
Beberapa hari kemudian ...
Di kediaman rumah Yumna sedang di gelas acara syukuran empat bulanan kehamilan Yumna. Beberapa teman, kerabat dan tetangga di undang oelh Bunda Sinta untuk acara pengajian sore hari.
Yumna ikut duduk di antara para ibu -ibu yang seumuran denagn Bundanya.
"Beneran lagi hamil?" tanya seorang Ibu yang tinggal di blok berbeda denagn Yumna.
"Benar Bu," jawab Yumna singkat.
"Memang sudah menikah?" tanya Ibu itu muali penasaran.
"Sudah Bu. Ini cincin perniakhannya," jawab Yumna sambil menunjukkan bukti cincin pernikahannya dengan Duta.
__ADS_1
"Ohh ... Cuma cincin sih. Tinggal beli di toko emas terus minta d ukur juga bisa. Gampang itu. Terus mana suaminya? Kok gak ada. Dimana -mana kalau acara empat bulanan begini, pasti suaminya ada untuk mendampingi dan ikut mendoakan," ucap Ibu itu dengan wajah sinis.
"Memang harus di publikasikan yang mana wajah suami Yumna? Nanti kalau pada lihat malah muji terus," jawab Yumna sekenanya. Yumna yang etrkenal sebagai gadis ramah dan lemah lembut ternyata kini sudah berubah emnjadi gadis yang berani dan tidak mau kalah untuk di tindas.
"Hemmm ... Lagi pula memang tidak pernah ada pernikahan di rumah ini. Jangan -jangan hamil duluan ya," ucap Ibu itu membuat Yumna geram dan kesal.
Kebetulan sekali, Bunda Sinta mendengar ucapan sinsi tetangganya itu yang terus emnerus menyindir Yumna, putrinya.
"Ya ampun jeng Gondo. Yumna memang sudah menikah. Menikahnya waktu itu di Bali. Sekarang sedang hamil empat bulan, suaminya ada tapi memang lagi sibuk kerja urus proyek besar pembuatan mall. Maklum, suami Yumna itu profesinya tukang gambar," puji Bunda Sinta membuat tetangganya itu langsung terdiam.
"Ini Duta, suami Yumna, menantu saya, Jeng Gondo," ucap Bunda Sinta dengan nada sombong. Duta sendiri bingun lalu ikut menyambu tangan tetangganya itu setelah Buda Sinta memperkenalkan menantunya pada tetangganya yang penuh rasa penasaran.
"Kak Duta ngapain kesini," bisik Yumna ketus.
__ADS_1
Duta tersenyum manis dan sengaja memegang perut Yumna yang mulai terlihat menonjol ke depan. Moment di hadapan publik itu harus benar -benar ia nikmati sebelum Yumna benar -benar membencinya setelah ini atau bahkan bisa sebaliknya.
"Mau ketemu ini," bisik Duta dengan senang bisa menyentuh perut Yumna. Selama ini, Duta hanya bisa membayangkan dan bermimpi mengusap perut Yumna, dan baru kali ini, Duta bisa melakukan itu dan rasanya luar biasa menyenangkan.
"Dan tentunya mau bertemu istri Kakak yang paling manis dan cantik, yang selalu mengganggu pikiran Kakak," imbuh Duta berbisik membuat Yumna memundurkan wajahnay karena Duta terlalu mendekatinya.
"Gombal," jawab Yumna berbisik denagn wajah datar.
Acara syukuran itu pun di mulai. Semua orang yang hadir ikut mendoakan agar kandungan Yumna selalu sehat dan di beri kelancaran hingga persalinannya nanti.
Duta, Bunda Sinta dan Yumna mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran semua yang telah datang dan mau mendoakan denagn tulus.
Selesai acara, Yumna pun langsung naik ke atas menuju kamar tidurnay. Ia malas bertemu denagn Duta. Siapa juga yang mengundang lelaki itu datang ke rumah ini.
__ADS_1
Tok ... Tok ... Tok ...
"Na ... Yumna!! Ini Kakak, Na," panggil Duta lembut dari luar kamar Yumna.