
Perjalanan cukup lama dan panjang menuju Jepang sedang di jalani oleh dua sahabat yaitu Yumna dan Yuri. Perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang kira -kira waktu terbang sekitar delapan jam lamanya. Sebentar lagi pesawat itu akan turun dan berhenti di Bandara Tokyo -Narita.
Sepanjang perjalanan Yumna tidak tidur, ia cukup menikmati perjalanan panjang itu dengan perasaan senang dan bahagia. Yumna lega akhirnya bisa pergi ke Jepang, ia hanya tak sabar ingin bertemu Duta, suaminya secepatnya. Sebenarnya apa sih yang di lakukan Duta? Sampai ia menolak kedatangan Yumna? Sesibuk apa sih suami tampannya itu, sampai ia tak mau bertemu Yumna, istrinya. Padahal selama ke Jepang mereka belum pernah bertemu sekali pun.
"Deg -degan ya? Mau ketemu Kak Duta?" tanya Yuri menggoda.
Yumna menoleh ke arah Yuri dan mengulum senyum malu sambil menganggukkan kepalanya pelan.
Ya, Yumna yang sudah rindu pada Duta, suaminya. Tentu dari kilatan wajahnya terlihat, seberapa senang dan antusias Yumna bertemu dengan Duta.
Tak lama, pesawat terbang yang mereka tumpangi sampai di Bandara International Jepang. Hati Yumna semakin berdesir tak karuan. YUmna semakin gugup tak kuasa menahan rasa bahagianya hari ini.
Yuri sudah membawa Yumna keluar dari Bandara International Jepang dan menaiki taksi online lalu memberikan alamat yang di tuju. Alamat itu adalah alamat apartemen Duta yang sudah di tinggalkan selama hampir satu bulan ini. Alamat yang diberikan Bunda Gita kepada Yumna dan Yuri.
"Kita ke apartemen Kak Duta? Langsung?" tanya Yumna dengan ragu pada Yuri.
"Menurut Bunda Gita begitu. Kita tinggal di sini. Katanya ada dua kamar, satu kamar pengantin, satu kamar untuk upik abu," goda Yuri tertawa ngakak di dalam taksi online.
"Huh ... Dasar. Mana ada calon Kakak ipar jadi upik abu. Makasih ya, Ri. Kamu sudah jadi sahabat yang baik dan sellau ada buat Yumna, Yumna kasih restu kok, kamu sama Kak Dafa, Yumna ikhlas ngasih satu Kakak Yumna yang paling ganteng dan cuek itu buat kamu, Ri," ucap Yumna tulus di ikuti dengan kekehan kecil.
Yumna tak pernah menyangka, kalau akhirnya Yuri, sahabatnya sejak SMA yang selalu ada untuknya, main ke rumahnya malah berjodoh dan dekat dengan Kak Dafa, kakak kandungnya sendiri. Tapi, itulah perjalanan hidup yang tak pernah kita ketahui hasil akhirnya bagaimana.
"Sama -sama, Na. Aku juga makasih udah di terima di keluarga kamu dnegan baik, terlebih sama adiknya yang paling manja ini," ucap Yuri tertawa sambil memeluk Yumna erat.
__ADS_1
"Hemmm ... Yumna gak semanja itu," cicit Yumna tak terima.
"Iya deh. Gak manja," jawab Yuri mengalah.
***
Beberapa menit kemudian, taksi online itu sudah berhenti di depan apartemen sesuai alamat yang di berikan oleh Yuri. Ya, apartemen milik Duta.
Yuri dan Yumna turun dari taksi online itu lalu masuk ke dalam untuk meminta akses masuk dengan persetujuan penunggu apartemen. Yuri menghubungi Bunda Gita dan Bunda Gita berbicara dengan penunggu gedung untuk memberikan kunci duplikat pada Yumna, sebagai istri Duta.
Keduanya langsung menuju lift naik ke lantai tiga, di sana kamar apartemen milik Duta berada.
"Kamu suka komunikasi sama Bunda Gita? Yumna kok malah gak tahu," ucap Yumna sedikit cemburu. Yumna kan mennatunya, kenapa malah menghubungi Yuri yang bukan siapa -siapa Bunda Gita. Rasanya jadi aneh sekali.
Yumna hanya mengangguk kecil, tetap saja ada rasa kecewa di dalam hatinya.
***
Yumna sudah membuka pintu kamar apartemen Duta dan masuk ke dalam kamar apartemen itu.
Langkah Yumna terhenti beberapa langkah setelah masuk ke dalam kamar itu sambil menggeret kopernya yang berukuran sedang.
Pandangan Yumna mengedar ke seluruh ruangan yang terlihat rapi dan bersih. Hanya di meja kerja sekaligus meja belajar Duta saja yang terlihat berantakan. Gulugan kertas yang berisi gambar denah dan alat ukur yang tertempel di meja itu.
__ADS_1
Yumna berjalan denagn langkah kecil. Apartemen itu gak besar. Kamarnya memang ada dua dan satu kamar mandi, lalu ada dapur kecil yang bersih sekaligus ruang makan model bar. Di dalam kamar mandi ada ruangan untuk lanundry dan setrika pakaian.
Yumna duduk di sofa dan bersandar pada sandaran sofa yang empuk.
"Kamu kenapa, Na?" tanya Yuri bingung.
Yumna mengelengkan kepalanya pelan.
"Sepi ya Ri. Mungkin kalau aku disini, pasti tidak akan sesepi ini. Mungkin kalau dulu aku setuju kita punya anak, mungkin sebenatr lagi aku melahirkan, dan Kak Duta gak sesibuk ini meninggalkan apartemennya setiap hari," ucap Yumna sendu.
Yuri duduk di samping Yumna dan menepuk bahu Yumna lembut lalu di usap dengan penuh kasih sayang.
"Na ... Kamu harus lebih santai menghadapi ini. Kak Duta juga menerima keputusan kamu kan? Dia juga gak keberatan denagn keinginan kamu. Toh, memang dia gak bisa bawa kamu ke sini juga kan? Karena ini pertukaran mahasiswa, di tuntut profesionalismenya," ucap Yuri mencoba untuk menenangkan Yumna agar tidak merasa bersalah.
"Aku mau ke kamar dulu, Ri. Kamu ke kamar aja dulu, nanti kita cari makan. Pasti disini gak ada makanan. Kak Duta itu jarang nyetok cemilan," ungkap Yumna pelan.
Yuri hanay mengangguk dan menatap Yumna yang sudah berdiri lalu masuk ke dalam kamar yang berukuran besar, sudah tentu itu kamar utama yang di pakai Duta.
Yumna masuk ke dalam kamar tidur itu dan menutup kembali kamar tidurnya sambil membawa kopernya ke dekat lemari pakaian yang ada di sana.
Kedua matanya mengedar ke seluruh ruangan kamar tidur itu. Kamar yang rapi dan wangi aroma parfum Duta yang khas. Kasurnya yang empuk dan terlihat nyaman lalu tatapannya tertuju pada beberapa bingkai foto di atas nakas. Foto dirinya begitu banyak di sana dan etrtempel di dinding kamar itu, baik foto semasa SMA, kuliah, pernikahannya sampai foto candid saat Yumna tidur di kamar tidurnya ada. Luar biasa sekali.
Yumna tahu, Duta tentu memiliki perasaan cinta dan sayang yang sama besarnya seperti diinya. Mungkin bedanya, Yumna lebih terlihat terang -terangan cinta matinya sedangkan Duta sebagai laki -laki masih bisa menahan agar tidak terlihat bodoh karena cinta, padahal jika harus berpisah jauh seperti ini, hatinya juga lemah dan hancur, belum lagi ia mengatasi rasa sepi dan hampa di kehidupannya tanpa Yumna.
__ADS_1
Yumna yang lelah merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu dan benar sekali, sangat nyaman membuat punggungnya terasa lebih enak, dan Yumna terlelap begitu saja.