Duta & Yumna

Duta & Yumna
23


__ADS_3

Bima semakin kalap mencengkeram tangan Yumna dan menariknya turun lalu di giring ke sebuah ruangan kosong dekat anak tangga. Ruang OB yang sering di guankan untuk menyimpan barang -barang alat kebersihan di setiap lantai.


"Bima!! Apa yang akan kamu lakukan!!" teriak Yumna terus meronta saat Bima mulai mendorong tubuh Yumna ke dalam ruangan kotor itu yang lebih mirip seperti gudang.


Tubuh Yumna yang mungil dan kecil jatuh tersungkur di lantai kotor penuh dengan sarang laba -laba. Sungguh ruangan yang tak pernah di urus.


"Arghhhh ... Sakit Bim!! Kmau sudah gila ya?" teriak Yumna kesal.


Yumna berusaha berdiri tapi siku tangannya sakit kepentok lantai ubin yang kasar itu.


Bima sendiri sedang sibuk menutup pintu gudang itu lalu mengunci ruangan kotor itu.


Pengab sekali rasanya berada di dalam sini. Sama sekali tidak ada cahaya dan ventilasi.


"Kamu mau apa Bim!!" teriak Yumna dengan keras. Harapan Yumna hanya pada keajaiban ada yang lewat di depan sana dan mendengar teriakan Yumna.


"Kamu bisa diam? Atau mau ku buat diam dengan tali ini?" ucap Bima makin kehilangan akal sehatnya.


"Kamu kenapa Bim!! Kita bahkan tidak pernah kenal. Apa salahku padamu," ucap Yumna berusaha tegar dan tidak menangis. Percuma saja menangis di depan lelaki biadab seperti Bima.

__ADS_1


"Kamu lupa? Kamu sudah menolakku, Yumna," ucap Bima dengan suara keras sambil berjalan mendekati Yumna.


Yumna terus memundurkan tubuhnya dengan menyeret ke belakang hingga punggungnya tak bisa lagi bergerak mundur.


"Kamu gak tahu kan? Rasanya sakit saat di tolak. Rasanya malu saat ucapanmu itu ketus dan menusuk hatiku? Kamu gak akan pernah tahu, karena kedua hatimu sudah beku hanya untuk satu nama saja," ucap Bima merasa benci pada sosok makhluk bernama Duta.


Tapi mungkin saat ini panah dewa asmara bisa memihak pada Bima sementara waktu.


"Jangan macam -macam Bim!! Yumna akan teriak keras," ucap Yumna terus berusaha berteriak dengan sekuat tenaga.


"Diam!! Kamu vbisa diam gak!!" teriak Bima mulai resah jika ada yang mendengarnya. Bima mengambil tongkat panjang yang ada di sana dan memukul bahu Yumna hingga tak sadarkan diri.


Bima berjongkok dan menatap wajah Yumna yang cantik. Tangan Bima menyentuh halus pipi mulus Yumna. Bima hanya bisa berandai -andai jika Yumna termiliki.


Baru saja Bima melepas kancing bajunya dan akan membuka pakaian Yumna, tiba -tiba terdengar suara gaduh dari arah depan.


BRAK!!


"Brengsek lo jadi cowok!!" teriak seorang laki -laki dengan beberapa temannya yang ikut masuk dan emmukuli Bima hingga babak belur.

__ADS_1


"Ampun!! Tolong ampun. Gue khilaf, tolong jangan pukulin gue lagi," teriak Bima hingga satu pukulan telak membuat Bima jatuh tersungkur dengan darah yang keluar dari mulutnya.


***


"Arghhh ... Sakit banget," ucap Yumna yang baru saja siuman dari tidur panjangnya merasakan bahunya sakit untuk menggerakan tangannya.


"Yumna ... Kamu sudah sadar?" panggil Yuri pada Yumna.


Yumna membuka kedua matanay dan menatap Yuri di sana denagn senyum manisnya.


"Yuri ... Yumna dimana? Bima, Yur ... Bima mau berbuat jahat sama Yumna," teriak Yumna makin histeris mengingat kejadian tadi. Yumna kembali teringat sindrom ketakutannya yang bisa jadi kambuh.


"Ada aku, Na. Kamu yang tenang ya. Minum dulu, Na. Kamu gak boleh banyak gerak, karena bahu kamu memar, Na," titah Yuri menasehati.


Yumna ingat, bahunya ini kena pukulan sengaja Bima agar Yumna tak berteriak.


"Bima? Apa dia sudah ...." ucapan Yumna terhenti.


"Kenapa Na?" tanay Yuri cemas.

__ADS_1


__ADS_2