Duta & Yumna

Duta & Yumna
35


__ADS_3

Suara panggilan itu rasanya tak asing ditelinga Yumna. Tiba -tiba saja, Yumna merasa dejavu dengan semua ini. Yumna menoleh ke arah belakang. Kedua mata Yumna menyipit dan tersenyum miring kepada sosok yang kini sudah berdiri tepat di belakangnya.


"Mimpi di siang bolong itu memang membuat hati galau dan pikiran kacau," batin Yumna yang kini kefokusannya mulai terpecah karena sentuhan di pucuk kepalanya. Terasa lembut dan penuh kasih sayanga.


"Na ... Kakak rindu," ucap Duta dengan senyum yang begitu manis hingga kedua lesung pipi Duta terlihat jelas saat bibirnya mulai tertarik ke atas.


Yumna masih mengumpulkan semua kesadarannya dan mengerjapkan kedua matanya pelan. Sungguh hari ini penuh dengan kejutan.


"Na ....," panggil Duta sekali lagi dengan tangan yang mulai menyentuh pipi Yumna. Pipi itu terasa sangat dingin sekali.


Tangan Yumna menyentuh tangan Duta yang ada di pipinya. Yumna hanya ingin tahu, tangan ini benar adanya atau hanya sebuah ilusinya saja yang terlalu rindu dengan Duta, suaminya.

__ADS_1


"Ini Kakak, Na. Apa kamu tidak mau memeluk Kakak, seperti biasanya?" tanya Duta yang masih melempar senyum indahnya hanya untuk Yumna.


Lihat saja, Duta semakin gagah dan tampan. Kedua matanya begitu tajam melihat Yumna dan kedua kakinya terlihat kuat menopang tubuhnya yang tegap.


Bibir Yumna bergetar dan menganga, Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir mungil itu.


Duta masih melebarkan senyumnya dan kini menraik tubuh Yumna yang masih takjub menlihat Duta. Rasanya bukan Duta, tapi setelah tubuh itu dalam pelukan Duta, semua terasa nyata.


"Kakak rindu kamu, Na. Maaf kalau baru hadir menemui kamu setelah beberapa hari Kak Duta di Indonesia. Kak Duta baru saja menyelesaikan beberapa masalah yang tertunda," ucap Duta pelan dan mengecup pucuk kepala Yumna dengan lembut.


Yumna mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Duta, suaminya.

__ADS_1


"Yumna juga rindu sama Kak Duta. Kenapa sih? Harus di buat begini dulu. Yumna kan kaget. Kirain di prank," ucap Yumna manja.


"Uluhhh ... Wanitanya Kak Duta lagi merajuk. Ini baru ketemu lagi setelah berapa purnama kita gak ketemu? Apalagi waktu kamu pulang ke Indonesia tanpa ada pamit dan tidak bicara sepatah kata pu. Kakak hancur Na. Tapi, itu yang membuat Kakak termotivasi dan ingin cepat sembuh lalu bisa bertemu kamu," ucap Duta lirih sambil menoel hidung mancung istri mungilnya.


"Jangan pernah pergi lagi dari Yumna, Kak. Yumna benar -benar merana gak ada Kak Duta. Setiap malam Yumna cuma menangisi kesepian dan mengumpat karena selalu sendiri," ucap Yumna jujur.


"Segala sesuatu tidak akan ada yang tahu. Bagaimana kehidupan kita di hari esok. Kalau boleh meminta, tentu, Kakak ingin terus ada di samping kamu, Na. Kita selalu bersama dan selalu bahagia," ucap Duta merapikan anak rambut Yumna yang berantakan dan emnutupi sebagian wajahnya.


Keduanya saling menatap dan tersenyum lalu wajah mereka saling mendekat karena rasa rindu yang telah membuncah. Bahkan mereka lupa, kalau mereka berada di tempat umum yang di lihat banyak orang.


"Uhukkk ... Masih ada orang disini. Jangan nekat walau sudah halal," ucap Asma terkekeh.

__ADS_1


Yumna memundurkan wajahnya dan mengulum senyum. Begitu juga dengan Duta yang hanya menyentuh bibir Yumna dengan ibu jarinya saja.


__ADS_2