
Dor!!
Dor!!
Dor!!
Suara itu begitu menggema dan terdengarjelas dari arah lantai dua, tepat di dalam kamar apartemen milik Duta.
Darah itu muncrat seketika saat peluru tajam itu berhasil menembus dengan tepat sasaran. Tidak membutuhkan waktu lama semuanya pergi tepat waktu dan masuk ke dalam ruangan mereka. Ya, kamar yang letaknya hanya berbeda dua kamar dari kamar milik Duta.
Ketiga lelaki itu memakai pakaian preman biasa dengan sarung tangan hitam di kedua tangannya. Senjata apinya sangat kecil, berukuran pas dalam genggaman telapak tangan saja.
Semua menutup mata saat suara tembakan brutal itu mengotori kamar Duta.
"Gila!! Tepat banget prediksi lo, Fi. Gue harus banyak berterima kasih sama lo ini," ucap Duta pada Kahfi.
"Alur permainannya sudah kebaca Ta. Lo di teror, terus ada kiriman paket yang mengisyaratkan bakal ada pertempuran darah selanjutnya. Lalu ada hal lain lagi, Yuri hilang. Itu yang bikin gue yakin, mereka mau menghabisi lo atau Yumna," ucap Kahfi pada Duta.
"Gue gak habis pikir aja. Siapa sih dalang dari ini semua. Kayaknya kita bikin telepon grup dengan smeua keluarga besar gue, baik keluarga Yumna, keluarga gue dan keluarga Yuri. Nanti lo semua kudu bantu gue dalam menjelaskan. Bukan gue gak bisa, tapi lebih meyakinkan kepada orang tua, biasanay mereka agak sulit menerima," ucap Duta sedikit ragu.
"Siap Ta. Lo harus tenang dan tetap berpikir jernih, bahwa semuanya akan baik -baik saja, dan kita semua selamat," tegas Kahfi pada Duta dan ang lainnya.
***
"Hemmm ... Kenapa gadis ini yang kamu bawa kesini?" tanya bos besar itu menggunakan topeng saat bertemu dnegan Bima.
"maafkan saya Bos. Bukan kah dalam pesan singkat itu, ciri -cirinya ini?" ucap Bima membela diri.
"Aku mau Yumna!! Kau dengar kan aku baik -baik!! Aku tidak butuh dia!! Tapi berhubung dia sudah masuk dalam dunia ku, dia harus mati perlahan!! Atau mau mati dengan satu tembakan?" teriak bos besar itu dengan suara palsu.
"Jangan!! Tolong jangan bunuh Yuri!!" ucap Yuri lirih. Tubuhnya lemas sekali karena belum makan seharian ini. Ditambah Yuri yang memang sedang kurang sehat juga.
"Semakin kamu berteriak, itu sama sekali tidak membuatku iba denagn kamu, gadis cantik. Kau itu tidak ada apa -apanya di bandingkan dengan sahabatmu yang cantik itu," tawa bos besar itu menggelegar.
"Kenapa Yumna? Apa salah dia, bos?" tanay Bima penasaran.
"Itu urusanku!! Apapun yang menjadi urusanku tetap urusanku dan kau tidak usah perlu tahu. Sekarang pergi!! Tugasmu selesai. Kamu bisa bersenang -senang!!" ucap bos besar itu tertawa. Bima pun berbalik dan akan segera pergi dari tempat itu lalu ikut bersenang -senang di lantai bawah yang sedang mengadakan pesta besar.
DOR!!
"Argh!! Ba -bajingan kamu, bos!!" ucap Bima terbata dan tubuhnya langsung luruh jatuh ke lantai dengan darah segar mengalir deras dari kepalanya.
Yuri menelan air liurnya saat mendengar tubuh Bima yang terjatuh dan tergeltak di dekatnya. Sungguh keji sekali lelkai ini sama sekali tidak ada ampun bial berbuat kesalahan.
Yuri menunduk dan meneteskan air matanya. Rasanya ingin pulang dan kembali ke rumahnya lalu memeluk kedua orang tuanya dengan erat. Yuri benar-benar ketakutan. Ia berada di tempat yang salah dan tak mungkin bis akeluar hidup -hidup dari sini. Yuri ingin menangis dan menahan air matanya agar tetap terkumpul di pelupuk matanya. Jangan sampai lelaki yang di sebut bos besar itu melihatnya menangis.
__ADS_1
"Apa kamu juga ingin hidupmu berakhir seperti dia kucing manis?" tanay bos besar itu menatap tajam ke arah Yuri.
Yuri hanya menggelengkan kepalanya pelan dan tetap menunduk lalu terdengar pelatuk pistol di tekan dan itu tandanya peluri di dalam pistol itu akan segera di lepaskan dari sarangnya dan mencari mangsa yang telah di bidik tepat.
DOR!!
"Arghhh!!" teriak Yuri dengan suara keras.
***
"Yuri!!" teriak Yumna keras dengan posisi terduduk menatap ke arah kanan, kiri, atas dan bawah untuk mencari sosok Yuri yang ada dalam mimpinya telah mati.
Keringat dingin sudah membasahi kening Yumna dan napasnya terdengar tersengal -sengal.
Duta dan teman -temannya langsung masuk ke dalam kamar dan emmeluk Yumna yang terlihat kacau.
"Kamu kenapa Na? Mimpi buruk lagi?" tanya Duta lembut dan mneghapus keringat yumna yang menutupi keningnya.
"Kak ... Yuri Kak. Yuri di tembak mati oleh seseorang!! Kak Duta, tolong Yuri, Kak!! Yuri ada di sebuah gedung tua yang gelap. Tubuhnya penuh darah dan di masukkan kedalam ruangan kosong, dingin dan sangat gelap," ucap Yumna menceritakan keadaan yuri di dalam mimpinya.
"Sayang ... Yuri baik -baik saja kok. Dia ada di rumah, mau Kakak suruh datang?" tanya Duta pada Yumna. Setidaknya agar Yumna tenang dulu dan tidak berpikir negatif. Apalagi jika Yumna tahu yang sebenarnya, bahwa Yuri di culik. Bisa nangis darah dan benar -benar stres lalu depresi.
Duta terus mengusap rambut Yumna. Lita berlari mengambilkan air teh manis hangat agar Yumna tenang.
"Ini Ta, suruh minum dulu," titah Lita pada Duta.
"Sayang ... Minum dulu yuk tehnya biar kamu sedikit tenang. Nanti kamu ceritain lagi tentang mimpi kamu itu," titah Duta memberikan minuman teh manis hangat itu pada Yumna. Gelas itu sengaja langsung di dekatkan pada bibir Yumna agar Yumna bisa menyeruput seidkit demi sedikit.
"Apa mau di suapin dikit -dikit pakai sendok. Buka mulutnya yuk, ini enak lho, sayang," pinta Duta yang mulai frustasi melihat tatapan kosong Yumna dengan bibir yang bergetar.
"Ta ... Yumna kenapa Ta?" tanya lIta begitu panik melihat Yumna yang mulai pucat.
"Ini yang gue takutkan," ucap Duta lirih.
Kahfi tak mnejawab dan hanya mengusap pelan pundak Duta.
"Kita keluar dulu. Rawat Yumna dulu. Biar Lita buatkan bubur buat Yumna. Lo bisa kan Lit? Ada super bubur juga, biar instant dan cepat. Sana,"
titah Kahfi pada Lita.
Semua teman -teman Duta keluar dari kamar tidur dan membiarkan Duta berdua saja dengan Yumna.
***
"Kasihan ya, Yumna. Itu depresi akut. Kakak gue pernah gitu waktu di tinggal nikah sama tunangannya. Sampai di pasung. Parahnya kalau lihat laki -laki pengen mukul, termasuk gue mau di pukul," kenang Ferdi mengingat masa itu.
__ADS_1
"Serius Di? Terus nasib Kakak lo gimana? Kalau sampai di pasung gitu? Kan gak bisa jalan Di," tanya Omesh pada Ferdi.
"Sekarang Kakak gue udah tenang di alam kubur. Satu bulan gak mau makan dan gak mau minum, akhirnya tubuhnya lemas, dan meninggal," ucap Ferdi jujur sekali.
"Emang gak di bawa ke rumah sakit? Biar sembuh terus masukkan ke rumaah sakit jiwa. Siapa tahu sembuh," tanya Ega ikut prihatin dengan keadaan kakak Ferdi.
"Bokap gue gak tega mau bawa Kakak gue ke ruamh sakit jiwa. Bokap gue selalu beranggapan kalau Kakak gue gak gila cuma depresi aja," ucap Ferdi pelan.
Semua mengangguk paham dan berhenti sampai di sana membahas tentang keluarga Ferdi. Mengupas aib orang itu tidak baik.
"Ehhh ... Guys, Polisi datang tuh!! Masuk ke kamar Duta. Wah ... Merasa di permainkan ini nanti," ucap Andrew terkekeh sendiri.
Polisi itu menekan hidungnya agar tak mencium bau amis di kasur yang merah dengan darah.
Tidak membutuhkan waktu lama, penangkapan ketiga orang itu berhasil dan dianggap sebagai pecobaan pembunuhan.
Ketiga pelaku saat di giring begitu tenang dan santai. Mereka pikir misi mereka selesai dan ternyata tidak.
Seorang room boy apartemen juga di jadikan saksi saat bunyi keras pistol mengeluarkan pelurunya dan mengarahakan ke arah tempat tidur secara beruntun.
Saat di buka selimut itu tidak ada mayat di sana tapi ada ebberapa bungkus plastik. Polisi itu mengira mayatnya sudah di buang oleh pelaku.
"Kita cari tahu soal Yuri, lewat Bima, bisa kita coba," tanya Ariel pada semua temannya.
"Gak mungkin dong. Kalau kita lacak ponsel Bima? Ada yang punya nomornya?" tanyya Ferdi dengan cepat.
Ega memberikan nomor Bima pada Ferdi dan Ferdi mulai melacak. Ferdi adalah anak teknik informatika, paling pandai urusan sistem.
"Lihat tuh titik merahnya. Tandanya posisi Bima berhenti di sana sudah cukup lama," ucap Ferdi menjelaskan dan mencari arah tepat titik mapsnya lalu mencari alamat itu.
"Mana itu? Gedung tua di jalan makam pahlawan. Lo denger tadi Yumna teriak, ia seolah lihat Yuri di dalam ruangan gelap, sunyi dan dingin denagn lumuran darah. Ada ikatan batin gak sih? Bisa jadi Yuri ada di sana juga," ucap Ega tiba -tiba.
"Catat alamatnya cepat. Takutnya ini jadi titik awal kebukanya masalah ini. Lo berarti bisa lacak smeua orang dong, Fer?" tanya Andrew sambil menyipitkan kedua matanya.
"Bisa, tapi gak gitu juga kan? Ini privasi seseorang. Gue berbujat gini karena kita dalam masalah besra dan teman kita sedang tidak di ketahui kondisinya," ucap Ferdi mencoba menjelaskan. Pada intinya hal seperti ini tidak boleh di salah gunakan.
"Coba kita cek posisinya profesor, bikapnya Alice, Alice, Atika dan Yoshua," pinta Omesh pada Ferdi.
"Oke, gue cek. Sebutin nomornya terus lo tulis ya, biar kita gak ngulang lagi ini, takut internettnya bermasalah. Karena ini masuknya seperti hack data pribadi orang," ucap Ferdi pada teman -temannya.
"Oh gitu. Baiklah gue udah siap nulis alamat ini," ucap Ega serius melihat layar monitor.
"Profesor ada di sebuah apartemnen. Hah? Apartemen yang sama dengan kita. Dia ada di gedung ini," teriak Ferdi langsung mematikan datanya.
"Hah? Apa? Profesor ada di sini juga?" tanya Andrew tak percaya.
__ADS_1
Jantung Ferdi berdegup keras. Dia yang nge -hack, dia juga yang stres sendiri. Karena kalau ketahuan, Ferdi bisa kena pasal UU IT dan bisa di penjara.