
Duta melanjutkan aktivitas mandinya dan Yumna menyiapkan makan malam yang telah di beli oleh Duta di atas piring. Kwetiau goreng yang sungguh wangi aroma bumbunya dan bakso bakar yang terlihat nikmat. Yumna juga meletakkan dua buah kue yang tersisa di belinya tadi siang. Tidak lupa kopi hitam dan teh manis panas untuk dirinya.
Tak berselang lama Duta sudah keluar dari kamar mandi dan mengusap pelan rambutnya yang masih basah dengan handuk yang ia pakai. Duta masuk ke dalam kamarnya dan menatap Yumna yang juga sedang menatap dirinya takjub.
"Kenapa?" tanya Duta pada Yumna.
Yumna menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum lebar.
"Gak apa -apa. Kak Duta ganteng banget sih?" ucap Yumna jujur dengan mata berbinar.
Duta tersenyum manis dan duduk di samping Yumna lalu mengacak kepala Yumna pelan.
"Suami siapa dulu?" jawab Duta meletakkan ahnduknya dan memegang dagu Yumna hingga kedua mata mereka saling bertatapan.
"Suaminya Yumna dong. Just for Yumna aja. Gantengnya jangan kebangetan dong Kak, takut ada yang godain," ucap Yumna lirih.
"Siapa yang berani godain Kakak? Kakak itu gak bakal tergoda oleh wanita manapun kecuali kamu, sayang," ucap Duta jujur sepenuh hati dan emngecup bibir sang istri.
__ADS_1
Yumna melebarkan senyumannya dan mencubit gemas pipi Duta.
"Pinter deh ngerayunya," ucap Yumna terkekeh.
"Bukan negrayu sayang. Memang ini fakta. Coba? Pernah Kakak menyukai wanita lain selain kamu?" tanya Duta pada sang istri.
Yuman menggelengkan kepalanya lagi dan menjawab, "Gak pernah sih, tapi bisa aja kan suatu hari berubah."
"Jangan berpikiran yang aneh -aneh. Tetap positif thinking. Karena segala sesuatu terjadi berawal dari pemikiran negatif kita yang terprogram di otak dan malah benar -benar terjadi di dunia nyata. Inget ucapan adalah doa. Berucaplah selalu yang baik, Na. Apalagi kamu sedang hamil, jangan punya pikiran buruk. Sudah yuk kita makan," ucap Duta menydahi pembahasan ini.
"Iya sayang. Mau di suapin gak?" tanya Duta pada Yumna.
Yumna mengangguk senang. Yumna memang sedang dalam mood manja dan ingin sellau di perhatikan dari hal terkecil.
Duta mulai mengambil piring kwetiauw dan menyuapi Yumna sambil mengajak Yumna bicara.
"Gimana hari ini? Kamu bahagia? Bertemu dengan siapa tadi?" tanya Duta pada Yumna.
__ADS_1
"Ekhemm ... Itu lho Kak, teman satu kelas waktu SMA. Nicholas, Nick, kapten basket angkatan Yumna," ucap Yumna sedikit mengingat prestasi Nick.
"Ohh si Nick," jawab Duta cuek.
Duta memang tidak kenal Nick, tapi Duta pernah dengar nama Nick dan selentingan tentang rasa suka Nick pada Yumna dari beberapa teman OSIS -nya.
"Cuma oh?" tanay Yumna menatap Duta lekat. Jawaban Duta yang singkat tentu membuat Yumna merasa Duta sedang cemburu.
"Kakak dari dulu gak pernah melarang kamu untuk bermain dnegan siapa pun. Tapi, pesan Kakak cuma satu. Selalu hati -hati dan selalu jaga diri. Kakak sekarang sibuk bekerja, jadi gak bisa mantau kamu setiap detik, Na. Kakak harap kamu bisa pegang kepercayaan Kakak," ucap Duta tegas pada Yumna dan menyuapi Yumna dengan gulungan kwetiauw.
"Kakak menasehati Yumna? Kakak cemburu?" tanya Yumna pada Duta.
"Gak. Sama sekali gak. Kakak gak cemburu," ucap Duta pelan.
"Tapi, kata -kata Kakak, terlihat Kakak sedang cemburu," ucap Yumna pelan sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.
"Salah? Kalau kata -kata Kakak tegas sama kamu? Kamu itu istri Kakak, harus selalu Kakak jaga kehormatannya," ucap Duta denagn sangat tegas sekali.
__ADS_1