
Lita mengantarkan bubur ke kamar Duta untuk Yumna.
"Ta ... ini bubur buat Yumna, suruh makan dulu terus minum obatnya. Obatnya lo bawa kan?" tanya Lita mencoba mengingatkan Duta.
Duta menatap Lita yang menganggukkan kepalanya kecil, dan Duta baru ingat bahwa Yumna memiliki obat mujarab untuk tenang.
"Makan dulu yuk, Na. Kakak suapin ya, habis itu minum vitaminnya. Besok harus kuliah kan?" pinta Duta pada Yumna.
"Iya Kak," jawab Yumna singkat dan tatapannya masih kosong.
Setidaknya Yumna mau makan dan perutnya terisi makanan lalu bisa minum obat. Duta begitu sabar menyuapi Yumna sambil memberikan sedikit cerita indah agar Yumna bisa tersenyum kembali.
Setelah seelsai makan, Yumna meminum obat penenang dan vitamin dari Duta agar Yumna bisa lebih rileks dan istirahat yang cukup.
***
Setengah jam kemudian, Duta keluar dari kamarnya dan ikut berkumpul dengan semua teman -temannya yang sedang serius mencari informasi.
"Apa yang kalian dapat?" tanya Duta tiba -tiba datang menghampri teman -temannya yang sedang terlihat sangat serius menatap monitor.
Ferdi hanya mengangkat wajahnya sekilas menatap Duta dan mengangkat ibu jarinya tanda baik atau beres semua.
Duta melihat monitor dan Ferdi sedang sibuk mencari informasi penting dari akun Alice, Yoshua dan Atika. Tim pencatat adalah Ega dan Andrew yang tengah menulis hal -hal yang di anggap penting.
"Guys ... Kayaknya mulai ada titik terang ini. Kalian bisa pahami gak? Keterkaitan satu dengan yang lainnya?" tanya Ferdi yang begitu serius.
"Menurut gue, satu -satunya saksi adalah Atika. Kita harus cek keberadaan Atika sebenarnya. Ta, Yoshua dan Alice memang di hukum seumur hidup karena kepemilikan barang haram. Atika hanya pemakai dan itu di jebak. Ini banyak pro dan kontra yang tidak kita ketahui, Ta," ucap Kahfi mulai memberikan asumsi kuat dari smeua bukti yang ada.
"Di depan ramai soal tembakan tadi. Coba cek lewat jendela," titah Ferdi pada semua teman -temannya.
Ariel langsung berlari dan membuka sedikit tirai dan menatap ke bawah dan benar saja. Banyak peliput, banyak polisi dan ambulance yang sudah stay di sana. Mungkin mereka mencari mayat yang sebenarnya tak pernah ada.
"Yup benar, semua formasi lengkap. Ngomong -ngomong profesor ada di gedung ini juga? Apakah ia tahu kita di sini ya?" tanya Ariel pada smeua temannya.
"Matikan semua ponsel kalian dan kartu di keluarkan lalu HP di reset, cepat!!" titah Ferdi yang baru ingat. Jika anak IT senior pasti bis amelacak keberadaan mereka walaupun GPS dalam keadaan mati. Dari riwayat bisa di cek dan di kira -kira keberadaan terakhir.
"Di, Wa nya lepas aja ya biar gak kelacak," ucap Omesh cepat.
"Ya benar wa lepas hapus akun semua," ucap Ferdi tegas.
__ADS_1
***
"Papah!!" teriak Alice saat melihat Papahnya berdiri di depannya untuk menjenguk putrinya yang telah lama menjadi penghuni sel tahanan.
Alice sudah bersiap ingin memeluk Papahnya. Baru kali ini, Papah Alice menjenguk Alice. Biasanya hanya Mama Alice saja dan asisitennya yang mengirimkan uang dan stok makanan untuk kebutuhan Alice selama di dalam sel tahanan itu.
"Gak usah lebay, dan perlu memeluk Papah di depan orang banyak seperti ini. Kamu gak malu apa? Di lihat orang banyak, mereka akan mengira bisa -bisanya anak masuk sel tahanan padahal Papahnya orang terpandang," ucap Papah Alice yang berprofesi sebagai dosen.
Alice menurunkan tangannya dan mengurungkan niatnya untuk memeluk tubuh Papahnya. Alice memilih duduk dan mendengarkan ceramah Papahnya. Untuk apa lagi Papahnya datang kalau bukan untuk menceramahi diirnya.
"Papah mau apa kesini? Kalau memang gak ada tujuan, mending gak usah kesini. Ganggu hidup Alice saja," ucap Alice ketus.
Selama ini Alice menjadi keras dan menjadi pembangkang karena kekurangan kasih sayang. Mama Alice yang juga sudah meninggalkan Papahnya dan hidup bahagia dengan suami barunya. Sesekali menjenguk Alice dengan suami barunya, hanya rasa kasihan saja.
Papah Alice masih berdiri dan melipat tangannya di depan dada lalu duduk agak berjarak dengan Alice.
"Mulai sekarang akan ada asisten yang mengurus kamu, agar kamu tidak kekurangan. Papah akan pergi ke luar negeri, dan keluar dari kampus," ucap Papah Alice pada anak semata wayangnya.
"Keluar dari kampus? Maksud Papah? Resign?" tanay Alice bingung dan penasaran.
"Ya ... Papah mau buka bisnis saja di luar negeri dan kamu tidak perlu tahu apa itu. Papah hanya pesan kepada kamu. Jika ada siapa pun selain orang kepercayaan Papah atau asisten rumah, maka kamu jangan membuka mulut kamu untuk menceritakan Papah. Paham?" tanya Papah ALice tegas.
"Iya paham. Terus hukuman Alice gimana? Alice tetap di hukum mati?" tanya Alice pada Papahnya.
***
Yoshua keluar dari sel tahanan setelah sekian lama tak ada yang menjenguknya. Mamahnya juga di tangkap saat pesta haram di sebuah hotel. Kedua mata Yoshua melotot saat melihat sosok misterius di depannya.
"Kenapa melihat aku seperti itu? Seperti melihat setan saja," kekeh orang itu sambil meletakkan bungkusan plastik berisi maknan untuk Yoshua.
"Untuk apa kau datang? Aku tidak butuh kamu!!" teriak Yoshua lantang dan segera masuk ke dalam lagi untuk tidak menemui tamunya.
"Yohua ... Aku ingin bicara hal penting. Ku berikan kau uang yang banyak dan bisa kau pakai sesuk ahatimu," ucap sosok misterius itu.
"Kau ingin meledek aku? Aku ini di hukum seumur hidup dan aku di suruh menghabiskan uang? Aku bisa foya -foya? kau gila atau sinting!" teriak Yoshua murka.
"Makanya sini dulu. Tak baik bicara hal seperti ini di depan orang banyak," titah sosok misterius itu memanggil.
Yoshua keluar lagi dan berjalan ke ruang tunggu menghampiri sosok misterius itu dan duduk di kursi besi yang ada di sana.
__ADS_1
"Makanlah dulu. Lihat tubuhmu terlihat kurus sekarang," ucap sosok misterius ini tertawa mengejek.
"Aku tidak lapar. Apa tujuan kamu kesini? Jangan membuang waktuku. Aku malas berinteraksi dengan orang -orang brengsek macam kamu!!" ucap Yoshua menatap penuh kebencian.
"Aku brengsek? Atau kamu yang bodoh?!" tawa sosok misterius itu smekain membuat Yoshua mual melihat mukanya. Ada sosok aneh di hadapannya. Kalau saja ada pisau atau senapan, Yoshua tidak segan -segan merobekmulutnya dan menembakkan beberpa peluru di kening, di dada, di perut dan di kaki sosok misterius itu.
"Apa kamu tidak bis aberdamai dengan keadaan? Aku juga sudah lelah denagn keadaan hampa begini. Apa kamu maish mau melanjutkan misi ku?" tanya sosok mistreius itu pada Yoshua.
"Gak!! Sama sekali tidak ingin. Kamu cari saja orang lain yang mau kamu tipu," ucap Yoshua emosi.
"Oke ... Ingat satu kata terucap dari bibir kamu. Aku pastikan kamu membusuk di penjara tanpa ada ampun," bisik sosok mistreius itu tertawa keras tanpa mau memaksa Yoshua. Sosok miterius itu sangat yakin sekali Yoshua tidak akan betah berlama -lama mendiamkannya dan tak bisa menolak keinginannya. Pasti sebentar lagi akan emmanggilnya dan mennaykan misi apa yang sednag kau jalankan saat ini?
Yoshua menatap bungkusan plastik itu terlihat beberapa tumpuk pizza dan kentang goreng. Beberapa kali Yoshua meneguk salivanya dan terus berusaha menahan sambil memejamkan kedua matanya. Pro kontra batinnya membuat Yoshua semakin bimbang.
Yoshua mantap pergi dari tempat duduknya dan masuk ke dalam sel tahanan kembali tanpa menyentuh makanan yang di bawa sosok misterius itu. Sosok mistreius itu sedikit kecewa dan mengulum senyum. Dalam hatinya akan menghabisi Yoshua juga di dalam sel tahanan itu.
***
Atika termenung di dalam kamar rehabilitasinya. Semenjak putusan pengadilan, Atika menempati salah satu ruang isolasi rehabilitasi dari penggunaan barang haram, padahal Atika sama sekali tidak kecanduan. Mungkin emmang ada orang -orang yang menginginkan dia tersiksa seperti ini hidupnya.
Keadaan ini yang membuat Atika malah down dan deperesi hingga tatapannya selalu kosong dan sering marah -marah tak jelas.
Kedua tangan dan kaki Atika terikat rantai besi agar tidak bis abergerak ke kanan dan ke kiri. Tetap diam dan tidak melakukan hal bodoh.
Bunyi pintu kamar yang di buka dan masuklah beberpa orang ke dalam. Ada dokter, dan dua perawat serta sosok misterius yang tersenyum smirk ke arah Atika.
Wajah Atika seketika mematung dan tatapannya tajam menakutkan sekali.
"Hai ... Kau masih ingat aku?" tanya sosok mistreius itu mendekati Atika.
Atika hanya menatap tajam tanpa berkedip. Lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Pergi!! Pergi!! Dia orang orang jahat!! Suruh dia pergi!! Dia sudah membuat aku begini!! Pergi!!" teriak Atika semakin keras dan histeris.
Wajahnya memerah dan keringatnya mulai muuncul membasahi keningnya. Rasa takut ebrcampur marah dan emosi tinggi membuat tenaga Atika seperti terkuras dan melemah seketika. Atika hanya bisa menangis dan terus terisak -isak. Hidupnya hancur lebur hingga tak ada keluarganya yang mengakui diirnya lagi.
Dokter dan dua perawat itu langsnung menyuntikkan sesuatu ke tubuh Atika agar lebih tenang.
"Mari, lebih baik kita keluar dari tempat ini. Atika selalu berontak jika melihat sosok baru. Anda baru kali ini masuk ke tempat ini, tentu ia kaget dan sama sekali tak mengenalnya," ucap dokter itu menjelaskan.
__ADS_1
"Tidak masalah dokter. Saya juga baru tau soal keadaan Atika sekarang. Padahal saya sudah mencari kemana -mana dan akhirnya bertemu malah dalam kondisi seperti ini," ucap sosok mistreius itu berbohong.
Dalam hatinya tersenyum sangat puas sekali melihat kekacauan yang ia buat. Semua orang sudah terpuruk akibat ulahnya.