Duta & Yumna

Duta & Yumna
145


__ADS_3

Pagi -pagi sekali Yumna sudah bangun. Tak biasanya, Yumna bisa bangun lebih dulu di banding Duta. Yumna langsung mandi dan memakai baju bersiap untuk pergi ke Kampus. Tasnya juga lagsung di tenteng ke bawah menuju ruang tengah.


"Na? Sudah bangun?" tanya Bunda Sinta pada putrinya.


"Sudah Bu. Mau bikin sarapan buat Kak Duta. Tadi malam Kak Duta lembur, jadi belum bangun," ucap Yumna yang langsung mmebuatkan roti bakar isi pisang cokelat keju untuk suaminya. Tidak lupa segelas kopi susu yang sudah menjadi candu.


"Bunda bangga sama kamu, Na. Kamu semakin dewasa, semakin peka dan sudah bisa menjadi istri yang baik. Pasti kamu bahagia dengan Duta," ucap Bunda Sinta yang ikut senang melihat putrinya sudah kembali ceria dan selalu tersenyum.


Yumna memeluk Bunda Sinta dan mencium Bundanya dengan penuh kasih sayang.


"Yumna yang seharusnya banyak berterima kasih pada Bunda. Karena Bunda, Yumna jadi seperti ini sekarang. Apalagi Bunda udah mau punya cucu, bUnda harus sehat terus dan bahagia terus," ucap Yumna sambil membalik -balikkan roti bakarnya di atas teflon.


"Kamu gak ingin tinggal berdua saja sama Duta? Kayak dulu lagi? Takutnya kamu canggung berada di sini?" tanya Bunda Sinta pada putrinya.

__ADS_1


"Gak Bun. Yumna lebih nyaman ada disini. Yumna mau dekat dengan Bunda saat Yumna lahiran nanti. Lagi pula, Yumna masih trauma untuk hidup berdua saja," ucap Yumna lirih.


"Bunda bukan berniat untuk mengusir. Tapi, Bunda lihat, Duta ingin hidup mandiri. Kamu tahu, disini masih ada kedua kakak kamu yang bisa menjaga Bunda," ucap Bunda Sinta mencoba bicara baik -baik. Dalam menjalankan rumah tangga itu memang gampang -gampang susah.


"Iya Bunda. Yumna tahu. Nanti deh, Yumn apikirkan lagi sama Kak Duta soal ini. Kalau bisa mau cari yang dekat kantor kak Duta, biar gak jauh kalau pulang malam," ucap Yumna menjelaskan.


"Itu lebih baik sayang. Nnati, Bunda akan main ke rumah kamu setiap kali kamu butuh Bunda temani. Bunda hanya ingin kamu dan Duta bisa menjaga privasi keluarga kalian sendiri," ucap Bunda Sinta menasihati.


Yumna sudah naik ke atas emnuju kamarnya. Tepat di waktu yang bersamaan Dafa dan Jone keluarg dari kamarnya dan menatap Yumna yang sedang membawa piring dan cangkir kopi.


"Duta sakit Bunda?" tanya Dafa tiba -tiba sambil mencomot sosis goreng ayng ada di meja makan.


"Enggak kayaknya. Kenapa?" tanya Bunda Sinta yang sudah duduk di salah satu kursi di meja makan untuk menemanin kedua putranya sarapan pagi.

__ADS_1


"Itu Yumna bawa -bawa piring segala," ucap Dafa sekenanya.


"Hemmm ... Namanya juga pasangan muda. Nanti kamu sama Yuri juga akan begitu," ucap Bunda Sinta yang menyikapi situasi itu denagn bijak.


"Cieee ... Yang udah punya jodoh ... Inget uang pelangkahnya besar ini. Masa anak pertama di langkahi anak bungsu dan sekarang anak tengah," ucap Jone berpura -pura kesal.


"Makanya cari jodoh bukan cuma sibuk kerja. Kaya gak jadi bujang tua iya," goda Dafa sambil terkekeh.


"Masih mending jadi bujang tua yang penting asetnya berkualitas dan terjamin," ucap Jone tertawa.


"Dihhh ... Mesum dasar bujang tua," ucap Dafa tertawa keras.


"Haisshh ... Pagi -pagi udah sibuk ngomongin aset. Aset apa ini? Kalian tuh ya, gak berubah dari dulu," ucap Bunda Sinta yang merasa terhibur dengan candaan dan gurauan kedua putranya yang memang absurd.

__ADS_1


__ADS_2