Duta & Yumna

Duta & Yumna
7


__ADS_3

Yumna sudah berada di atas kasur dan tubuhnya sudah di baringkan disana. Ada Yuri yang duduk di tepi ranjangnya sambil memegang tangan Yumna dan di usap lembut. Kepala Yumna masih terasa sakit dan pening. Satu tangan Yumna terulur ke atas dan memegang kepalanya yang masih terasa pusing dan berputar. Kedua bola matanya perlahan di buka dan mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya terbuka dengan jelas.


Pandangan Yumna mengedar ke seluruh ruangan dan akhirnya tatapannya berhenti pada satu titik, yaitu pada sosok yang kini tersenyum padanya. Siapa lagi kalau bukan Yuri, sahabatnya.


"Yu ... Yuri ...." panggil Yumna pelan sekali. Bibirnya yang pucat dan putih hanya mampu mengeluarkan suara lirih dan bergetar.


"Iya Na. Aku ada di sini," jawab Yuri pada Yumna yang masih terlihat lemas dan lemah. yuri tersenyum pada Yumna.


"Yumna kenapa Ri? Kepala Yumna sakit sekali," tanya Yumna lirih. Yumna ingin duduk tapi di hentikan oleh Yuri.


"Jangan banyak bergerak dulu, istirahat saja dulu," ucap Yuri pada Yumna dan di ikuti anggukan kepala Yumna.


Yumna menuruti ucapan Yuri. Yuri berpamitan sebentar ke belakang untuk mengambil bubur kaldu ayam yang sudah ia buat tadi dengan teh panas manis untuk mengembalikan daya tahan tubuh Yumna yang masih terlihat lemas dan lemah.


Yuri kembali ke kamar Yumna dengan membawa satu nampan berisi makanan dan minuman untuk Yumna.


Tadi Yuri datang tepat waktu kalau tidak, entah apa yang akan terjadi pada Yumna, sahabatnya. Yumna yang sudah tergeletak di lantai dapur dengan kondisi pucat pasi dan tubuh mulai dingin karena suhu ruangan yang begitu dingin.


Dengan sigap, Yuri menelepon dokter yang biasa memeriksa keluarganya untuk memeriksa Yumna.


"Makan dulu yuk? Terus minum obat, kalau kamu sembuh, besok kita ke Jepang," pinta Yuri dengan senyum merekah.


Mendengar ucapan Yuri, pandangan Yumna langsung lengkat menatap kedua bola mata Yuri dengan binar mata yang bahagia.


"Yuri? Kamu serius? Mau bawa Yumna kesana? Ke Jepang?" tanya Yumna dengan binar mata yang bahagia.

__ADS_1


Yuri mengangguk penuh semangat agar Yumna ikut antusias dengan ajakan Yuri besok pagi ke Jepang.


"Serius. Ini aku tunjukkin, aku udah punya tiketnya buat kamu," ucap Yuri meletakkan nampannya did nakas dan mengambil dua tiket yang ia pesan secara online, besok tinggal tukar dengan tiket aslinya di Bandara.


Yumna semakin berbinar dan yakin sekali bahwa ia bisa berangkat ke Jepang untuk menemui Duta.


"Kamu beli Ri? Kamu tahu tempat Kak Duta? Yumna hanya tahu alamatnya tapi gak tahu tentang Jepang," ucapnya masih dengan rasa bahagia.


"Itu soal gampang. Sekarang yang terpenting kamu mau makan, terus minum obat dan aku beresin pakaian kamu, besok kita berangkat ke Jepang. Oke?" pinta Yuri sambil mengambil satu mangkok buburnya untuk di suapkan pada Yumna.


"Aku mau makan terus minum obat tapi bantu Yumna duduk dulu, agak susah ini," pinta Yumna lirih.


Yuri pun melebarkan senyumannya dan membantu Yumna duduk lalu bersnadar pada tumpukan bantal agar punggungnya tidak sakit.


Pokoknya saat ini, suasana hati Yumna sedang bahagia. Yumna tak bisa lagi mengungkapkannya dengan kata -kata. Terserah denagn penolakan Duta pada Yumna kalau Yumna sudah ada di Jepang, Duta mau bilang apa.


"Sama -sama. Pokoknya bubur ini sudah harus habis dan minum teh manisnya lalu minum obat dan tidur. Oke? Biar tubuh kamu fit buat perjalanan panjang besok pagi. Jadi biar aku yang beres -beres rumah ini dan menyiapkan smeua pakaian kamu ke adalam koper," ucap Yuri sambil menyuapkan satu sendok bubur ke dalam mulut Yumna.


Beberapa menit kemudian semua bubur di mangkuk itu habis, begitu juga teh manis dan obat yang memang harus di minum Yumna. Yumna ingin cepat sembuh dan sehat kembali agar ia bisa ke Jepang besok dengan kondisi tubuh yang stabil.


***


Yumna sudah beristirahat kembali setelah selesai makan dan minum obat.


Yuri langsung membereskan semua ruangan di apartemen ini dan menyiapkan pakaian Yumna untuk pergi ke Jepang esok pagi. Tugas Yuri adalah hanay menjaga Yumna dan mengantarkan gadis itu sampai ke Jepang sesuai amanat Bunda Gita dan Papahnya Duta.

__ADS_1


Tadi sore, Bund Gita menelepon Yumna namun tak kunjung di angkat oleh Yumna malahan ponsel Yumna tidak aktif. Karena takut sesuatu terjadi pada Yumna, Bunda Gita akhirnya menghubungi Yuri sebagai sahabat Yumna. Yuri adalah satu -satunya sahabat Yumna, sekaligus calon bagian dari keluarga Yumna karena ia akan menikah dengan salah satu Kakak Yumna.


Yuri menelepon Bunda Gita kembali mengabarkan kondisi Yumna terbaru.


"Bunda Gita, Yumna sedangistirahat, tadi sudah siuman, terus mau makan dan minum obat," ucap Yuri memberi infi kepada Bunda Gita agar kedua mertuanya itu lebih tenang, begitu juga denagn Duta yang ikut mendengarkan.


"Terima kasih Yuri. Tolong jaga Yumna untuk Bunda dan Duta. Duta sudah siap bertemu Yumna dnegan kondisinya seperti ini. Untuk apa berlarut -larut jika memang semuanya sudah takdir," ucap Bunda Gita denagn senang.


"Iya Bunda. Yuri pasti menjaga Yumna dengan baik. Yumna memang gampang kepikiran jika ada suatu masalah, baik masalah kecil atau masalah besar, jadi harap mengerti Yumna juga Bunda," ucap Yuri menjelaskan. uri bersahabat denagn Yumna sudah lama sekali, lebih dari lima tahun ini, dan Yumna sudah tidak canggung dan tidak sungkan untuk curhat tentang hidupnya.


"Iya Yuri, Duta juga bilang begitu, kalau Yumna itu pemikir dan mudah berpikir negatif. Makanya bantu Bunda ya, Yuri," pinta Bunda Gita dengan nada memohon.


"Iya Bunda Gita, Yuri pasti bantu. Jadi besok, Yuri dan Yumna ke Jepang, nanti kita naik taksi saja menuju alamat yang Bunda Gita kasih ke Yuri," ucap Yuri menekankan kembali.


"Benar Yuri, Bunda tunggu ya," ucap Bunda Gita pelan.


Keduanya mengakhiri sambungan telepon itu dan Yuri melnajutkan aktivitasnya membereskan apartemen Yumna.


***


Hari ini, Duta melakukan pemeriksaan kembali oleh dokter spesialis yang sejak awal merawatnya. Kondisi Duta sudah lebih baik dan beberapa hari lagi boleh pulang. Luka di tubuhnya sudah mulai mengering dan sembuh. Hanya saja, di bagian lutut belum bisa di gerakkan secara sempurna, jadi Duta belum bisa berjalan dengan baik, mudah lelah dan akhirnya menggunakan tongkat atau kursi roda.


"Kondisi tubuhnya mulai stabil dan membaik, asal tetap mengikuti terapi jalan ini, lama -lama lututnya juga bisa di gerakkan dan berfingsi dengan baik seperti semula," ucap dokter spesialis itu memberikan semangat penuh pada Duta yang hanay bisa menatap kosong dan tersenyum kecut.


Duta, tidak bisa membayangkan jika esok ia harus bertemu dengan Yumna. Kata apa yang akan terlontar dari bibir Yumna saat melihat dirinya yang seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2