
Tidak ada sahutan apapun dari luar pintu depan rumahnya. Memang tidak mendengar teriakan Yumna atau sengaja tidak ingin menjawab. Yumna tak lantas langsung membuka pintu rumahnya. Ia selalu ingat pesan Duta, suaminya untuk tidak denagn mudah membuak pintu bagi orang lain yang mengetuk pintu rumahnya. Alasan Duta tepat dan realistis, mereka disini tak punya keluarga atau sanak saudara, jadi tidak akan mungkin ada orang yang bertamu ke rumahnya. Kalau pun teman, tentu orang itu sudah mengenal Duta dan Yumna lama, kalau baru sehari? Ada kemungkinann itu bukan orang yang memiliki niat baik.
Yumna melihat siapa yang datang ke rumahnya pagi -pagi sekali dengan menggeser sedikit tirai berwarna putih. Kedua mata Yumna menatap lekat sosok wanita dengan rambut pendek yang berdiri membelakangi pintu, sehingga Yumna tidak bisa melihat wajah perempuan itu.
"Siapa sih?" batin Yumna bergejolak. Yumna tidak ingin terjadi sesuatu pada dirinya dan pada bayinya. Sedikit ada trauma dan ketakutan sendiri.
Yumna menarik napas dalam dan berusaha tetap tenang lalu mengehmbuskan napas itu secara perlahan. Dengan berdoa agar semuanya baik -baik saja.
Ceklek ...
"Ada apa ya?" tanya Yumna pada wanita yang berdiri sambil menatap taman bunga miliknya di bawah. Sangat indah dan begitu cantik.
"Selamat pagi. Yumna?" saspa wanita paruh baya itu seperti sudah sangat akrab sekali. Tak hanya itu, ia tahu nama panggilan Yumna.
"Pa -pagi. Betul sekali. Saya Yumna. Ibu siapa? Lalu ada perlu apa?" tanya Yumna dengan sopan. Biar bagaimanapun juga, wanita itu lebih tua dan Yumna harus bersikap hormat pada orang yang lebih tua walaupun sama sekali tidak di kenal
"Boleh saya masuk? Biar kita lebih kenal. Saya Maheswari, pemilik paviliun ini," ucap Maheswari pada Yumna.
"Ohh ... Maaf Ibu. Silahkan masuk. Maafkan Yumna yang sama sekali tidak mengenal pemilik paviliun ini. Memang kemarin supir Om Wisnu yang kasih kunci rumah ini Jadi, baik Kak Duta dan Yumna tidak tahu soal pemilik rumah ini," ucap Yumna jujur sambil mempersilahkan Ibu Maheswari itu masuk ke dlama rumah sewa yang mungil itu.
"Tidak apa -apa. Kebetulan kemarin lihat, kalau rumah ini mulai diisi dan sudah ada oranagnya. Rumah saya, tepat di belakang paviliun ini. Kmau bisa bermain kesana kalau tidak ada temannya. Dengan senang hati, Ibu akan menerima kamu," ucap Ibu Maheswari pelan dan duduk bersandar di sofa miliknya.
"Biar nanti. Kak Duta dan Yumna main ke rumah Ibu, kalau Kak Duta sudah pulang kerja, sekalian untuk saling mengenal," ucap Yumna dengan senyum yang begitu ramah.
"Iya Yumna. Kamu cantik sekali," ucap Ibu Maheswari pada Yumna.
__ADS_1
"Ahhh Ibu, Jangan memuji terlalu berlebihan. Yumna biasa saja kok. Ehemm ... Sampai lupa. Mau minum apa? Biar Yumna Buatkan," ucap Yumna lembut.
"Tidak perlu Yumna. Ibu hanya mampir sebentar. Kebetulan Ibu mau pergi ke supermarket untuk berbelanja. Mungkin kamu mau ikut?" tanya Ibu Maheswari pada Yumna untuk menawarkan.
"Maaf Bu. Bukannya mau menolak ajakan Ibu. Tapi, pagi ini, Yumna mau pergi ke kampus dan mendaftar kuliah lanjutan di sana," jawab Yumna jujur.
"Ohhh ... Masih kuliah? Jurusan apa? Anak angkat Ibu juga kuliah di Indonesia, sepertinya dia akan melanjutkan proyek keluarganya. Tapi, dia mau berlibur dulu di Paris," ucap Maheswari pada Yumna.
"Ohh ya. Yumna ambil arsitek, sama seperti Kak Duta, dia juga arsitek," ucap Yumna pada Maheswari.
Belum juga pembicaraan mereka selesai. Ponsel Maheswari berbunyi dan beliau ijin untuk mengangkat ponselnya lalu keluar untuk menelepon. Beberapa menit kemudia, Maheswari masuk ke dlama dan berpamitan karena ia harus segera pergi sekarang.
"Ibu pergi dulu. Ada teman sudah menunggu Ibu. Ibu pamit ya. Ibu tunggu datang kerumah nanti," ucap Maheswari mengingatkan.
"Iya Bu. Siap," jawab Yumna mengantarkan Maheswari keluar rumah dan ia langsung keluar pagar dan naik ke dalam mobil dengan cepat.
***
Pagi ini, matahari terlihat sanagt cerah dan cuaca juga mendukung untuk menemani jalan sehat Yumna menuju kampus. Yumna jalan perlahan sambil sesekali saling berkirim pesan pada Duta dan menceritakan bahwa tadi Maheswari, pemilik ruamh yang di sewanya datang untuk berkenalan tapi tak lama pergi ke supermarket.
Duta sendiri juga bercerita sudah bertemu dengan Om Wisnu. Ternyata, Om Wisnu juga memiliki perusahaan besar yang ada di Indonesia dan kini akan di berikan kepada putri semata wayangnya. Om Wisnu juga sudah memperkenalkan Duta pada smeua pegawai di kantornyaa dan mengajak Duta untu tahu seperti apa pekerjaan seoarng arsitek muda.
Duta di beri tugas untuk menggambar dan emmbantu membuat maket sesuai dengan rancangan yang sudah di otorisasi oleh Om Wisnu. Duta sanagt gemas, dan akhirnay ia memilih menelepon Yumna mumpung ia tidak terlalu sibuk.
"Hai sayang. Sudah rindu ini," ucap Duta menggoda istrinya.
__ADS_1
"Hai suami, rindu juga. Yumna lagi jalan kaki, Kak. Belum sampai," ucap Yumna yang langsung memasang ear phone dan emmasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Kakak temani ya? Biar gak ada yang culik atau di goda orang lain," ucap Duta terkekeh sendiri.
"Dih ... Emang Yumna anak kecil apa?" ucap Yumna makin sewot.
"Biasanya kalau sewot makin cantik lho. Deket sih, Kakak cium," goda Duta kembali tertawa sambil menatap rancangan yang ia hapal cara menggambarnya.
"Mesum ih," ucap Yumna pada Duta. Kedua mata Yumna menatap lekat ke arah depan. Ia melihat Ibu Maheswari, baru saja Yumna akan memanggilnya, namun niatnya ia urungkan karena sesuatu hal. Yumna hanya menatap Maheswari yang berjalan mesra dengan seorang laki -laki yang tentunya itu suami Maheswari.
"Masa sama suami sendiri di bilang mesum," ucap Duta.
"Ehhmmm ... Kak," panggil Yumna pelan.
"Ya ... Kenapa? Sudah sampai?" tanay Duta kembali.
"Ekhmm bukan itu. Nanti malam kita ke rumah Ibu Maheswari, tadi kita di undang. Biar nanti pulang dari kampus, Yumna beli kue gitu sebagai buah tangan aja. Gimana?" tanya Yumna pada Duta.
"Boleh. Ide bagus itu sayang. Ya sudah. Kalau sudah sampai di kampus, kabari Kakak. Kakak mau lanjut kerja ya," ucap Duta dengan cepat. Duta merasa ada yang aneh dengan gambar rancangan itu.
"Oke. umna tutup ya, Kak. Nanti Yumna kabarin lagi," ucap Yumna langsung mematikan ponselnya dan fokus berjalan di di trotoar menuju kampus.
Kampus yang besar dan cukup terkenal di Kota Paris. Yumna langsung menuju lobby dan mencari tahu untuk infrmasi tentang mahasiswa yang akan transfer perguruan tinggi antar negara.
"Heii ... Yumna!!" teriak Nick teman SMA -nya dulu.
__ADS_1
"Heii ... Nicolas? Kamu Nick?" tanya Yumna takjub menatap Nick.