
Cup ...
Yumna mencium bibir Duta penuh cinta. Yumna sekarang lebih berani dan sama sekali tidak malu untuk mengungkap rasa sayang dan cintanya pada Duta, suaminya.
"Hemmm ... Mau godain Kakak ya," ucap Duta yang merasa senang denagn perlakuan Yumna yang terkadang agresif itu.
"Gak ih. Minum kopinya, terus lembur yang bener," titah Yumna menasihati.
Yumna segera berdiri dari pangkuan Duta dan beranjak akan pergi dari ruang kerja Duta agar tak mengganggu konsentrasi suaminya saat bekerja.
"Eittsss ... Mau kemana, sayang?" ucap Duta sambil menarik tubuh Yumna yang padat berisi.
"Kak Duta ... Ihhh," teriak Yumna yang kaget karena tubuhnya di tarik kembali.
__ADS_1
Yumna kembali terduduk di pangkuan Duta. Kedua tanagn Duta malah semakin erat memeluk tubuh Yumna dan mengusap pelan perut Yumna yang semakin buncit. Yumna bersandar di tubuh Duta yang juga bersandar di sandaran kursi kerja. elapak tangannya terus mengusap perut Yumna yang begitu keras dan sesekali merasakan ada yang bergerak dari dalam perut itu.
"Diam dulu. Sesekali, Kakak mau merasakan hal seperti ini, Na. Meluk kamu dari belakang dan mengusap lembut perut kamu. Tuh ... Ini lagi gerak ya?" tanya Duta merasa senang bisa merasakan bayinya bergerak di dalam. Getaran seperti gelombang dan sedikit membuat geli telapak tangannya.
"Gerakannya memang begitu. Kadang pelan dan halus sampai gak begitu kerasa. Tapi kadang kencang dan keras tendangannya," ucap Yumna yang mulai terbiasa dengan perubahan kondisi kehamilannya saat ini.
"Anak kita laki -laki atau perempuan?" tanay Duta kembali sambil mencium tengkuk Yumna dan menghirup aroma wangi khas tubuh Yumna.
"Kita belum USG lagi, Kak. Lagi pula kata Bunda, untuk lihat jenis kelamin agar tepat itu di usia kehamilan tujuh bulan ke atas," ucap Yumna pelan.
"Kata Bunda, kalau belanja juga harus nunggu tujuh bulan. Kalau di persiapkan dari sekarang itu namanya Pamali," ucap Yumna yang mengingat kembali nasihat Bundanya untuk tidak membeli barang kebutuhan bayiya saat usia kandungannya belum mencapai tujuh bulan. Itu sangat pantanagn sekali.
"Okelah. Berarti Papahnya cari uang dulu ya, sayang. Biar nanti Mama Yumna belanjanya bebas karena uangnya sudah terkumpul banyak," ucap Duta kemudian.
__ADS_1
"Kak ... Uang yang Kakak kasih buat Yumna juga masih banyak, bahkan lebih dari cukup untuk membiayai kebutuhan sehari -hari Yumna," ucap Yumna pada suaminya.
"Gak apa -apa, sayang. Takutnya kamu mau jajan di Kantin atau dimana? Jadi gak perlu nungguin Kakak. Kamu tahu sendiri kan? Kakak akhir -akhir ini sibuk terus, takutnay gak bisa antar kamu kemana -mana. Inget, pulang pergi kalau gak sama kakak harus sama Yuri. Kak Duta sudah bilang Yuri untuk terus nemenin kamu," titah Duta pada istrinya.
"Iya Kak. Yumna paham banget kalau soal ini," ucap Yumna pelan.
Duta memejamkan kedua matanya dan merasakan sensasi kemesraan bersama istrinya dengan suasana yang berbeda. Keintiman suami dan sitri tidak terus di ukur denagn urusan ranjang, bukan? Tapi, komunikasi terbuka satu sama lain juga termasuk hubungan intim yang jarang seklai di lakukan setiap pasangan yang telah berumah tangga. Komuniaksi mereka terkadang jelek karena cuek dan sibuk dengan urusan masing -masing.
"Ekhemm ... Kak ...," panggil Yumna lirih.
"Ya sayang," jawab Duta kemudian membuak kedua matanya.
"Kemarin Nick datang ke Kampus, nemuin Yumna," ucap Yumna jujur. Yumna lupa mau bilang pada suaminya karena memang Duta sedang sibuk dengan kerjaan kontrak keraja sama dengan Nick.
__ADS_1
"Nick? Kenapa? Ngapain nemuin kamu? Kenapa baru bilang sama Kakak?" tanya Duta dengan sikapa posesifnya.