Duta & Yumna

Duta & Yumna
114


__ADS_3

Yumna segera berlari ke lantai atas menuju kamar tidurnya. Yumna benar -benar mearsa sepi dan sendirian. Rasanya sudah tidak ada yang sayang dan peduli lagi pada dirinya. Sungguh menyebalkan sekali semua orang -orang ini.


"Yumna benci!! Tahu gitu Yumna tidak mau menikah muda!! Ham,il speerti ini, tanpa ada suami dan keluarga yang peduli!! Yumna benci!!" teriak Yumna menangis tersedu di atas tempat tidurnya.


Lampu kamarnya sudah di matikan dan Yumna mulai merebahkan tubuhnya. Yumna seperti orang frustasi dan depresi. Ini semua berawal dari rasa kehilangan yang teramat sangat. Ya, Yumna masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Papahnya telah mneinggal. Papah Yumna adalah Papah yang baik dan sangat memanjakan Yumna. Jadi wajar kalau Yumna menjadi anak kesayangan Papahnya.


***


Penerbangan Duta rasanya sangatlah lama. Duta sempat mengirim pesan pada Nick dan ingin bertemu denagn Nick sebelum Nick kembali ke Paris.


Tatapan Duta ke arah luar jendela dan menikmati pemandangan malam yang terlihat tenang dan damai. Malam ini ia berada di atas awan. Pesawatnya terbang di atas beberapa ribu kaki dari bumi.


Nick juga sempat emnelepon balik Duta saat Duta masih berada di bandara. Nick menyetujui pertemuan mereka yang akan di lakukan di bandara saja.

__ADS_1


Kebetulan, Nick sudah berpamitan pada Yumna bahwa ia akan kembali ke Paris. Yumna tidak tahu kedekatan Nick dan Duta saat ini.


***


"Kak ... Foto itu editan," ucap Dafa menatap foto itu dengan seksama.


"Editan? Gak asli?" tanya Jone makin penasaran.


"Gak. Mneurut informasi yang gue dapat. Ada perempuan yang tergila -gila dnegan Duta, dan ada seorang rekan kerja Duta yang ingin menguasai tender yang di menangkan oleh tim Duta, padahal mereka satu tim. Tapi, Om Wisnu lebih percaya pada Duta di bandingkan rekan kerjanya itu," ucap Dafa menjelaskan.


"Akuratlah. Gak sia -sia dong, Yuri mau di jadiin bini kalau gak bisa nyepuin Duta dan Yumna. Bener gak?" tanya Dafa denagn nada congkak.


"Iya tahu. Tapi pasti akurat berita di seberang sana? Kita kan gak tahu," ucap Jone sedikit realistis.

__ADS_1


"Nick cerita semuanya. Ternyata, partner kerja Duta itu adalah teman kecil Nick," ucap Dafa menjelaskan.


"Woww ... Dunia itu ternayata sempit sekali. Kenapa semua jadi saling berkaitan begini?" tanya Jone masih tak percaya dengan apa yang sedang terjadi.


"Nah itu dia. Nanti deh lebih jelasnya lagi," ucap Dafa melepas dasinya dan ingin bergegas mandi karena tubuhnya sudah mulai lengket.


Mengambil alih perusahaan itu ternayta tidak mudah. Dafa yang sudah pernah magang di kantor papahnya saja masih kewalahan apalagi orang yang benar -benar mempelajari dari enol. Sungguh sulit bukan?


"Ngapain masih di situ Kak?" tanya Dafa ketus sambil menatap tajam ke arah Jone.


"Kamu yang kenapa? Ini kamar siapa?" ucap Jone ikut ketus.


Dafa menatap ke sekeliling ruangannya dan benar saja, kamar ini adalah milik Jone bukan miliknya. Ia hanay menarik napas dalam. Mungkin ia terlalu stres dan banyak berpikir samapi ia lupa berada di kamar siapa.

__ADS_1


"Iya kamar kamu, Kak. Maaf ya," ucap Dafa menyesal suadh sedikit membentak Jone, kakaknya tadi.


"Gak apa -apa. Santai aja. Tidak ada masalah. Kmau itu lelah, mending istirahat. Biar stresnya hilang," goda Jone yang melihat Dafa akhir -akhir ini anmapak lelah dan kurang tidur.


__ADS_2