Duta & Yumna

Duta & Yumna
71


__ADS_3

Duta sudah menyiapkan kursi roda untuk Yumna. Setidaknya keinginan istri kecilnya itu bisa ia penuhi agar Yumna bisa tersenyum, tertawa dan tetap bahagia. Duta tidak mau mengulang kesalahan yang sama, dengan mengedepankan egonya seperti dulu membuat Yumna susah sendiri.


Duta duduk termenung di sofa sambil melihat foto -foto di galeri ponselnya. Foto diri Yumna dan Duta dari awal bersama hingga keduanya memutuskan meikah muda dan saat perpisahan setahun kemarin. Setiap foto memiliki kenangan yang berarti dan mempunyai cerita manis yang membuat Duta selalu tersenyum.


Ponsel itu di tutup dan Duta melihat jam yang ada menempel pada dinding. Baru pukul dua siang. Tatapannya kini berpindah pada Yumna yang masih terbaring lemah di atas kasur. Sampai saat ini, Yumna sama seklai tak mengenalnya.


Duta memijat pelan keningnya. Satu minggu lagi, ia akan wisuda. padahal acara ini sangat Duta tunggu, karena Duta ingin mempersembahkan kelulusan ini untuk sang istri. Sebagai tanda bahwa Duta akan serius menjadi suami sekaligus ayah dari anak -anak yang nantinya akan Yumna lahirkan.


Tapi, rasanya sungguh tak mungkin seklai jika Yumna bisa sembuh dalam waktu sesingkat itu. Satu minggu untuk mengembalikan semua ingatannya. Sungguh sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Bahkan sampai saat ini saja, Duta masih berusaha untuk membuat Yumna ingat pada dirinya.


Kedua mata Yumna mengerjap dan menatap langit -langit ruangan itu. Tubuhnya merinding karena dinginnya AC ruangan yang semakin di kencngkan volumenya.


"Dingin sekali," ucap Yumna datar membuat Duta terperanjat bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Yumna.


"Kenapa? Dingin mau di kecilkan AC -nya?" tanya Duta sambil mencari remote AC dan mulai mengurangi volume dingin ruanagn itu.


"Bisa jalan -jalan sekarang?" tanya Yumna kemudian. Bukan cuma suaranya yang datar tapi tatapan Yumna masih terlihat kosong seperti tak melihat apapun di sekitar ini.


"Bisa. Kamu mau jalan -jalan sekarang. Tapi, masih agak sedikit panas. Gak apa -apa?" tanay Duta menunjukkan cahaya matahari yang masih menyorot panas.


"Gak apa -apa. Mau jalan -jalan sekarang," pinta Yumna lirih.


"Iya sebentar," ucap Duta langsung berlari mengambil kursi roda yang tadi sudah di persiapkan.


Kursi roda itu sudah di dekatkan di brankar Yumna. Duta membantu membangunkan Yumna dan memindahkan Yumna ke kursi roda. Alat infus juga di pasang di tiang yang ada di kursi roda.


Duta mulai mendorong kursi roda itu perlahan keluar kamar ruangan VIP itu menuju ke arah taman melewati beberapa koridor panjang.


Yumna nampak menikmati perjalanannya menggunakan kursi roda. Kedua matanya seolah terasa fresh. tubuhnya makin terasa kuat dan lebih bersemangat lagi.


"Itu tempat untuk jajan?" tanya Yumna saat melewati kantin kecil rumah sakit yang ada di sudut koridor.

__ADS_1


"Iya. Kamu ingin membeli sesuatu? Aku bawa uang kok. Mau apa? Kita kesana ya. Kamu pilih mau beli makanan apa?" titah Duta yang langsung membawa Yumna ke arah kantin kecil yang menjual beraneka ragam jajanan mulai dari snack ringan sampai kue basah ala jajan pasar juga tersedia komplit.


Duta menghentikan dorongan kursi rodanya agar Yumna bisa memilih semua yang ia inginkan dari balik kaca etalase itu.


"Mau yang mana? Semua boleh, kamu boleh makan apa saja, asal jangan yang pedas," ucap Duta menasehati.


Yumna menunjuk beberapa snack yang memang menjadi makanan ringan favoritnya jika Yumna berbelanja di sebuah mini market. Duta hapal betul semua kesukaan Yumna.


***


Asmah berjalan mendekati peti mati sebelum peti itu akan di tutup dan di kuburkan di dekat makam Papah Lukas dan Ibu Angkatnya.


Semua anak buah Lukas di tangkap dan rumah besar itu di rubuhkan karena memiliki aktivitas lain yaitu sebagai tempat pembuatan obat haram yang di perjual belikan secara bebas.


Duta tidak datang dan hanye menyampaikan ucapan bela sungkawa melalui beberapa teman 0temannya yang datang untuk melayat.


"Bilang Duta, maafkan semua kesalahan Lukas. Terlebih jika ada hubungannya dengan Yumna. Mereka berdua akan hidup bahagia setelah ini karena Lukas ssudah tiada," ucap Asmah lirih.


"Tidak ada yang salah. Kita anggap masalah ini selesai. Duta harus fokus pada kesehatan dan kesembuhan Yumna. Aku tidaak bisa hadir dan hanay bisa ikut mendoakan yang terbaik untuk Duta dan Yumna," ucap Asmah sendu.


Biar bagaimana pun juga. Asmah masih tetap SAH istri Lukas. Walaupun keduanya sudah sepakat untuk berpisah namun pengadilan belum memutuskan perceraian mereka.


***


"Akhirnya urusan kampus kita tercinta ini selesai juga. Kampus kita tetap yang terbaik, karena disinilah kita menimba ilmu," ucap Kahfi senang.


"Kita semua hebat. Bisa mempertahankan kampus ini dari mafia yang ingin menjual kampus ini demi materi yang tak seberapa dan haram," ucap Ega ikut angkat bicara.


"Gue salut sama Duta. Dia yang sudah mantan Ketua BEM aja, masih mau berkorban untuk ini," ucap Andrew lantang.


"Ternyata smeua ada sangkut pautnya. Pantes, Lukas itu kelihatan tua tapi kok masih semester awal. Ternyata eh ternyata, ada udang di balik bakwa," ucap Omesh tertawa.

__ADS_1


"Enak dong!!" sambar Lita tertawa.


"Urusan makanan Lita sih nomor satu," ucap Ferdi ikut etratwa.


"Bukan makanannya, tapi bakwan udang kan emang enak. Ehh ... Ke rumah sakit yuk. Kita tengok Yumna dan Duta. Apa kabar mereka," ucap Lita ingin tahu.


"Boleh juga idee lo, Lit. Gue telepon Duta dulu ya, mau bialng kita mau kesana kira -kira gimana?" ucap Kahfi kemudian.


Semua setuju untuk menjenguk Yumna dan Duta di rumah sakit. Kampus ini juga sudah beroperasi dengan normal lagi.


***


Keadaan Yuri juga semakin membaik. Dafa, kekasih Yuri sengaja tidak memberitahukan Yuri tentang keadaan Yumna sahabat sekaligus adik kandung Dafa.


"Yumna sibuk kuliah ya, Kak? Kok gak pernah datang," tanya Yuri saat Dafa sedang menyuapinya.


"Sibuk pacalan lagi sama Duta. Udah biarin," ucap Dafa agar Yuri tak menanyakan kevberadaan Yumna setiap hari.


"Iya Kak. Cuma aneh aja, tumben Yuri sakit gak ada kabar. Yumna itu paling cerewet," ucap Yuri lirih.


Pearsaan Yuri sebagai sahabat mengatakan seperti ada sesuatu yang etrjadi pada Yumna, sahabatnya.


"Ehemmm ... Kak, tapi Yumna baik -baik saja kan?" tanya Yuri penasaran.


"Baik kok sayang. Gak usah khawatir. Yumna udah punay suami juga gak usah panik. Pikirin nih, perasaan Kakak gimana," goda Dafa pada Yuri.


"Pearsaan apa?" tanya Yuri sok polos.


"Ya, kapan kita nikah," tanay Dafa serius sambil menyuapi Yuri.


"Eh anu kak, Yuri pengen pipis dulu. Bisa tolongin?" pinta Yuri cepat.

__ADS_1


__ADS_2