Duta & Yumna

Duta & Yumna
111


__ADS_3

Pesanan makanan mereka telah datang, tapi Yumna sama sekali tidak bergairah lagi untuk menikmati makanan yang ia pesan. Padahal tadi Yumna begitu sangat ingin mencicipin es kelapa muda yang lanngsung ia minum dari buahnya di bawah terik amtahari siang ini. Tentu akan sangat segar sekali mengaliri tenggorokannya yang mulai mengering.


"Kok di diamkan saja? Dimakan dong?" titah Nick yang baru tersadar kalau Yumna hanya diam memandangi Nick.


"Gak nafsu," jawab Yumna datar.


"Gak nafsu? Tadi kamu yang pilih makanannya, kamu juga yang pesan katanya pingin banget. Sekarang bilang gak nafsu? Secepat itu mood ibu hamil berubah?" tanya Nick yang berusaha membuat Yumna mau makan.


Dengan sabar, Nick memotongkan seluruh bakso telor dengan potongan kecil lalu menancapkan garpu untuk mengambil satu per satu potongan kecil itu dan menyuapkan ke mulut Yumna. Tapi, Yumna tetap emngunci mulutnya. Tiba -tiba ia rindu sosok Duta. Lelaki yang baik, murah senyum jika bersamanya dan sudah tentu lembut. Entah apa kabarnya hari ini? Yumna sudah mendiamkan Duta sejak kepulangannya ke Indonesia.


Nick meletakkan kembali garpu itu dan melanjutkan makan siangnya tanpa peduli pada Yumna. Saat ini, lebih baik Yumna didiamkan, bukan di abaikan tapi biarkan Yumna tenang dengan sendirinya.

__ADS_1


"Yumna mau berjalan di pinggir pantai ya?" ucap Yumna tiba -tiba tanpa menunggu jawaban Nick ia bergegas berdiri dan pergi meninggalkan kedai es kelapa itu.


Langkah kaki Yumna begitu cepat ingin menggapai air laut yang tentunya terasa hangat setelah tergenang di bawah sinar matahari yang terik. Sama seperti hatinya saat ini, rasanya panas, campur aduk tak karuan. Entah apa yang sebenarnya ia rasakan. Yumna belum menemukan kenyamanan.


"Kak Duta!!" teriak Yumna lantang dan begitu keras saat tubuhnya sudah berdiri di bibir pantai dan kedua kakinya mulai basah terkena sisaan gulungan ombak yang berakhir di bibir pantai dan tertarik kembali ke pantai yang luas itu.


Tak terasa air mata Yumna telah jatuh membasahi pipinya. Mau sampai kapan ujian pernikahannya ini terus mendapat cobaan. Mau sampai kapan Yumna bertahan dan mengalah dengan keadaan? Mau sampai kapan Yumna hanya bisa pasrah mencintai Duta tanpa ada rasa lelah dan menyerah.


Nick hanya terdiam dan tertegun menatap Yumna dari belakang sambil merekam semua yang Yumna lakukan dari belakang. Jelas sekali, Yumna sedang meluapkan rasa kecewa, rasa kesal, rasa menyesal. Namun, ia bisa apa? Tubuhnya rapuh, ia butuh Duta, suaminya. Tubuhnya hanay butuh pelukan dan dan kecupan penuh kasih sayang yang mungkin bisa mengembalikan moodnya menjadi lebih baik. Yumna sedang terpuruk dan terjatuh, ia butuh Duta sebagai sosok hebat yang bisa menyelamatkan hidupnya, bukan saja sebagai pahlawan kesiangan, tapi sebagai pahlawan yang bisa ia banggakan, ia andalkan. Yumna hanya ingin di semangati, di motivasi dan menemukan kembali jati diirnya yang hilang tanpa arah.


Yumna hanya punya Duta, lelaki yang amat ia percayai. Lelaki yang ia hargai, lelaki yang menjadi surganya. Tiada lagi yang lebih berartisaat ini kecuali Duta dan bayinya yang saat ini di kandungnya.

__ADS_1


***


PRANK!!


"Ta? Loe kenapa? Baik -baik saja kan?" tanya Herlanda melihat gelas yang sdeang di pegang Duta terjatuh begitu saja dan pecah berkeping -keping di lantai.


"Eunghhh ... Gak apa -apa kok. Gue baik -baik aja," jawab Duta tergagap melihat pecahan kaca yang sudah berserakan di lantai.


Herlanda segera emmanggil OB kantor untuk membersihakn pecahan kaca gelas itu di lantai.


Jantung Duta tiba -tiba terasa cepat berdetak. Hatinya terasa perih dan pikirannya etrtuju pada Yumna.

__ADS_1


"Ta? Duta!!" panggil Herlanda panik.


__ADS_2