
Dari tengah malam hingga subuh menjelang Duta dan Nick masih terus banayk mengobrol. Tak terasa waktu mereka semakin sedikt. Nick harus pergi denagn pesawat penerbangan pertma dari Indonesia menuju Paris.
"Sudah saatnya aku pergi Ta. Salam saja untuk Yumna," ucap Nick pada Duta.
"Kenapa tidak berpamitan sendiri?" tanya Duta pada Nick. "Bukankah selama ini kamu selalu ada untuk Yumna?" imbuh Duta dengan senyum tertahan.
"Kamu cemburu? Aku harsu bicara berapa kali? AKu dan Yumna tak ada apa -apa. Kalau aku mau, dari kemarin sudah aku ambil Yumnamu dan ku bawa kabur. Kamu tahu, Ta? Betapa kecewanya dia sama kamu? Wanita yang sedang hamil dan kecewa, lebih mudah untuk di masuki hatinya? Kamu percaya Ta?" ucap Nick pada Duta.
Duta terdiam. Nick benar sekali. Memang Yumna itu terlalu ramah dan mudah membuat temas yang ada di dekatnya itu selalu baper. Tapi seperti yang sudah -sudah di lewati, Yumna akan sadar bahwa tindakannya itu salah dan mundur teratur.
"Memang benar. Tapi aku sellau yakin pada Yumnaku. Yumnaku tidak akan melakukan hal semudah itu, memberikan hatinya di saat ia kecewa," ucap Duta merasa yakin dan percaya sepenuhnya pada Yumna.
Nick hanya menggelengkan kepalanya tak percaya denagn ucapan Duta dan mematikan puntung rokoknya yang telah membuatnya rileks selama beberapa jam ini.
"Seharusnya aku tak membiarkan hatiku kesepian kemarin, agar kamu tambah pening," goda Nick kemudian berdiri dan langsung berpamitan pada Duta setelah melihat waktu yang tak lama lagi pesawatnya akan terbang.
"Sekali lagi, terima kasih atas bantuan kamu, Nick" ucap Duta lalumemeluk tubuh Nick. Kedua pria baik itu saling menyemangati satu sama lain.
__ADS_1
Nick sudah melepas pelukan perpisahan dan berbalik badan lalu pergi meninggalkan kafe itu berjalan menuju tempat menunggu pesawat.
Duta pun berjalan keluar untuk mencari taksi online dan pulang ke rumah orang tua Yumna.
Sesampai di depan pintu pagar tinggi milik Yumna, Duta pun berhasil masuk ke dalam dengan bantaun satpam rumah yang membuka pintu pagar itu.
"Mas Duta?" sapa satpam itu sopan.
"Iya Pak. Jangan bangunkan orang rumah. Duta duduk di depan saja dulu," titah Duta pada satpam itu lalu duduk di teras sambil menikmati udara pagi yang dingin dan kedua matanya menatap langit dengan cahaya bintang yang mulai menghilang satu per satu tanda pagi menjelang.
"Duta?" panggil Bunda Sinta yang membuka pintu utama rumah itu untuk menyiram tanaman kesukaannya di teras depan.
"Ehh Bunda. Maaf, kalau Duta datang tanpa memberi kabar," ucap Duta dengan wajah kuyu.
Duta langsung menghampiri BUnda Sinta dan mencium punggung tangan ibu mertaunay dengan sopan.
"Yumna tahu?" tanya Bunda Sinta pada Duta. Pasalnya YUmna sendiri taak bicara apapun tentang Duta.
__ADS_1
Duta hanya menggelengkan kepalany dan menjawab, "Tidak Bunda, Duta tidak mengabari Yumna sama sekali. Duta sudah resign dari pekerjaan di Paris dan mau menemani Yumna di Indonesia saja. Nanti mencari pekerjaan lain disini."
"Kamu resign? Bukankah pekerjaan itu impian kamu?" tanya Bunda Sinta.
"Benar. Tapi Yumna lebih penting dari apapun buat Duta," jawab Duta lantang.
Bunda Sinta melebarkan senyumnya dan mengangguk bangga denagn Duta.
"Pilihan yang sulit?" tanya Bunda Sinta meyakinkan.
"Gak ada yang sulit buat Duta kecuali membuat Yumna kembali ceria seperti dulu. Menurut Duta itu lebih sulit. Duta mau ke makam Papah dulu. Duta mohon pamit yan Bunda," ucap Duta pada Bunda Sinta pamit dan meletakkan tasnya di teras depan.
"hati -hati Ta. Makamnya juga masih basah, ada di ujung TPU. biar di antar satpam ya?" tawar Bunda Sinta.
"Gak usah Bun. Biar Duta jalan saja. Mari Bunda," ucap Duta sopan lalu pergi menuju tempat pemakaman umum untuk melawat Papah Yumna yang telah satu bulan lebih meninggal.
Bunda Sinta menatap punggung Duta memantunya hingga lelaki muda itu menghilang dari pagar besi tinggi yang menutup rumahnya. Tidak pernah salah pilih memang Papahnya Yumna memberikan restu. Duta adalah anak yang baik dan bertanggung jawab. Keduanya hanay masih terlalu muda dan memiliki banyak impian masing -amsing hingga ego yang di kedepankan. Mungkin seiring berjalannya waktu, keduanya bisa saling memahami arti berumah tangga, bukan sekedar bersama saja. Tapi, saling memahami, melengkapi, dan meghormati.
__ADS_1