Duta & Yumna

Duta & Yumna
119


__ADS_3

Duta tak percaya dengan ucapan Yumna yang terkesan sedang bermain -main. Duta melangkahkan satu kakinya dan kini berdiri tepat di hadapan yumna yang malah memundurkan langkahnya menjauhi Duta, suaminya.


"Hati -hati dnegan ucapan kamu, Na," ucap Duta kemudian.


"Kenapa? Takut?" tanya Yumna kemudian.


"Kamu kenapa, Na? Jangn buat masalah baru. Kakak pulang untuk bis aberkumpul sama kamu, bukan untuk mengajak kamu berdebat apalagi ingin meninggalkan kamu. Sama sekali gak," ucap Duta lantang.


Yumna menggelengkan kepalanya dengan pasti. Yumna rindu pada Duta, bahkan sangat rindu. Saat ini un tangannya sudah ingin di rentangkan dan arsanya ingin menghambur ke pelukan Duta yang selalu membuat tubuhnya nyaman dan tenang.

__ADS_1


Yumna kembali memundurkan langkahnya dan terus menjauhi Duta.


"Na!! Kamu jangan gila!! Kamu gak bisa bicara sembarangan seperti ini. Di dalam perut kamu ada anak kita, benih cinta kita. Itu tujuan kita hidup bersama," ucap Duta terus meyakinkan Yumna untuk tidak berpikiran buruk tentang Duta.


"Tujuan kita? Itu dulu. Sekarang semua sudah berbeda setelah apa yang kita lewati bersama. Cinta kakak, sayang kakak itu tak cuma lebih dari rasa kasihan saja. Nyatanya? Papah meninggal, kakak sama sekali tidak peduli," ucap Yumna masih saja terus membahas soal Papahnya yang telah meninggal.


"Yumna!! Berapa kali Kakak bilang, kalau hal ini tidak di sengaja. Kakak terpaksa Na," ucap Duta mendesah kesal. Ia tak bisa lagi meyakinkan Yumna, istrinya untuk tetap percaya pada dirinya.


"Yumna!! Kakak gak mau. Kakak gak mau bercerai!! Sampai kapan pun, Kakak gak mau bercerai denagn kamu!!" teriak Duta keras dan lantang. Hatinya pedih mendengar ucapan Yumna yang sungguh membuat goresan luka yang begitu perih.

__ADS_1


Yumna tetap berjalan lurus dan menutup telinganya. Ia juga tersiksa batinnya. Ini bukan pilihan tepat tapi semua itu harus di akhiri. Mungkin Duta dan Yumna perlu waktu untuk menata hidup mereka kembali. Keduanya masih sangat muda, dan perjalanan hidup untuk menggapai impian mereka pun juga masih panjang. Yumna hanya ingin membiarkan Duta bisa meraih semua impian yang dulu pernah ia lontarkan saat keduanya masih dalam masa penjajakan.


Menikah muda bukanlah pilihan yang tepat saat itu. Yumna menyesali semua keputusannya di masa lalu. Apalagi Duta yang hebat, keren, pintar, tentu akan merasa kehilangan jati diirnya hanay untuk mengurus Yumna yang manja, cengeng, dan selalu ingin di perhatikan. Yumna masuk ke dalam mobil dan terus menangis. Ini bukan keputusan yang ia bawa dari rumah tadi. Kenapa? Kenapa malah jadinya seperti ini?


Awalnya Yumna hanya ingin menjemput Duta dari pemakaman sesuai permintaan Bunda Sinta. Tapi, melihat Duta, rasa kecewa Yumna semakin membuncah. Yumna kembali kesal dan emosi hingga kata -kata perminatan cerai itu lolos dari mulutnya begitu saja.


Nasi sudah menjadi bubur. Tidak mungkin Yumna menjadi orang yang labil dan menjilat air liurnya sendiri yang telah di jatuhkan ke tanah.


Duta terus mengejar Yumna dan meminta Yumna memikirkan permintaannya dengan matang. Lagi pula mana bsia perceraian itu bisa di laksanakan jika Yumna dalam keadaan hamil. Percuma, hakim pun taka kan menyetujui permintaan Yumna.

__ADS_1


"Na!! Yumna!!" teriak Duta yang semakin mendekati mobil Yumna. melihat Duta ingin menghampiri Yumna kembali, Yuman pun menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnay denagn cepat menuju ruamhnya. Duta terpaku menatap Yumna yang kini sudah sanagt berbeda sekali.


__ADS_2