
Yumna dan Yuri seperti biasa berada di kantin kampus setelah melewati sesi satu dan dua. Jadwal kuliah Yuri dan Yumna semakin padat. Dari kejauhan, Duta selalu mencari waktu untuk menatap Yumna.
Permasalahan keluarga Yumna pun sudah akan mencapai titik akhir. Semua sudah terkuak siapa dalang dari kematian Papah Yumna yang tidak wajar itu.
"Na ... Yumna. Lihat ke depan deh. Serius amat sih," ucap Yuri menyikut tanagn Yumna yang sedang serius menikmati bakso malang di mangkoknya.
"Apaan sih? Ribut amat Yuri. Gak tahu orang lagi menikmati makanan enak ini," ucap Yumna sedikit ketus sdan emndongakkan kepalanya menatap ke arah depan.
Depan bangunan kantin adalah parkiran mobil. Yuri menunjuk salah satu mobil yang terparkir di sana.
"Lihat gak? Itu tuh," ucap Yuri sambil menunjuk mobil baru milik Duta.
"Gak," jawab Yumna malas. Yumna tahu mobil itu milik Duta. Beberapa hari yang lalu Duta mengirimkan pesan pada Yumna bahwa ia berhasil membeli mobil baru dari hasil menjual jasa.
"Yakin? Gak lihat? Kamu gak boleh gitu, Na. Setiap orang pasti melakukan kesalahan. Itu wajar dan manusiawi sekali," ucap Yuri mencoba membuka pembicaraan.
"Hah!! Yumna lagi males bahas itu Yuri. Udahlah kamu itu tetap sahabat aku, dan sebenat lagi bakal jadi kakak ipar aku. Kamu di bayar berapa sama Kak Duta? Untuk menjadi comblang?" ucap Yumna terkekeh.
"Gak ada Na. Gak ada bayaran sama sekali. Kak Duta juga gak pernah minta tolong sama Yuri. Cuma Kak Dafa yang selalu minta tolong untuk bilang sama kamu agar mau memaafkan Kak Duta. Jangan sampai menyesal denagn mengucap kata cerai. Gak baik, Na," ucap Yuri kemudian.
"Kamu belum nikah Yuri. Kamu gak akan tahu rasanya. Menerima Kak Duta itu stu kesalahan fatal Yumna," ucap Yumna kesal sekali.
"Gak bisa kamu menilai Duta yang salah dalam hal ini. Kamu gak mau coba mediasi dulu, Na?" tanya Yuri kemudian.
__ADS_1
"Untuk apa? Mediasi? Lalu kita rujuk, bersama lagi, dan kak Dutra melakukan kesalahan yang sama lagi? Drai dulu, Yumna sudah cukup sabar, emndapatkan cowok dingin kayak Kak Duta, bukan itu aja, lelaki yang banyak di gilai wanita dan itu rasanya luar biasa menyesakkan dada. Mau sampai kapan kayak begini? Care sama wanita lain dan istri sendiri di abaikan. Ini bukan hal pertama bahkan sudah kejadian yang berulang," ucap Yumna semakin berapi -api.
"Oke. Sudah Na, ini di Kampus. Gak baik kamu marah marah, mana lagi hamil lagi," ucap Yuri mengingatkan.
Yuri kembali menatap ke arah mobil Duta dan beberapa mahasiswi mendekati Duta sambil melakukan swa foto di sana. Yumna juga menatap ke arah yang sama sambil tersenyum kecut.
"Tuh. Bisa di lihat kan? Sok jadi idola, tahu gak sih," ucap Yumna kesal.
Yumna langsung berdiri dan meninggalkan kantin kampus menuju kelas yang sebentar lagi akan di mulai. Yuri pun mengikuti dari belakang dan mensejajarkan langkahnya dengan Yumna.
Kedua sahabat itu mau tidak mau melewati tempat dimana Duta berada karena itu jalan satu -satunya yang paling dekat menuju kelas studio yang terletak di bagian belakang.
Duta melirik sekilas ke arah Yumna dan Yuri. Duta pikir, Yumna akan menghampiri dirinya dan amrah -marah karena banyak wanita yang ada di sekitar Duta. Para mahasiswi itu hanya ingin berfoto, Duta adalah salah satu alumni yang memiliki banyak jasa terhadap Kampus.
"Maaf ya. Kita lanjutkan lain waktu," ucap Duta kepada semua mahasiswi yang ada di sana
"Lain waktu ya," ucap Duta kemudian dan bersiap memeluk Yumna yang terlihat santai berjalan dan sama sekali tak menoleh ke arah Duta.
Yuri melirik ke arah Duta sekilas dan kembali menatapa ke arah depan lagi fokus pada jalan.
"Yumna!! Yumna!!" teriak Duta keras dan berlari kecil menghampiri Yumna.
Tak banyak yang tahu soal status Duta dan Yumna kecuali para senior. Duta menarik tanagn mungil Yumna agar Yumna menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Apa sih Kak?" tanay Yumna ketus.
"Na. Kamu kenapa sih? Gak di rumah, gak di kampus, kenapa sih gak bisa nerima kakak?" tanya Duta bingung.
"Apa? Masih nanya? Kenapa? Masalahnya apa? Kak ... Yumna yang sekarang bukan Yumna yang dulu. Yumna yang sekarang sudah paham akan hidup. Yumna yang sekarang lebih bisa menerima hidup," ucap Yumna semakin geram dnegan Duta yang merasa tak pernah bersalah.
"Tapi kamu gak tahu apa yang terjadi sebenarnya, Na," ucap Duta masih berusaha emyakinkan Yumna.
"Udah deh. Yumna mau kuliah, gak ada waktu ngurus soal beginian. Gak penting," ucap Yumna lantang.
Yumna langsung mengajak Yuri berjalan menuju kelas.
Beberapa mahasiswi pun merasa bingung. Siapa Yumna itu? Ada hubungan apa dengan Duta.
Duta sendiri merasa kesal karena perlakuan Yumna. Tapi mau gimana lagi, Duta harus paham kondisi Yuman yang sedang mengandung.
Bunda Sinta terdiam setelah mendengarkan penjelasan dari orang kepercayaan Jone. Relasi bisni Papah Yumna ternyata Om Wisnu, lelaki yang sengaja ingin menghancurkan keluarga Yumna demi kebahagiaan Arsista, putrinya.
Perusahaan Papah Yumna sempat kolabs dan akhirnay Paph YUmna pindah ke Bali untuk usaha baru di bidang kuliner. Tidak sampai di situ saja, bisnis kuliner juga perlaha di saingi oleh Om Wisnu. Tapi karena kegigihan Papah Yumna, dua perusahaan besar itu tetap bisa stabil.
Arsista sengaja datang ke Paris untuuk melancarkan aksinya. Sedangkan Om Wisnu diam -diam pulang ke Indonesia dalam wkatu singkat hanay untuk bertemu Papah Yumna sebelum di temukan tewas.
Arsista sangat tahu kelemahan Yumna adalah keluarganya terutama Papahnya. Jika, sang Papah di hilangkan nyawanya tentu Yumna akan terkenal mental, bisa -bisa depresi untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Tapi, dewi fortuna masih berpihak pada Yumna. Yumna sama sekali tak depresi, bahkan ia memiliki kekuatan baru menjadi wanita yang lebih kuat dan tegar lagi setelah kepergian Papahnya yang begitu mendadak.
Dafa terus memeluk Bunda Sinta untuk menenangkan hatinya. Sebentar lagi, pelakunya pasti di tangkap.