Duta & Yumna

Duta & Yumna
44


__ADS_3

Duta menepuk punggung profesornya karena rindu dan bahagia karena masih di beri waktu untuk bisa bertemu dan menyapa. Duta mengendurkan pelukan kepada profesor dan mereka saling menatap penuh pujian.


"Seperti yang profesor lihat? Duta baik -baik saja, dan bahkan saat ini sehat wal afiat," gurau Duta yang kini semakin terkesan ramah dan apa adanya.


"Kau nampak beda sekali, duta. Sudah nampak, wajah -wajah sukses. Kamu? Kahfi bukan?" ucap Profesor itu menunjuk pada lelaki yang sejak tadi berdiri di belakang Duta.


"Betul Prof," jawab kahfi agak malu -malu.


"Ada apa ini? Ayo silahkan kalian duudk dulu, mau minum? biar saya pesankan lewat OB?" tawar Profesor itu dengan ramah.


"Tidak Prof. Kami berdua kesini ada hal penting yang ingin di tanyakan, soal lahan di samping belakang kampus yang katanay akan di bangun lapangan indoor untuk basket dan futsal?" tanya Duta penasaran. Duta malah tidak mengngkapkan hal tadinya ingin di ungkapkan. Masalah kampus adalah masalah penting. Jiwa aktivis Duta mulai keluar dan Duta tidak tinggal diam. Setidaknya sebelum kampus ini emnjadi alumni terbaik baginya, ada hal yang membuat Duta bangga pada dirinya sendiri.


Profesor membenarkan duduknya yang tegak dan kini menyender pada sandaran sofa agar tidak terlihat kaku dan terlalu formal pembicaraan ini, biar lebih santai. duta dan Kahfi mulai menyimak, setelah ini Profesor tentu akan menjelaskaan semuanya.


"Apa yang sudah kamu dengar soal lahan itu?" tanya Profesor kepada Duta dan Kahfi.


"Lahan yang sudah menjadi milik kampus dan saat akan di bangun ada oknum yang tidak suka karena kehilang mata pencahariannya serta ...," ucapan Duta terhenti karena Profesor menyelanya dengan cepat.


"Cukup! Jangan kamu teruskan Duta. Hal itu tidak baik untuk di bicarakan. Aib seseorang yang terbuka dengan sendirinya malah menjatuhkan nama baiknya sendiri. Memang ada kendala, karena dia punya sertifikat palsu yang mengklaim tanah itu miliknya," ucap Profesor itu hanya tertawa saja.


Duta dan Kahfi hanya saling berpandangan dan terasa ada yang aneh disini.

__ADS_1


"Sudahlah Ta. Kmau gak perlu ikut campur. Itu urusan kampus. Biar kampus cari lawyer yang hebat untuk memenangkan kasus ini," ucap Profesor itu santai.


Duta mengangguk kecil, begitu pun juga Kahfi yang duudk di sebelah Duta. Ada hal lain, yang bisa jadi informasi penting bagi Duta. Tapi tidak di bicarkan di depan Profesor ini. Rasanya Profesor tidak mendukung apa yang menjadi kegiatan dan usaha kampus untuk berkembang.


"Baiklah. Kalau begitu. Kita pamit dulu, Prof," pamit Duta dengan cepat. Sepeertinya tidak ada gunanya berlama -lama disini dan Duta memberi kode pada kahfi agar ebrgegas keluar dari ruangan ini.


"Ya Duta. Sekali lagi, congrats ya," ucap Profesor memberi selamat denagn senyum penuh arti.


Duta dan Kahfi keluar dari ruangan itu dan keduanya saling diam seperti paham untuk tidak membicarkan hal ini di sekitar lokasi kampus, ini akan sangat tidak aman sekali.


"Ekhemmm ... Fi, AKu mau nunggu Yumna dulu. Kamu cari beberapa temen kita, yang dulu juga anggota BEM dan mereka loyal sama kita. Inget jangan sampai ada penyusup. Ada hal yang harus kita bahas, dan kita bicarakan di apartemen aku aja. Aku tunggu di parkiran samping ya," titah Duta pada Kahfi.


Keduanya berpisah di koridor. Kahfi belok menuju lobby, karena biasayang teman- teman se-angkatannya lebih senang nongkrong di anak tangga dan melihat gadis -gadis kampus yang aduhai, sedangkan Duta belok ke arah kelas -kelas anak arsitek dan duduk di sebuah kursi kayu panjang menunggu Yumna yang amsih ada di dalam kelas.


Tak lama, Yumna dan Yuri keluar dari kelas, Duta sudah berdiri menyambut istrinya dengan pelukan erat.


"Sudah selesai, sayang?" tanya Duta pada umna.


"Sudah, Kak. Makan yuk? Sama Yuri juga," ajak Yumna pada Duta.


"Ekhemmm ... Kita pulang yuk? Ada yang mau di bahas. nanti belanja saja di mini market bawah, kamu bisa masak kalau mau masak atau kita pesn makanan online. Karena teman kakak banyak yang mau datang, ada sesuatu hal yang harus di selesaikan," ucap Duta mengusap pelan rambut Yumna, agar yuman bisa mengerti keinginann Duta saat ini.

__ADS_1


"Ada apa sih Kak? Kok kayaknya penting banget?" tanya Yumna penasaran.


"Nanti kamu juga akan tahu," jawab Duta singkat sambil tersenyum dan emncium pipi Yumna spontan agar gadisnya tidak terus mengerucutkan bibirnya karena kecewa.


"Aku pualng aja deh. Lain kali aja main ke rumah kamunya, Na. Bunda di rumah lagi banyak pesenan kue, jadi mau bantu -bantu juga. Gak enak, kalau main terus kan. Next time kita masih bisa ketemu dan nongkrong bareng, jadi santuy aja. Oke? See u, Yumna, Bye," pamit Yuri yang lebih dulu keluar pergi.


"Lho jaket kamu?" tanay Duta yang melihat Yumna hanay memakai kaos berkerah saja. Duta paling tidak suka kalau Yumna terlalu mengekspose tubuhnya sendiri.


"Ahh ... Iya, di pake Yuri, tadi dia meriang, gak enak badan. Makanya Yuman pinjami Yuri jaket biar hangat. Yuk pulang, tapi siniin ponselnya, Yumna mau pesen makanan banayk dari ponsel Kakak," cicit Yumna manja.


"Ini ponselnya sayang. Pesanlah makanan yang banyak, sesuka hatimu. Kakak yang bayar, etnang aja," ucap Duta merangkul Yumna dan berjalan ke arah samping menuju parkiran.


"Ya iyalah, Kakak yang bayar. Kakak kan udah jadi suami harus tanggung jawab atas Yumna. Apalagi ini soal makan, untuk kebutuhan hidup," ucap Yumna kesal.


"Iya sayang. Lucu amat sih, istri Kakak kalau lagi ngambek begini, bikin gemes pengen uyel -uyel," ucap Duta tertawa lebar.


Seanng rasanya bisa bercanda kembali dengan Yumna.


Dari kejauhan ada dua pasang mata menatap ke arah pasangan yang selalu berbahagia itu.


"Kita musnahkan salah satunya!" suara lantang di ikuti kepalan tangan hingga bunyi tulang -tulang jarinya terdengar seperti sedang merontokkan tulang belulang ayam.

__ADS_1


__ADS_2