
Duta membalikkan tubuh Yumna dan merapikan rambut halus yang berantakan kemudian di selipkan ke bagian belakang telinga Yumna. Wajah cantik Yumna terus di pandangi oleh Duta tanpa bosan dan tanpa berkedip. Sudah lama mereka tak saling memandang satu sama lain seperti ini bahkan selama Duta buta, Duta tak bisa melihat foto Yumna yang ia bawa ke Jepang untuk menemani sepinya. Tapi wajah Yumna sudah terpatri di ingatan dan hati Duta. Mau sejauh, atau selama apapun tak bertemu, bayangan Yumna selalu menari dalam pikiran dan mimpi indah Duta.
"Uhukk ... Lama amat ya? Pada ngapain sih?" tanya Yuri yang sejak tadi sudah membalikkan tubuhnya agar tak melihat kemesraan Yumna membuat dirinya malah baper.
"Sabar bentar lagi," ucap Duta memeluk Yumna dan mengecup pipi sang istri.
"Sudah sana. Gak enak sama Yuri," ucap Duta mengendurkan pelukannya pada Yumna.
Yumna sendiri hanya mengerjapkan kedua matanya masih dengan perasaan takjub. Rasanya sungguh di luar dugaan. Duta mau menggandeng tangannya hingga depan kelas lalu mencium kening dan pipinya di depan umum. Kayak bukan Duta banget. Ternyata bukan cuma mata dan kakinya saja yang sembuh tapi otaknya juga sudah kembali normal karena tidak egois, tidak cuek, tidak dingin malahan sejak malam, sikap Duta hangat dan selalu mesra.
"Udah sana. Mau apa lagi? Mau di cium bibirnya? Boleh di cium disini?" goda Duta terkekeh sambil menyentuh bibir mungil Yumna yang sedikit membuka seperti sedang ingin minta dicium.
Yumna menggelengkan kepalanya pelan. "Gak kok, Kak."
"Ya sudah kesana, belajar yang baik ya? Jangan banyak ngelamunin Kakak," goda Duta kembali.
Bugh!!
"Awww ... Sakit Na. Kok malah di pukul sih? Emang salah?" ucap Duta meringis kesakitan.
"Maaf ya Kak. Habis Kakak bikin kesel Yumna aja. Udah ah, mau ke kelas. Selamat pagi, cuwamik," cicit Yumna manja dan Yumna berjinjit agar bisa mencium pipi Duta.
Cup ...
__ADS_1
Saat mencium pipi Duta, tubuh Yumna langsung bergetar hebat dan segera berlari menghampiri Yuri dan menggandeng sahabatnya menuju kelas. Bisa di pastikan, wajah Yumna saat ini sudah tak karuan warnanya. Memerah karena malu mirip seperti kepiting rebus.
Tangan Yumna melingkar di lengan Yuri dan menggeret sahabatnya segera masuk kelas tanpa melihat ke belakang, bagaimana reaksi Duta setelah Yumna cium.
Duta mengulum senyum menatap pungung Yumna yang menghilang masuk kelas. Berani kamu sekarang, gadis kecil, ucap Duta di dalam hati.
"Heii ... Duta!! Apa kabar!! Denger -denger lo di Jepang katanya ...," ucapan teman satu angkatannya itu terhenti saat Duta malah tersenyum seolah ingin memberitahukan bahwa dirinya baik -baik saja dan saat ini berdiri dihadapannya tanpa kekurangan satu apapun.
"Kenapa? kayak kaget gitu?" tanya Duta kembali.
"Gak apa -apa, Ta. Syukurlah kalau lo kembali dengan selamat. But the way, congrats ya, lo wisuda bulan depan kan? Cumlaude lagi. Lo hebat Ta. Orang tua lo pasti bangga," ucap lelaki itu memuji. Lelaki itu anggota BEM juga saat BEM masih di pimpin oleh Duta.
"BEM apa kabar?" tanya Duta mencari tema pembicaraan baru.
"Siapa sih ketuanya sekarang? Dulu kan perempuan? Sekarang?" tanya Duta pura -pura tidak tahu.
"Iya dulu anak dosen tuh, malahan ketangkep lagi pesta. Sekarang di ganti sama Bima anak informatika, tapi ya gitu deh," ucap lelaki itu enggan untuk bercerita.
"Kenapa? Cerita aja? Kalau demi kebenaran kita harus berontak kalau kita tidak setuju," ucap Duta tegas.
"Lo tahu kan, bangunan liar samping kampus? Dulu bangunan itu hanya dijadikan tempat pembuangan sampah umum oleh warga. Nah, tanah itu sekarang sudah diklaim milik kampus. Rencana kampus akan dibuat lapangan futsal dan lapangan basket indoor. Tapi, usut punya usut tender yang sudah di menangkan oleh salah satu kontraktor tak kunjung di kerjakan, karena ada intimidasi dari seseoarng. Ini nih, yang masih dicari. Siapa orangnya. Ternyata, bangunan liar itu tak hanya sebagai tempat pembuangan sampah saja. Disamping gang ada warung yang jual gituan, makanya ada yang gak suka, saat warung itu ikut di musnahkan," jelas lelaki itu pada Duta.
"Wah ini sih masalah serius," ucap Duta dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Udahlah Ta. Kita udah uzur, udah bukan waktunya ngurusin hal beginian lagi. Sekarang tugas kita nyelesain skripsi, wisuda, cari kerja, dan kawin. Iya kan? Kalau ngurusin urusan kampus gak akan ada selesainya, Ta. Ada juga bikin kita emosi. Lagi pula masalah ini sama sekali gak bersinggungan dengan mahasiswa lainnya, itu kan cuma rencana. Toh, kampus sudah punya lapangan outdoor yang besar dan keren," ucap lelaki itu menjelaskan.
"Tapi itu hak mahasiswa, setidaknya kita bantu untuk mewujudkan semuanya," ucap Duta mulai gemas.
Duta bukan sekedar mahasiswa yang hebat dalam berpendapat, ia juga seorang aktivis kampus yang berani dalam bersikap.
"Desas desusnya sih Bima yang ikut andil penghentian progres bangunan baru itu," ucap lelaki itu ragu.
"Bima? Jadi maksudnya Bima seorang ketua BEM tidak emndkung apa yang sudah menjadi keputusan kampus? Gitu?" tanya Duta penasaran.
"Ya," jawab lelaki itu tegas.
"Gimana kalau kita kumpulkan teman -teman kita, anggota BEM dulu untuk menyelesaikan masalah ini," ucap Duta memberikan peluang untuk semua teman -temannya yang ingin mendukung pembangungan lapangan itu untuk tetap terus berjalan.
"Jangan Ta. Orang tua Bima itu kan, orang yang punya pengaruh besar," ucap lelaki itu mengingatkan.
"Karena punya pengaruh besar, Bima gak bisa semena -mena. Bisa saja, dia bilang hal tidak -tidak kepada Bapaknya, agar semuanya terlihat kampus yang salah dan tidak memiliki ijin? Bnear gak?" ucap Duta kembali.
"Gue rasa gak mungkin kita bisa mennag Ta. Bima itu bnayak anggotanya," ucap lelaki itu dengan putus asa.
"Aku bakal bicarakan soal ini sama profesor. Yuk, biar kita bisa cari solusinya sama -sama," ajak Duta pada temannya itu. Lleki itu mengangguk setuju. Sebenearnya gemes juga, kalau bangunan yang sudah siap dibangun harus dihentikan karena sesuatu hal yang tidak inginkan.
Keduanya naik ke lantai tiga dan menemui pofesor di ruangan pribadinya.
__ADS_1
"Duta!! Apa kabar? Kamu memang hebat sekali," puji profesor pada Duta. Keduanya saling berpelukan dan terharu. Profesor tahu betul apa yang di alami Duta selama di Jepang dan kini, mahasiswanya itu berhasil dan akan di wisuda.