
Brak!!
Suara tangan kokoh menggebrak meja yang ada di dalam markas besar itu. Bos besar itu nampak seklai marah dan murka. Ia mnegambil pistol untuk membunuh tiga orang yang ada di depannya dengan melubangi kepala mereka dengan peluru tajam yang mampu menembus hingga saraf halus.
"Kenapa kalian tinggalkan mayat itu? tanpa kalian lihat siapa mayat yang ada di dalam gulungan selimut itu? Kalian ini pembunuh berdarah dingin tapi bodoh!!" teriak bos besar itu melayangkan satu tembkan ke arah atas menembus langit -lagit markas besra itu.
"Maafkan kami, Bos. Tapi kami sangat yakin itu adalah wanita. Ini pakaiannya," ucap ketiga pembunuh itu.
Mereka memang memiliki misi untuk menghabisi nyawa smeua teman Duta satu persatu.
***
Duta terdiam emnatap Yumna yang masih pulas tertidur. Ini sudah pukul dua pagi. Teman -teman Duta juga tidur di ruang tamu. Duta menggelar karpet dan emmberikan kasur lantai untuk mereka tidur. Kamar utama Duta di kunci agar tidak ada yang masuk dan Duta memilih dudu disofa sambil memandang ke arah depan balkon.
Ada sosok manusia bertopi dan emmakai kaca mata hitam sambil mengetuk balkon Duta. Duta menatap bayangan itu dari arah dalam dan mendekati pintu kaca itu.
"Ta ... Duta. Ini Lita, Ta. Tolongin Lita," ucap Lita lirih sekali agar yang lain tidak terganggu.
"Lita?" ucap Duta lirih sekali sambil melihat dari arah jendela kaca itu.
__ADS_1
Duta membuka pintu kaca yang menghubungkan balkon dan menatap Lita tak percaya.
"Lo Lita?" Duta masih termangu tak percaya.
"Tolongin gue Ta. Gue di kejar -kejar orang. Edo, gue gak tahu nasib Edo gimana," ucap Lita terbata dan kedua matanay basah. Lita benar -benar nampak ketakutan sekali.
"Masuk Lita," titah Duta pada Lita dan menutup kembali pintu kaca itu lalu menutup hordengnya.
"Eummm ... Kak ... Kak Duta," panggil Yumna dan Duta langusng menghampiri Yumna lalu menyalakan lampu tidurnya.
"Iya sayang. Kenapa? Mimpi buruk lagi? Atau mau minum? Biar Kakak ambilkan," ucap Duta makin panik.
"Duta denger suara perempuan. Suara siapa?" tanay Yumna lirih.
"Suara Lita, sayang. Dia mau nginep disini. Biar tidur sama kamu, biar nemenin kamu ya?" tanya Duta pada Yumna.
"Iya gak apa -apa. Lagi pula udah malem, Kak. Kasihan kalau harus pulang malem," ucap Yumna seolah tidak sadar dan menutup kedua matanya lagi.
Lita berjingkat menuju pintu kamar Duta. Tidak enak juga jika ada di kamar ini berlama -lama. Takutnya Yumna akan berpikir ayng tidak- tidak. Biar bagaiaman pun juga, tetap harus jaga perasaan seorang perempuan, bukan. Tetap sadar posisi kalau hubungannya memang sebatas teman, tidak lebih.
__ADS_1
Duta mencium pipi Yumna dan berjalan ke arah pintu kamar dan keduanya keluar dari kamar itu menuju ruang tamu.
"Guys ... Lita datang Tadi itu beeneran teror," ucap Duta lantang emmbuat teman -temannya kaget tebangun seperti melihat hantu Lita.
"Lita? Lo beneran Lita" tanya Ariel dengan attapan lekat tak percaya.
"Iya gue Lita. Lo semua pada kenapa sih? Kayak lihat hantu aja!!" teriak Lita pada semua teman laki -lakinya itu.
"Gak apa -apa Lit. Cuma kaget. Coba lo lepas topi lo," titah Ega pada Lita.
Lita perlahan membuka topinya dan semua berteriak keras. "Botak!!"
"Rambut lo kemana Lit?" tanay Kahfi penasaran.
'ceritanya panjang. Gue haus sih, mau minum dulu,
cicit Lita lemas.
"Iya gue ambilin bnetar Lit," ucap Duta segera pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman.
__ADS_1
Lita sudah duduk di sofa ruang tamu dan semua temannya ikut duduk menyimak cerita Lita.