Duta & Yumna

Duta & Yumna
57


__ADS_3

Lita dudu smabil memgang air teh manis panas di tanagnnya. tubuhnya lelah setelah berlari mencari tempat persembunyian dan berlari lagi menuju apartemen Duta. Hanya tempat ini yang aman, karena Lita berpikir semua temannya sedang berkumpul.


"Udah kan istirahatnya? Sekarang cepet lo cerita dong! Gue udah penasdaran sejak tadi. Lihat lo dengan keadaan begini, mana pakai baju siapa itu," ucap Ega sudah tak sabar lagi.


"Sabar dong. Gue perlu atur napas juga kali. Kalian tuh bersyukur gue selamat," ucap Lita kesal.


"Lo gak lihat kita tercengan, bingung, kaget lihat lo, Lit!! Kita tuh dari tadi hanya mikirin lo. Kita habis di teror sama ini. Lihat nih, baju lo berlumuran darah!! Gimana kita gak panik!!" ucap Kahfi sedikit membentak Lita.


"Itu cuma baju kan. Kecuali di dalam itu ada penggalan kepala gue! Baru lo pada pusing," ucap Lita tidak ada wajah panik sedikit pun.


"Lita!! BUkan masalah bajunya tapi keselamatan lo!! Lhat kepala kucing aja, gue udah enek banget. Gimana gue beneran lihat kepala lo di pajang di atas kerdus. Gue mati berdiri kali lihatnya," ucap Kahfi malah ikut kesal sendiri.


"Udah cukup debatnya. Waktu kita itu gak banyak!! Kita dengerin dulu penjelasan Lita. Ayo Lit, lo cepet ngomong. Kita semua beneran penasaran ini," titah Duta pada Lita.


"Oke. Gue cerita. Jadi intinya gini, Edo itu gue tinggalin di kamar apartemen. Gue rasa itu kamar ada CCTV nya, dan cuma Bima yang tahu. Soalnya, gue banyak nanya sama EDo, setelah Edo gue bikin mabuk. Jadi bener, mereka berdua sering hadir di pesta haram yang sering di buat oleh seseorang. Mereka itu tumbal, karena mereka sudah kecanduan. Intinya yang gue ambil itu. Lo semua pasti tahu, siapa dalang semua ini," ucap Lita menggelengkan kepalanya.


"Gue ngerasa ada dua orang disana yang saling berebut kekuasaan," ucap Duta tegas.


"Ta ... Kita semua sudah punya bukti. Gimana kalau kita laporkan saja semua ini?" ucap Andrew menyarankan.


"Lapor kemana? Pihak yang berwajib? Lo yakin? Kita lapor bakal langsung di tindak? Kita itu di anggap bocil dan mereka yang berkuasa punya uang banyak dan mereka bisa membungkam dengan uang," ucap Duta memberitahu.


"Ta ... Gue ada ide. Gimana kalau kita viralkan saja. Kita bikin video lalu kita upload di semua medsos kita, tanpa perlu ribet dan kita bikin wajah dan suara kita di buat beda," ucap Ega menyarankan.

__ADS_1


"Ide lo cakep. Tapi, bukti kita udah kuat?" tanya Duta masih sedikit bimbang.


"Gini aja. Kita cari informasi lainnya terus kita putuskan saat ini juga. Siang kita bisa upload videonya dengan baik, tanpa bisa tersentuh," ucap Kahfi menyarankan.


"Ini kasus yang paling rumit. Kayaknya kita itu berurusan dengan modelan mafia gitu. Mereka yang menginginkan lahan kecil itu untuk di jadikan sebuah tempat maksiat," ucap Lita lantang.


"Tempat maksiat!!" ucap Ega dan Andrew serempak.


"Iya tempat maksiat. Oh sorry, gue belum cerita ya. Jadi menurut Edo, tempat itu akan di jadikan sebuah kafe, dan di atasnya tempat billiard sekaligus tempat bermalam untuk gituan. nah pangsa pasarnya anak mahasiswa. Niatnya sih ngancurin nama baik kampus, terus kampus ini di tutup lalu? Entah ingin di buka untuk apa," ucap Lita terus menjelaskan.


"Kenapa lo baru cerita ada info sepenting ini," tanya Kahfi kesal.


"Sorry Fi. Kalau ini sih udah lama gue denger bukan baru -baru ini. Terus lu Ga? Lu ngapain? Udah tanya ke lingkunagn sekitar? Apa jawaban mereka?" tanay Lita antusias.


"Kira -kira mau di buat apa?" tanya Andrew penasaran.


"Gue rasa itu mau di buat mall besar, tapi di atasnya buat tempat perjudian biar akses bisnis haram bisa lancar," ucap Ega santai.


"Kok lo bisa punya pikiran gitu?" tanya Kahfi pada Ega.


"Iya. Gue yakin delapan puluh persen. Lo tahu pas gue makan, mereka tuh malah pasang model nomor -nomor gitu katanya sih dapetnya gede. Terus di warteg itu juga jualan minuma haram. Soalnya ada anak -anak di bawah umur yang cuma bialng air bu, terus di kasih air dalam plastik yang di bungkus kresek. Apaan coba? Masa iya air putih?" ucap Ega tak yakin.


"Iya juga sih. Gue pernah juga waktu itu gue lagi ke rumah kos temen gue. Ehh ... Ada emak -emak gitu yang bilang. Lo pada mo sambilan gak? Gue saranin yang janda aja. Luamyan kali buat senang -senang, buat hidup juga, udah deh sekarang gak usah pada sok suci. Gitu amat ya. Serem banget. Coba lu bayangin, ini apa coba? Kalau bukan lowongan goa?" ucap Ariel tertawa keras.

__ADS_1


"Katanya polos, tapi tahu goa juga. Pernah lihat?" tanya Kahfi melotot.


"Pernah lah. Goa jepang yang ada di Pangandaran," kekeh Ariel sambil menutup mulutnya.


Tug!!


Duta melempar cangkang kacang kulit ke arah Ariel.


"Dasar mesum!! Udah gini. Coba lo pada cek medsos profesor. bokapnya Alice, Yoshua, Alice dan Atika. Gue curiga sama mereka," ucap Duta tegas.


"Yes!! Gue juga curiga sama mereka. Makanya ini ada kaitannya sama lo, Ta. Mereka gak mau lo ikut campur soal ini," ucap Lita semangat.


"Ta ... Temen Yumna yang cewek itu siapa namanya?" tanya Omesh tiba -tiba. Ia baru ingat sesuatu soal Yuri, teman Yumna.


"Siapa? Yuri? Seathu gue, Yumna itu cuma main sama Yuri," ucap Duta pada Omesh.


Omesh mengangguk kecil dan tersenyum keecut.


"Kenapa? Ada apa?" tanya Duta penasaran.


"Arghh Gak apa -apa. Punya pacar gak sih?" tanay Omesh tiba -tiba.


"Kan sama Kak Daffa, kakaknya Yumna," ucap Duta dengan tatapan penasaran.

__ADS_1


"Hah!! Serius!!" ucap Omesh tak percaya.


__ADS_2