
"Ya sudah lanjutkan belanjanya. Gak usah di jawab sekarang," ajak Duta kembali mendorong kereta belanjanya untuk mengambil beberapa barang yang belum masuk ke dalam trolly besar itu.
Satu jam lamanya berada di dalam supermartket itu, Duta dan Yumna selesai juga berbelanja dan telah selesai membayar juga. membawa barang tersebut menggunakan jasa pembawa barang menuju kamar apartemennya.
"Duta!!" teriak Kahfi saat Duta dan Yumna masuk ke dalam lobby menuju lift utama.
"Hai Fi. Berapa orang jadinya ini?" tanya Duta sambil menghitung jumlah temannya yang dulu juga satu anggota BEM di masa kepemimpinan Duta.
"Kita cuma berdelapan. Gak apa -apa kan? Gak masalah juga?" ucap Kahfi terkekeh. Rasanya sudah lama mereka tidak ngumpul bareng seperti dulu. Terakhir pada malam sebelum Duta akan melepas jabatannya dan mereka membuat acara di belakang ruang BEM, walaupun cuma bikin acara sederhana sekedar santai dan makan bersama aja.
"Oke. Yuk langsung ke atas," ajak Duta sambil merangkul Yumna yang memegang tiga kardus bolu lapis untuk di sajikan kepada tamunya.
***
Yumna tengah sibuk membuat minuman untuk teman -teman Duta yang sedang berkumpul di ruang tamu. Tadi Duta sudah mengeluarkan air mineral botol kecil dan potongan kue bolu lapis yang sudah tertata rapi di piring. Duta masih sibuk mengisi toples dengan snack ringan dan emmbawa ke ruang tamu kembali.
"Ini Kak, sirup nata de coconya sudah jadi. Tinggal nunggu makanan dari online buat makan siang," ucap Yumna pelan.
Duta memang tidak memperboelhkan Yumna mengantarkan semua makanan dan minuman ke depan. Lebih baik, Yumna di dapur mmebereskan belanjaan tadi atau tidur saja. Biar ini emnjadi urusan Duta.
"Makasih ya sayang," ucap Duta tulus lalu mencium pipi Yumna dengan cepat sebagai ungkapan rasa sayang dan terima kasihnya.
"Kebiasaan ih, curi -curi kesempatan terus," ucap Yumna kesal.
"Udah hak milik, gak boleh marah," ucap Duta cepat langsung melesat pergi meninggalkan istrinya kembali untuk menyelesaikan masalah kampus bersama aktivis lainnya.
Yumna hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu menyelesaikan semua pekerjaan dapurnya. Hanya terdengar sayup -sayup dari arah depan hingga ke dapur. Yumna bahkan tidak tahu apa yang sedang di bahas oleh Duta, suaminya.
__ADS_1
***
"Jadi gimana Ta? Kita bagi tugas aja?" tanya Kahfi kemudian setelah mengumpulkan semua bukti yang sudah ada di meja.
"ya, Kita harus buntuti masing -masing orang ini. Usahakan kalian yang tidak pernah terlihat vokal di BEM. Waktu kita gak lama, sebelum acara wisuda, masalah ini harus sudah selesai," tegas Duta pada Kahfi dan tujuh temannya yang lain.
"Gue bakal buntutin Bima. Gue lagi deket sama salah satu sahabat Bima," ucap LIta menunjuk dirinya sendiri.
"Lo yakin? Gak bakal di curigai Lit?" tanya Kahfi pada Lita.
Lita menatap Kahfi dengan tatapan bingung juga. "Gue gak tahu juga sih. Apa salahnya di coba? Gue cari info dulu, kalau sekiranya calon cowok gue ini mulai ngerasa beda, ya gue bakal kasih tahu ke elo semua, buat cari plan B," ucap Lita pasrah.
"Siap sih cowok lo?" tanya Kahfi penasaran.
"Edo. Lo kenal kan, dia sering bareng Bima terus," ucap Lita serius.
"Iya Ta. Bima juga anak basket lho. Tapi gue bingung kenapa mau ada fasilitas untuk anak basket mereka malah membangkang. Makanya gue mau tahu soal ini," ucap Lita makin penasaran.
"Oke. Lo bisa ambil tugas lo untuk cari tahu soal Bima dan Edo. Gue harap lo gak jadi pengkhianat Lita. Kita disini hanya pengen kampus itu maju, dan dijauhkan dari mafia -mafia yang rakus uang," tegas Kahfi mulai unjuk gigi.
"Keren banget gaya lo Fi, gue suka," ucap Duta tertawa.
"Njir ... Tawa lo renyah amat Ta. Semenjak ke Jepang lo agak berubah," ucap Ariel pada Duta.
"Bukan berubah, cuma lo aja yang udah lama gak ketemu gue. Tapi tetep ganteng kan? Tetep keren gitu maksudnya," ucap Duta terkekeh.
"Soal itu itu sih gak ada duanya. Lo itu segala -galanya kalau gak, mana mungkin jadi idola," ucap Ariel memuji.
__ADS_1
"Cukup mujinya. Kita balik lagi urusan kita. Oke urusan Bima dan Edo udah ada Lita, gue harap Omesh lo bantu di belakang Lita ya. Lo bisa cari petunjuk lain seputar mereka. Lo, Ril. Buntutin Profesor aja. Gue mau tahu, apa yang sebenarnya terjadi ini. Lo , Fi, mending lo cari tahu di sekitar lingkungna kampus, siapa tahu ada warga yang tahu soal ini. Gue bakal buntuti satu dosen lagi, gue agak curiga juga sama dia," ucap Duta menjelaskan.
"Gue ngapain Ta?" tanya Ferdi pada Duta.
"Lo cari salinan sertifikat tanah itu baik yang punya kampus dan orang yang mengkalim miliknya. Coba kita lihat, dari sana jelas, mana yang benar dan yang menyuap notaris," tegas Duta pada Ferdi, di ikuti anggukan kepala Ferdi.
"Siap Ta," jawab Ferdi semangat.
"Lo berdua pantau Kampus. Jangan bareng ya, biar kelihatan natural aja. Kalau satu di kampus,satu di kantin, biar gak tumpang tindih. Inget jangan lupa rekam," titah Duta pada kedelapan temannya.
Semua sudah di bagi tugas dan pekerjaannya. Selama satu minggu mereka tidak akan berkomunikasi lewat wa atau ponsel. Jika sudah berkecimpung soal ini, maka biasanya ponsel mereka juga akan di sadap oleh pihak yang berkepentingan.
"Setiap malam kita ketemu di sini. Gue gak butuh lo datang tiap hari. Lo cukup antar berkas titip di lobby, atau lo kasih ke Yumna di kelas, atau datang kesini jika ada hal yang ingin kalian rundingkan. Ingat, lusa kita harus udah dapat progres dari pengamatannya," tegas Duta lantang.
Desas desus Kampus, yang makin tidak enak di dengar adalah, Duta menyuap beberapa dosen untuk bisa menjadi salah satu mahasiswa pilihan dalam pertukaran pelajar hingga posisinya saat itu di gantikan oleh Alice, anak dari salah satu dosen yang akhirnya terciduk dalam pesta haram.
Anehnya, BEm kemudian mencari sosok Ketua Baru dan Bima yang terpilih dengan suara telak menang sembialn puluh sembilan persen. Itu sangat ganjal.
Bisa jadi ini semua saling berhubungan dan saling berkaitan. Ada oknum yang ingin memecahbelah para peringgi kampus dan mengambil alih kampus untuk kepentingan pribadi.
"Banyak keanehan sih, Ta. Teramsuk kepergian lo ke Jepang secara tiba -tiba," ucap Kahfi muali membicarakan tentang apa yang terjadi di Kampus.
"Maksud lo?" tanya Duta penasaran.
"Lo ngerasa aneh gak sih? Atau selama di Jepang ada hal yang buat lo aneh gitu? Itu bukan pertukaran pelajar Ta. Semacam KKN atau pengabdian aja. Makanya lo di luluskan sebagai tanda lo mau maju ke Jepang," ucap Kahfi pelan.
"Maksud lo pertukaran pelajar kemarin ilegal gitu? Gak legal?" tanya Duta penasaran.
__ADS_1