
Yuri masuk ke dalam kamar rawat inap Yumna dan melihat Yumna yang speerti ketakutan.
"Na ... Kamu kenapa, Na? Wajah kamu begitu panik dan ketakutan," ucap Yuri yang nampak kebingungan.
"Yuri ... Kayaknya ada orang lain yang sedang mengintai Yumna. Tadi Yumna ketiduran setelah kunjungan pemeriksaan malam dan suster kasih obat buat Yumna. Niat Yumna, nunggu kamu, Ri. Pas Yumna tidur terus terbangun lagi, hordeng sudah tertutup rapat, ada makanan dalam satu kantong plastik di nakas, terus tubuh Yumna sudah di tutupi selimut," ucap Yumna kembali mengingat kejadian barusan.
"Itu bukan di intai tapi di perhatikan. Pasti ada orang yang tidak ingin kamu terluka lagi, makanya di jagain," ucap Yuri polos.
"Ya tapi siapa? Siapa coba? Kamu kan tahu, Yumna gak pernah punay sahabat selain kamu, Ri. Lukas? Sudah gak ada. Kak Duta? Ya kali dia terbang dari Jepang ke Indonesia. Belum lagi ...." ucapan Yumna terhenti. Jari -jarinya meremas -meras ujung pangkal selimut.
"Belum lagi apa? Kak Duta gak sempurna sekarang? Gak boleh gitu dong, Na. Kamu harus yakin, kalau Kak Duta itu bakal sembuh. Bakal ada orang baik yang akan donorin matanya untuk Kak Duta," ucap Yuri menasehati.
"Imposibble Ri. Mata itu adalah bagian penting orang hidup. Jadi gak ada orang sehat yang mau donorin matanya untuk oarng lain, kecuali orang itu sudah sakit parah dan umurnya tidak lama lagi," ucap Yumna menjelaskan secara realistis.
"Jangan picik Yumna. Gak ada yang gak mungkin di dunia ini," ucap Yuri menegaskan agar Yumna tidak terlalu overthinking terhadap apa yang sedang di hadapinya.
Yumna memundurkan tubuhnya dan bersandar pada tumpukan bantal.
"Makan dulu ya? Habis itu minum obat. Tadi aku beli bubur ayam kesukaan kamu, Na," pinta Yuri sambil membuka sterofom yang berisi bubur ayam dan mulai menyuapkan pada mulut Yumna.
Selesai makan, Yumna minum obat dan tertidur kembali. Sedangkan Yuri kembali duduk di sofa panjang sambil menonton televisi dan menikmati cemilan yang di beli di mini market dekat rumah sakit. Malam ini Yuri bermalam di rumah sakit sambil menunggu kedatangan Bunda Sinta dan kedua kakak Yumna.
***
Bima juga berada di rumah sakit karena luka lebam dan robek di sekitar dagunya. Untung saja, tulang kaki dan tulang tangannya tidak di patahkan sekaligus.
__ADS_1
Kedua mata Bima melotot tak percaya melihat kedatangan sosok lelaki yang paling di kagumi sekaligus paling di segani selama ini karena sikap lelaki itu yang tegas dan berwibawa.
"Kenapa? Kaget?" tanya lelaki itu sambil melipat tangannya di depan dada.
Bima menggelengkan kepalanya pelan.
"Gak kaget hanya terkejut. Gue pikir kejadian tadi siang hanya mimpi, ternyata memang nyata," ucap Bima lirih.
"Terus? Kapok? Apa perlu semua tulang -tulang lo itu gue rontokkin satu per satu biar gak bisa di sambung lagi?" tegas lelaki itu pada Bima.
"Gue mau istirahat," ucap Bima tegas.
"Masih mau main -main sama Yumna? Hadapi gue dulu, sebelum lo mau ngerjain gadis itu," gertak lelaki yang kini berdiri tegak di samping bed rawat inap Bima. Kebetulan Bima berada di rumah sakit yang berbeda.
"Maaf? Gampang banget lo ngomong maaf!! Kalau gue gak datang tepat waktu, apa yang akan terjadi sama Yumna? Lo bakal ngerusak dia? Gitu?" tegas lelaki itu dengan tatapan tajam sekali.
"Lo gak denger, gue udah minta maaf!!" ucap Bima ikut terpancing emosinya.
"Tapi sayangnya gue belum bisa maafin lo. Gue masih gak terima dengan perbuatan lo, Bima!!" teriak lelaki itu dengan suara lantang.
"Gue mau istirahat!! Atau gue pencet ini tombol biar suster datang kesini? Lo pilih mana?" ancam Bima sambil memegang alat pemanggil petugas kesehatan untuk di pencet.
Lelaki itu pasrah dan pergi meninggalkan Bima tanpa berpamitan dan membanting pintukamar ruang rawat itu.
***
__ADS_1
Tepat tengah malam, Bunda Sinta, dan kedua kakak lelaki Yumna datang ke rumah sakit. Kebetulan Ayah Yumna sedang ada halangan karena harus melanjutkan perjalanan ke luar kota.
Tok ... Tok ... Tok ...
ceklek ...
"Bunda ... Kak Jone, Kak Dafa? Yumna sedang istirahat. Maaf Yuri kunci kamarnya. Tadi Yumna agak histeris," ucap Yuri mengadu pada Bunda Sinta.
"Kenapa memangnya?" tanya Bunda Sinta yang langsung masuk ke dalam kamar rawat inap Yumna dan menatap sendu ke arah putrinya yang sedang tertidur pulas.
Yuri, Bunda Sinta, dan Kak Dafa serta Kak jone duduk di sofa panjang. Semuanya mendengarkan cerita Yuri.
"Ada yang datang ke kamar Yumna? Siapa lagi? Bunda kok makin was -was jadinya ninggalin Yumna sendiri. Bunda terlalu sibuk sama bisnis di Bali," ucap Bunda Sinta sedih.
"Bunda, jangan salahkan diri Bunda sendiri. Semuanya karena keadaan," ucap Yuri.
"Terima kasih ya Ri, sudah menemani Yumna selama ini. Bunda sendiri kehilangan kontak dengan keluarga Bunda Gita dan Duta. Tiba -tiba saja mereka tidak bisa di hubungi. Apartemennya juga tak mengangkat telepon dari Bunda. Bunda mau kesana lihat keadaan Duta sekarang bagaimana. Kalau begini terus, kasihan Yumna," ucap Bunda Sinta ikut merasakan kesedihan yang di alami putrinya.
"Maksud Bunda apa?" tanya Yuri dengan perasaan tidak enak.
"Bukankah mereka lebih baik pisah? Sudah satu tahun mereka berpisah kan? Itu pun Yumna yang harus ke Jepang dan Duta sama sekali gak ada effort untuk bertanggung jawab atas Yumna. Walaupun Bunda tahu, Bunda Gita selalu menegirimkan uang bulanan dan uang kuliah untuk Yumna. tapi, uang saja gak cukup kan? Cinta saja juga gak cukup. Mereka butuh kebersamaan dan memliki keturunan. Ini sudah berapa lama? Tapi Duta tidak menadaptakan donor mata, lalu bagaimana kehidupan Duta selanjutnya?" ucap Bunda Sinta mulai berapi -api.
"Bunda ... Sabar Bun. Kita harus tanya Yumna dulu, tidak baik kalau kita mengambil keputusan sendiri tanpa ada campur tangan Yumna," ucap Jone pada Bundanya.
Dafa dan Yuri hanya bisa saling berpandangan. Pernikahan sahabatnya sudah di ujung tanduk hanya karena kekurangan Duta yang tidak di inginkan oleh banyak orang. Siapa juga yang mau Buta? Siapa juga yang mau patah tulang sampai tidak bisa berjalan? Tidak ada yang mau. Tidak ada yang ingin. Kecuali memang takdir.
__ADS_1