
"Lo kenapa sih? Bikin gue panik tahu gak sih?" ucap Herlanda masih kahetr melihat Duta yang terlihat kosong speerti orang kesambet makhluk gaib.
"Gue keinget Yumna. Apa gue balik ya? Kayaknya ada salah paham deh, Her. Tapi kerjaan gue?" ucap Duta bingung.
Herlanda hanya diam. Ia merasa kasihan juga dengan nasib Duta. Tapi, kerjaannya sudah menang tender dan harus selesai bulan ini untuk rancangannya, dan bulan depan mulai pengerjaan proyeknya. Duta dan Herlanda akan sangat sibuk sekali. Tidak mungkin Duta meninggalkan tanggung jawabnya dan membiarkan Herlanda melakukan tugasnya sendiri
"Ya itu terserah kamu, Ta. Gue gak mau ikut campur. Tapi, menurut gue, lo mesti ngomong sama Arsista atau Om Wisnu biar gak ada salah paham. Atau lo mending ngundurin diri aja," ucap Herlanda santai dengan wajah polos tanpa berdosa.
Herlanda merapikan pekerjaannya dan menutup laptopnya dan segera ingin makan siang.
"Gue ngundurin diri? Setelah apa yang gue lakukan buat dapetin tender ini? Lo juga sama sekali gak ada rasa toleransi ya, Her? Gue kira lo itu baik dan tulus. Ternyata lo sama aja kayak yang lain pura a-pura baik tapi mau menjatuhkan. Ambil aja proyek itu. Gue bakal ngundurin diri!" ucap Duta kemudian.
Duta sangat marah sekali. Kenapa bisa, Herlanda, teman sekaligus partner kerja yang sangat di percayainya itu malah seperti menusuk dari belakang. Memangnya Duta ada salah apa?
Duta menutup laptopnya dan membereskan pekerjaannya lalu pergi dari hadapan Herlanda yang termangu sendiri sambil mengeratkan kepalannya dan meninju meja kerjanya sendiri.
Duta mencari keberadaan Arsista di ruangan direktur, Ternyata Arsista dan Om Wisnu sedang duduk berhadapan dan terlihat sedang serius bicara. Duta mengetuk pintu ruanagan itu lalu membuka pintu sambil menunduk dengan sikap hormat.
"Maaf kalau mengganggu sebentar. Bisa saya masuk? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan," ucap Duta mantap tanpa ragu lagi.
Om Wisnu dan Arsista menoleh ke arah Duta dan tersenyum lebar sambil mengangguk.
"Masuklah Ta. Kita juga lagi bicarakan kehebatan kamu," puji Om Wisnu dengan rasa bangga.
Arsista memberikan celah untuk Duta duudk di sampingnya. Duta sudah masuk lalu duduk tepat di samping Arsista.
"Ada apa Ta?" tanya Om Wisnu mengeluarkan cek dan menandatanginya lalu merobek cek tersebut dan di sodorkan untuk Duta.
__ADS_1
Duta menatap cek kosong yang ada didepannya kini.
"Ini apa Om?" tanya Duta tak paham.
"Tulislah angka nominal sesuai keinginan kamu. Anggap ini hadiah dari Om atas kemenangan tender yang mendatangkan banyak keuntungan buat perusahaan ini. Kamu benar -benar hebat dan bisa di andalkan," ucap Om Wisnu dengan dua bola mata yang berbinar indah.
"Maaf Om Wisnu. Duta tidak bisa menerima hadiah apapun. Duta menemui Om Wisnu karena ada sesuatu hal yang ingin Duta sampaikan," ucap Duta dengan wajah serius.
"Apa sih Ta? Loe jangan bikin suasana jadi tegang kayak gini. Santai dikit, kita kan teman, satu alumni juga. Kenapa harus kelihatan canggung dan gugup kayak gitu sih," ucap Arsista lembut sambil memegang tangan Duta yang ada di atas pahanya.
"Ini lelaki yang Arsista ceritakan Pah. Ternyata, sudah ketemu duluan. Oke kan Pah?" ucap Arsista dengan raut wajah bahagia.
Duta memindahkan tangannya yang sengaja di sentuh Arsista lalu menatap Arsista lekat.
"Pindahkan tangannmu Arsista. tidak pantas kamu lakukan hal itu padaku. Ini di kantor," ucap Duta tegas menasehati.
Om Wisnu hanya terkekeh lucu melihat keduanya.
"Andai kamu belum menikah Ta. Sudah ku jodohkan kamu dengan Arsista," ucap Om Wisnu pelan.
Duta hanya menarik napas panjang. Roman -romannya Om Wisnu dan Arsista sedang mempersiapkan sesuatu.
"Om ... Mulai hari ini Duta resign. Duta ingin kembali ke Indonesia," jawab Duta lantang tanpa jeda. Lega rasanya bisa mengucapkan kata -kata itu. Rasnay beban Duta hilang begitu saja.
"Apa? Resign? Kamu itu pembuat rancangan proyek ini. Mana mungkin kamu malah mau resign? Lalu yang mau buat rancangan ini siapa?" tanay Om Wisnu terlihat marah.
"Ada Herlanda. Dia hebat. Dia sendiri yang menyuruh Duta untuk resign karena Duta lebih mementingkan mental Yumna saat ini. Permisi," ucap Duta kemudian lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi begitu saja meninggalakan Om Wisnu dan Arsista yang saling bertatapan dengan sejuta tanya. Ada apa ini, sebenarnya?Kerja baru sebulan lebih sudah harus resign.
__ADS_1
Langkah kaki Duta terasa sangat ringan sekali menuju rumah kontrakannya. Untung ia belum membeli banyak barang dan memang lebih baik ia tinggalkan saja. Jangan sampai Duta terlambat pulang dan semakin membuat Yumna bersedih.
Sesampai di rumah kontrakannya, Duta masuk dan mengunci rapat paviliun itu. Semua horedeng ia tutup dan Duta langsung membereskan pakaiannya.
Ia membawa semua barang yang bisa ia bawa dan sisanya di biarkan untuk penyewa kontrakan berikutnya. Dua koper besar itu sudah siap dan sudah Duta letakkan di ruang tamu. Duta juga sudah membeli tiket untuk terbang ke Indonesia tanpa memberi tahu kepada siapa pun.
"Nick ... Gimana kabar Yumna?" tanya Duta yang memberanikan diir menelepon Nick, sahabat Yumna.
Nick adalah orang yang mengirimkan video kegundah gulanaan Yumna selama di pantai. Nick tidak tega, lebih baik ia bilang pada Duta dan emnyuruh Duta untuk segera pulang lalu menjemput Yumna.
"Apa keputusanmu?" tanay Nick tegas.
"Aku resign. Aku ingin kembali ke Indonesia dan kembali berkumpul dengan istri dan calon anakku," ucap Duta denagn sangat tegas.
"Good. Berarti sekarang tugasku telah selesai. Mengambil keputusan seperti ini sulit. Kamu kalau gak pake di ancam tetep akan mengabaikan Yumna. Mau aku rebut Yumnamu untuk aku?" ucap Nick dengan nada mengejek.
"Kalau kamu mampu bertarung denganku, atau kamu siap berdiri tanpa kepala," ucap Duta kesal.
"Hah!! Kamu itu kalau sudah terpojok dan mulai terasa kehilangan baru ambil keputusan. Kemarin kemana aja?" ucap Nick pada Duta.
"Aku tadinya ingin fokus bekerja. Tapi gaji besar, pekerjaan yang cocok tidak membuat suatu pekerjaan itu menjadi nyaman. Nyatanya ada saja, serigala berbulu domba yang ingin mendapatkan posisiku. Lebih baik lepaskan dan berikan saja," ucap Duta tertawa lepas. Duta sudah tidak sabar ingin cepat pulang dan segera bertemu dengan Yumna.
Duta menutup ponselnya. Lega sekali mendengar Nick yang mengatakan Yumna dalam keadaan baik -baik saja. Jujur, Nick memang ada rasa pada Yumna. Tapi, ia bukan seorang pecundang yang berani main belakang dan merusak rumah tangga sahabatnya sendiri.
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan dari arah depan membuat Duta terkejut dari lamunannya yang indah.
__ADS_1