
Akhirnya Duta bisa kembali ke apartemen kecilnya dan hidup bersama lagi dengan Yumna, istrinya. Betapa bahagianya mereka menjalani kehidupan yang berliku ini.
Yumna berdiri di balkon kamarnya dan menatap bintang di langit. Sudah menjadi kebiasaan setiap malam jika Yumna menatap bintang di langit hanya untuk bercerita dan berkeluh kesah. Tapi malam ini akan ada cerita manis untuk si bintang yang selama ini menjadi teman Yumna, dan selalu menemani Yumna dalam sepi sendirinya.
Duta baru saja selesai mandi dan masih memakai piyama handuk. Baru saja kelaur dari kamar mandi dan mendapati Yumna, istrinya sedang berdiri dengan menatap bintang di langit. Langkahnya pelan dan memeluk erat tubuh mungil Yumna dari arah belakang, lalu mencium tengkuk leher Yumna dengan lembut hingga membuat tubuh Yumna bergetar karena bulu kuduknya berdiri merinding.
"Ermhhh ... Kakak," desah Yumna sambil menggeliat kegelian. Duta pun menjauhkan bibirnya dari tengkuk leher Yumna dan makin mengeratkan pelukannya di tubuh Yumna.
"Kakak rindu," bisik Duta tepat di telinga Yumna dan mencium pipi Yumna.
Suara lembut itu membuat jantung Yumna seketika berdebar. Jangan di tanay lagi, pipi Yumna sudah memerah seperti kepiting rebus. Mungkin keduanya terlalu lama berpisah dan kini bersama lagi membuat keduanya agak terasa canggung dan salah tingkah sendiri.
Yumna tak menjawab pernyataan jujur Duta. Yumna malah diam dan merasakan tubuhnya dalam dekapan Duta.
"Ternyata jantung kamu masih sehat, sayang," ucap Duta mengulum senyum.
"Arghhh ... Kak Duta," desah Yumna yang merasa malu.
__ADS_1
"Bener kan? Ini Kakak pegang dari tadi degubnya terus berdetak kencang," goda Duta pada sitri kecilnya itu.
"Hu um ... Yumna ... anu Kak," ucapan Yumna lirih mendesah.
"Kenapa sayang? Masih mau punya Duta junior gak?" bisik Duta lirih sekali.
"Arghh, Kakak ...," ucap Yumna pelan.
Duta memutar tubuh Yumna dan kini mereka saling berhadapan. Keduanya saling menatap penuh damba dan rindu.
"Kamu semakin cantik, Na. Sama cantiknya seperti bunga mawar merah," ucap Duta lirih.
Duta tersenyum manis sekali terus memeluk tubuh Yumna dengan erat. Yumna pun memebalsa pelukan itu dengan kedua tangan emlingkar di pinggang Duta.
"Jadi benar, Kakak yang kirim buket mawar merah buat Yumna?" tanya Yumna lirih.
"Kenapa kamu bingung? Bukankah kamu suka bunga mawar?" ucap Duta mengecup kening Yumna dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Yumna mengendurkan pelukannya dan kini menatap Duta dengan tatapan sendu.
"Maaf ya Kak. Jika Yumna tidak mau menerimanya. Awalnya Yumna curiga, tapi Yumna menolak. Yumna merasa Kak Duta sudah mengabaikan Yumna," ucap Yumna sedih.
"Heiii ... Sejak kapan Kakak mengabaikan kamu, sayang? Kamu tahu, perjuangan Kakak juga gak mudah. Kakak memang sengaja membuat Bunda Gita tidak menghubungi kamu, Na. Kakak tajut tranfusi donor mata itu gagal, dan akhirnya malah membuat kekecewaan lagi. Makanya kakak tidak mau berharap banyak. Pas benar tranfusi donor mata itu berhasil, pikiran Kakak cuma satu, Na. Kakak hanya ingin pulang ke Indonesia dan menemui kamu. Kakak cuma ingin mata ini hanay untuk melihat perempuan hebat Kakak yang Kakak cintai. Percaya atau tidak, saat kamu pergi, kakak benar -benar kacau. Kakak marah hingga Bunda pun bingung," jelas Duta lembut. Satu tangan Duta mengusap air mata Yumna yang telah menetes di pipi.
"Maafin Yumna ya Kak? Yumna saat itu bingung. Ada di pilihan sulit sekali. Yumna tidak mau jauh dari Kakak, tapi Yumna juga gak mau ninggalin kuliah Yumna. Setidaknya kalau Yumna bisa cepat menyelesaikan semuanya tepat waktu, semakin cepat Yumna bisa bersama kakak," ucap Yumna lirih.
"Kita sudah bersama sayang, dan akan terus bersama selamanya," ucap Duta mendekati wajah Yumna dan mengecup bibir Yumna yang terasa dingin.
Yumna memejamkan kedua matanya dan pasrah saat Duta hanya mengecup bibir Yumna. Padahal Yumna berharap ciuman itu bukan sekedar kecupan saja, tapi juga ******* kecil untuk menghapus semua rasa rindu yang sudah bergejolak.
Duta tersenyum lebar dan mengusap bibir Yumna denagn ibu jarinya.
"Mau lebih ya ...," goda Duta membuat Yumna membuka kedua matanya dan emnagtupkan bibirnya dengan kesal.
"Kak Duta!! Bikin kesel aja sih!!" teriak Yumna sambil memukul dada Duta dengan keras.
__ADS_1
"Cie merah pipinya. Aughhh ... Sakit sayang, haduh," ucap Duta dengan mimik wajah serius dan memegang dadanya hingga membuat Yumna panik. Duta menunduk dan menekan dadanya.
"Kak? Kak Duta gak apa -apa? Sakit ya Kak?" teriak Yumna bingung.