kembali, Yumna sudah seperti ini. Dibangunkan juga sulit," ucap Duta semakin panik.
"Yumna sepertinya sedang stres, jadi dia mengalami penyakit yang cemas berlebihan, sehingga memiliki rasa takut dan mencari keamanan dan kenyamanan dengan memakai selimut. Demam ini karena imun tubuhnya sedang turun jadi kondisi tubuhnya jadi tidak stabil," ucap doktyer itu pada Duta.
"Terus? Kondisi ini apakah berbahaya untuk Yumna?" tanya Duta semakin cemas denan keadaan Yumna, istrinya.
"Sebenarnya tidak berbahaya, hanya perlu di jaga dengan baik. Penyakit seperti ini yang di serang adalah pikiran dan berimbas pada mental. Efek sampingnya hanya stres ringan, tapi resiko ke depannya itu yang berat, bisa depresi akut atau bahkan terburuknya menjadi gila," ucap dokter itu menjelaskan.
Duta menatap nanar ke arah Yumna. Kenapa nasib gadis kesayangannya harus seperti ini. Mnejadi istri seorang aktivis politik di kampus yang vokal dan menjadi idaman para wanita, hingga persaingan ketat dan masih banyak lagi yang sebenarnya di alami oleh Yumna bahkan ia pendam hingga saat ini setelah pernikahannya. Bukan tidak juur, tapi bagi Yumna memang keadaan yang menuntutnya seperti itu.
Tatapan Duta kini beralih ke arah dokter yang tengah membuatkan resep untuk Yumna.
__ADS_1
"Dokter? Jika Duta ajak berlibur, atau honeymoon? Kira -kira, Yumna bisa sembuh? Atau memang Duta harus membuat Yumna jujur dengan perasaannya? Apa keluhannya? Apa yang ia takuti? Karena selama ini memang Duta belum menjadi suami yang baik. Kita memang menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih lama, tapi Duta sibuk dengan urusanku sendiri. Aku hanya tahu, Yumna baik -baik saja, tidak pernah pergi tanpa Duta atau keluarganya dan hidupnya hanya berkutat pada pendidikan atau nonton drakor. Setelah menikah, Duta juga harus meninggalkan Yumna dalam waktu yang lama. Tidak hanya itu saja, Duta sempat los kontak denagn Yumna karena sesuatu hal," ucap Duta lirih. Kedua matanya basah dan emnampung banyak air mata yang tinggal ia teteskan ke pipi.
Duta duduk di tepi ranjang dan mengusap pipi Yumna yang masih terlihat pucat.
"Buat istrimu selalu bahagia, selalu tersenyum setiap hari, selalu tertawa, dan jangan ceritakan masalah kamu pada dia, terutama masalah yang genting yang membuat istrimu mengingat kembali luka kecewanya," ucap dokter itu menasehati.
Yumna sudah dua kali seperti ini. Kalau sampai ini terulang lagi atau tidak sembuh. Fix, Duta tidak bisa menjaga Yumna dengan baik. Duta menyia -nyiakan hati setulus Yumna.
Dokter itu menepuk pundak Duta untuk menguatkan hati Duta seolah doketr itu memberikan semangat bahwa semuanya akan baik -baik saja, jika Duta mengikuti saran dokter yang memeriksa Yumna.
"Tebus resep itu untuk istrimu. Salah satunya ada vitamin dan obat penenang agar Yumna bisa fokus dan selalu damai. Ada obat tidur juga, bila suatu hari di butuhkan karena Yumna terlalu banyak pikiran. Ingat, obat ini hanya sarana dan sifatnya sesaat, bukan untuk menyembuhkan. Semua kesembuhan itu tergantung dari diri Yumnannya sendiri, niat Yumna dan motivasi kamu sebagai suami," ucap dokter itu terus memberikan nasihatnya.
"Terima kasih sudah memberikan nasihat dan sarannya dok. Mungkin setelah ini, Duta akan lebih fokus mengurus Yumna dan mengembalikan kepercayaan dirinya dengan cara membuatnya bahagia agar Yumna tahu betapa Duta mencintai dia dan sanagt takut kehilangan dia," ucap Duta lirih.
__ADS_1
"Saya yakin sekali, kalau kamu pasti bisa Duta. Kamu sanggup membrikan kebahagiaan terbaik, memberikan kenangan indah yang membuat hati dan pikirannya terpatri pada dirimu. Carilah kesenangannya, kesukaannya, atau haal kecil yang selama ini membuatnya tersenyum. Bisa jadi, memberikan apa yang selama ini ia inginkan," tegas dokter itu .
"Yumna ingin ... Arghh, Yumna ingin anak. Itu yang ia inginkan selama ini," ucap Duta terus meracau hebat seperti telah memenangkan undian emas sebesar dua puluh kilo gram.
"Nah ... Cobalah honeymoon. Berikan sentuhan yang lembut, yang membuat Yumna merasa kamu miliki seutuhnya Duta," ucap dokter itu ikut tersenyum.
"Tapi dok? Kalau gagal memberikan anak gimana?" tanya Duta lirih.
Dokter itu tersenyum lebar dan memberikan resep lain di kertas yang berbeda lalu memberikan kepada Duta.
"Berikan ini pada istrimu saat kamu ingin memberikan yang terbaik. Ingat ini harus di campurkan pada minuman dan dilarutkan," titah dokter itu pada Duta.
"Wahh .. Terima kasih dokter. KNasihat dokter sangat membantu sekali, smeoga semuanya berjalan dengan lancar," ucap Duta tulus.
__ADS_1
Dokter itupun berpamitan dengan Duta untuk segera pulang karena masih ada pasien yang menunggu di kliniknya.