
Arsista terjatuh dan menangisi keadaannya sekarang yang begitu cepat berbalik seratu delapan puluh derajat.
"Aku salah apa?!" teriak Arsista denagn suara keras dan begitu lantang.
"Apa salah aku mencintai kamu, Duta!! Apa salah!!" teriak Arsista kembali denagn suara lantang dan tak peduli lagi pada orang -orang yang allu lalang dan melihatnay seperti orang gila berteriak histeris.
Nick sudah menjauh dari Arsista dan bersembunyi di balik dinding bangunan yang tinggi di sepanjang ruko jalanan itu. Nick bersandar di dinding sebuah toko dan mencari solusi yang tentunya harus menguntungkan pihaknya.
Terlihat, Arsista sedang berusaha berdiri denagn sekuat tenaga. Kakinya terlihat sangat lemas sekali, mungkin suah beberapa hari ini, Arsista belum makan karena tidak memiliki uang. Administrasi Papahnya di rumah sakit pun Arsista bayar dengan sisa barang -barang yang melekat di tubuhnya seperti jam tangan dan aksesoris yang mahal.
Langkahnya terseok dengan sepatu hak tinggi yang terlihat sedikit meleyot. Tatapan Arsista begitu kosong denagn tas etnteng yang sudah tak ada lagi isinya. Dompetnya sudah kosong tanpa uang se -sen pun. Hanya tertinggal kartu identitas saja. Make up yang biasa Arsista bawa pun sudah tak ada lagi karena tertinggal di rumah yang besar yang telah di beri garis kuning dari bank bahwa rumah ini di sita.
Saat Arsista menghapus sisa air matanya di pipi, Nick menatapnya tanpa rasa iba. Dirinya malah bertekad bulat untuk menghancurkan Arsista perlahan.
__ADS_1
"Aku akan emmbantumu, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Kamu siap? Kalau kamu siap, kita buat perjanjiannya sekarang," ucap Nick dengan suara tegas.
Langkah Arsista terhenti. Suara Nick membuat semua harapannya kembali ada jalan keluarnya.
"Siap Nick. Aapun yang kamu minta," ucap Arsista dengan cepat tanpa pikir panjang.
Arsista hanya ingin Papahnya bisa terselamatkan dengan operasi besra yang segera harus di lakukan.
"Ikut aku!" titah Nick yang berputar arah melewati gang kecil dan masuk ke sebuah gudang yang begitu gelap.
"Ayo naik ke atas," titah Nick kemudian. Nick langsung naik ke lantai dua denagn menggunakan tangga ulir dan membuka pintu ruang kerja yang terlihat sangat nyaman.
Tidak banyak yang di ketahui oleh Arsista tentang Nick. Nick adalah salah satu cucu dari konglomerat di Paris.
__ADS_1
"Ini tempat apa? Milikmu kah?" tanya Arsista kemudian menatap ruangan yang sangat luas dan mewah. Ruangan itu begitu lengkap dan semua fasilitasnya begitu nyaman untuk di tinggali.
Nick duduk di kursi kerjanya dan menarik satu lembar kertas yang memang sudah di siapkan denagn baik.
"Tanda tangani ini!! Aku akan langsung telepon dokter terbaik untuk mengobati Papahmu. Ingat, sekali kamu berkhianat, maka nyawa Papahmu melayang," tegas Nick mengintimidasi Arsista agar saudara tirinya itu bisa menjaga perjanjian ini hingga batas waktu yang di tentukan.
Arsista berjalan emnuju meja kerja dan melihat perjanjian yang di buat oleh Nick. Ada dua puluh point penting yang harus di setujui oleh Arsista. Rasanay Arsista sudah tak mau lagi membacanya, dan memilih langsung menandatangani surat perjanjian itu denagn cepat. Lebih cepat di tanda tangani, maka Papah Wisnu akan lebih cepat jug adi tindak.
Arsista sudah memegang pulpen dan bersiap menandatangi surat perjanjian itu.
"Kamu gak baca dulu?" tanya Nick mengingtkan.
Arsista menggelengkan kepalanya denagn cepat. "Tidak perlu. Aku pasti bisa melakukan smeua keinginanmu, asala Papahku selamat dan sembuh," ucap Arsista sendu.
__ADS_1
"Gadis pintar. Lebih baik menurut di bandingkan kamu harus kehilangan smeuanya secara bersamaan. Kamu bisa gila!!" ucap Nick tertawa keras.
Nick merasa Arsista sudah berada di dalam genggamannya. Saat Arsista menandatangani surat perjanjian itu, Nick langsung menghubungi pihak rumah sakit untuk segera menindak operasi besar Papah Wisnu.