Duta & Yumna

Duta & Yumna
70


__ADS_3

Lampu di depan ruangan operasi itu sudah berubah menjadi hijau. Suasana kembali menjadi tegang dan semua berharap cemas dengan hasil yang akan di berikan oleh dokter nantinya. Semua harus siap mental, terlebih Duta.


Dokter itu keluar dari ruang operasi dan melepas masker serta sarung tangannya lalu membetulkan kaca matanya.


Semua orang berkumpul dan mengerubungi dokter itu untuk mendengar penjelasannya.


"Gimana kondisi putri saya dok?" tanya Ayah Yumna dengan wajah masih cemas.


"Puji syukur, operasinya berhasil. Ada penyumbatan darah beku di otaknya dan cidera yang cukup kritis. Mungkin Yumna akan siuman agak lama, pengaruh obat biusnya terlalu banyak. Ada hal yang ingin saya jelaskan. Yumna akan mengalami amnesia," ucap dokter itu pelan.


"Amnesia!! Hilang ingatan maksudnya dok?" ucap Duta makin frustasi.

__ADS_1


"Sabar Ta. Biar dokter jelasin dulu. Jangan marah -marah dulu," ucap Dafa pada Duta.


"Ya ... Amnesia karena cidera di otaknya. Amnesia ini bisa bersifat sementara, bisa juga menjadi permanen kalau saja cidera otak ini tidak sembuh. Penyebabnya banyak, di paksa untuk berpikir akan melumpukan kembali cidera otak Yumna. Saran saya, berlaku sewajarnya saja, dan jangan memaksa. Itu saja. Sebentar lagi Yumna di bawa keruang perawatan VIP, biar bisa di rawat secara intensif. Mohon doa dan dukungannya untuk Yumna. Selama ia bahagia dan selalu senang, Yumna akan cepat mengingat masa lalunya," titah dokter itu menasehati.


Semua mengangguk paham dan dokter itu pamit untuk undur diri.


***


Ya, Di sinilah Duta saat ini berada. Hari -harinya hanya untuk menjaga dan menemani Yumna. Melihat Yumna sehat dan mau makan saja, Duta sanagt senang. Apalagi Yumna bisa mengingat Duta, sebagai suaminya. Alangkah itu mukjizat sekali bagi Duta.


Wajah Yumna yang terlihat murung menoelh ke arah Duta dan mengangguk pasrah, dan memperbaiki duduknya untuk segera merebahkan tubuhnya lalu istirahat siang.

__ADS_1


"Kamu mau jalan -jalan? Ke Taman?" tanya Duta menatap wajah sendu Yumna yang menatap kosong ke arah Duta.


"Memang boleh?" jawab Yumna singkat. Suara pertama yang di dengar Duta. Suara ramah, manja yang akhirnya keluar dari mulut Yumna setelah tiga hari berada di rumah sakit. Selama ini, Yumna hanya menggeleng, mengangguk dan tersenyum kecut untuk memberikan respon terhadap sesuatu. Tawaran Duta untuk berjalan -jalan di taman adalah suatu kemajuan bagi Yumna, hingga akhirnya gadis itu mau menjawab dan bertanya.


"Boleh sayang. Kamu mau? Nanti sore setelah mandi kita jalan -jalan kesana. Biar Kakak ijin dengan dokternya. Kamu mau?" ajak Duta lagi penuh semangat.


"Mau," jawab Yumna singkat dan memberikan senyum manis yang tak lagi bisa di lihat Duta selama tiga hari ini. Senyum manis Yumna begitu meluluhkan hati Duta. Duta yang mau menyerah, kembali bersemangat ingin berjuang merawat Yumna hingga benar -benar sembuh dan pulih lagi.


"Sekarang istirahat dulu, tidur siang dulu. Nanti kita jalan -jalan. I'm promise my princess," ucap Duta dengan suara pelan


Yumna hanya mengangguk pelan tanpa ekpresi dan memejamkan kedua matanya untuk tidur.

__ADS_1


Selama tiga hari ini, Yumna tak hanya murung tapi sangat sulit di ajak bicara. Yumna cuma diam seribu bahasa dan sama sekali tak mau menatap Duta, atau yang lainnya.


Melihat Yumna sudah pulas tertidur, Duta pun keluar dari ruang VIP perawatan Yumna untuk mencari suster dan emmbantunya meminjam kursi roda. Sekaligus meminta ijin untuk membawa Yumna jalan -jalan sore di sekitar taman rumah sakit.


__ADS_2