Duta & Yumna

Duta & Yumna
143


__ADS_3

Yumna menegakkan duduknya dan kini menggeser agar bisa menatap Duta dengan lekat. Kedua tangan Yumna mengalung ke leher Duta dan menatap manik mata Duta yang terlihat sanagt penasaran.


"Kenapa Nick mendatangi kamu ke kampus? Ada masalah apa?" tanya Duta mengulang dengan suara masih lembut tapi terdengar cemas.


"Gak apa -apa. Cuma katanya mau ketemu Yumna terus ngobrol sambil minta di temani untuk makan siang," ucap Yumna santai.


"Kamu mau? Memang makan dimana?" tanya Duta mulai posesif.


"Di restaurant dekat kampus. Gak jauh dari situ, ada restaurant baru, restaurant Cherry," ucap Yumna lembut sambil mencium pipi kiri Duta.


"Yuri ikut?" tanya Duta dengan cepat. Duta hanya tahu Yuri, teman yang selama ini dekat denagn Yumna, istrinya. Yuri bukan hanay temana atau sahabat sejak SMA, tapi juga calon kakak ipar Yumna. Tapi, biasanya Yuri akan memberikan laporan pada Duta tentang apapun yang terjadi pada Yumna. Kejadian Nick yang datang ke kampus untuk menemui Yumna sama sekali tidak di ketahui oleh Duta.


Yumna menggelengkena kepalanya dengan cepat.

__ADS_1


"Gak ikut. Waktu itu, Yuri ada acara sama Kak Dafa. Dia juga bolos di kelas studio," ucap Yumna kemudian.


Duta menganggukkan kepalanya pelan. Duta harus terlihat tetap tenang padahal hatinya sangat gusar dan semakin di rundung oleh rasa penasaran.


"Nick bicara apa?" tanya Duta semakin to the point.


"Hemmm ... Mau tahu banget apa mau tahu aja?" goda Yumna kembali sambil memencet hidung Duta denagn jempol dan jari telunjuknya.


Duta berusaha santai dan tetap bisa mengontrol emosinya. Duta tersenyum dan menggigit bibir bagian bawahnya dan menurunkan jari Yumna yang masih menekan hidungnya.


Yumna menatap suaminya dan mencium bibir Duta penuh hasrat.


"Kak Duta marah ya?" tanya Yumna lmebut. Tangan Yumna memegang wajah Duta yang semakin terlihat lelah dan ingin segera memejamkan kedua matanya. Rasanya campur aduk di dalam hatinya saat ini.

__ADS_1


"Gak. Kakak tiba -tiba capek aja," ucap Duta beralasan.


"Kopinya minum dong," pinta Yumna lembut.


"Nanti aja deh. Kakak beneran tiba -tiba capek dan pusing," ucap Duta mencoba memberikan alasan yang tepat.


Duta tidak mau memaksa Yumna untuk menceritakan apa yang Yumna dan Nick obrolkan. Duta juga tidak mau tahu, berapa lama Nick dan Yumna pergi. Cemburu itu pasti. Tapi, Duta tidak mau Yumna jadi merasa tertekan dengan kecemasan Duta yang berdampak pada ekhamilan Yumna. Yumna yang terlalu sibuk kuliah saja, terkadang sudah mengeluh stres. Apalagi di tambah dengan masalah yang malah membuat salah paham dan hancurnya komunikasi mereka.


"Nick hanya bercerita tentang Arsista," ucap Yumna seperti sedang menahan ceritanya agar tidak di luapkan semuanya.


"Untuk apa? Ekhemm ... Maksud Kakak, buat apa Nick cerita tentang Arsista? Toh, mereka sudah menikah?" ucap Duta masih merasa ada yang aneh


"Nick ingin Arsista hamil. Tapi ... Mereka belum pernah melakukannya ...," ucap Yumna masih emnatap dua bola mata hitam Duta dengan sangat lekat.

__ADS_1


"Kenapa harus cerita dengan kamu? Masih ada etman -temannya yang laki -laki atau Kakak? Dia bisa bertukar cerita dengan Kakak. Kenapa harus kamu, Na?" tanya Duta bingung.


"Entah kalau itu Kak," jawab Yumna membuat Duta semakin cemburu dan panas sseperti terbakar api abadi.


__ADS_2