Duta & Yumna

Duta & Yumna
81


__ADS_3

Duta duduk di kursi bagian bagian paling depan, karena Duta mendaftarkan wisuda di awal bulan. Kedua matanay menunduk ke bawah menatap baju wisuda yang sedang di pakainya. Padahal Yumna ingin sekali memakaikan baju wisuda itu dan memasangkan toga yang ada di kepala Duta saat ini. Setelah ini bis aberfoto bersama dengan layar unik seputar kampus. Tapi, smeua itu harus di hapus jauh -jauh. Harapannya pupus begitu saja karena Yumna sampai saat ini belum sadar.


Acara wisuda sudah di mulai tepat jam delapan pagi. Mars kampus sudah di naynyikan oleh paduan suara kampus denagn suara yang begitu meyayat hati. Beberapa tahu mengabdi menjadi mahasiswa, suka dan duka di jalani oleh Duta. Bukan hanay suka dan suka sebagai mahasiswa saja tapi juga sebagai lelaki dan ketua BEM. Semua kenangan itu akan menjadi kenangan yang terindah dan tidak akan mungkin bisa terulang lagi di amsa yang akan datang.


Masa -masa indah yang di lalui sejak tamat SMA, mulai dari mendaftar sebagai mahasiswa dan terpilih menjadi Ketua BEM. Semua itu memiliki kenangannya tersendiri, terutama Yumna yang sellau hadir di hati dan pikirannya.


"Andaikan kamu ada disini, Sayang. Kamu pasti bangga. Bukan kamu saja, tapi anak kita juga kagum melihat prestasi ayahnya ini," ucap Duta lirih dan mengerjapkan kedua matanya.


Sambutan dari rektor dan dekan secara bergantian dan berurutan untuk memberikan sambutan dan kata motivasi untuk menyemangati semua mahasiswa dan mahasiswi yang lulus pada hari ini.


MC acara wisuda memanggil nama Duta, sebagai perwakilan mahasiswa teladan utnuk memberikan sepatah dua kata di podium. Duta pun langsung naik ke atas podium. Sebenarnya tidak siap untuk memberikan seperrbagian kenangan dari kampus tercinta karena Duta tidak di beri tahu sebelumnya untuk memwakili smeua teman -temannya.


"Terima kasih atas sambutannya dan atas waktu yang di berikan kepada saya. Terima kasih juga kepada rektor, dekan setiap fakultas dan semua dosen yang hadir dan sudah membimbing kami hingga kamu lulus dengan predikat yang baik. Terima kasih juga untuk kehadiran para tamu undangan terlebih untuk kedua orang tua dan sanak saudara yang telah menemani masa -masa sulit kami selama menimba ilmu. Saya mewakili teman -teman yang di wisuda pada siang hari ini, ingin mengucapkan banyak terima kasih yang tak terhingga pada semua orang yang telah berjasa untuk kami, hingga kami bisa menjadi orang yang setengah sukses dan akan emlangkah menjadi sukses. Saya dan teman -teman masih harus berjuang dan berkarya sebaik mungkin, karena dengan lulusnya kami saat ini, beban kami menjadi bertambah. Bukan tentang tanggung jawab saja, tapi bagaiman kami menjalankan amanah dan membagikan semua ilmu yang bermanfaat pada banyak orang. Mungkin pengalaman dan smeua pembelajaran bisa kami jadikan bekal untuk tahapan yang lebih tinggi lagi. Semoga kita semua sukses bersama!! Semangat!!" ucap Duta lantang memberikan motivasi untuk semua yang hadir di tempat ini.


Suara tepuk tangan yang riuh menggema di seluruh ruangan auditorium yang luas itu.

__ADS_1


Duta menatap nanar dan sendu mengedarkan pandangannya. Rasanya sepi dan sunyi, tak melihat senyum manis yang sangat Duta harapkan kehadirannya.


"Satu lagi ...," ucapan Duta menggantung dan terhenti sejenak. Suasana ruangan auditorium itu mendadak hening dan sunyi. Suara tegukan saliva Duta terdengar dari arah sound yang keras.


Duta terlihat gugup dan cemas. Hatinya di penuhi rasa khawatir yang begitu tinggi.


"Kebahagiaan ini Duta persembahkan kepada orang yang sangat spesial dalam hidup Duta. Yumna ...," ucap Duta lirih. Kedua matanyaa kembali basah dan ingin menangsi lalu berteriak keras.


"Sayang seklai, Yumna, istri Duta tidak hadir karena sakit. Mohon doa untuk kesembuhan Yumna. Terima kasih," ucap Duta yang mengakhiri pidatonya lalu turun ke bawah kembali duduk di kursinya.


"Sabar Ta. Yumna pasti sembuh," ucap Andrew memberikan semangat pada Duta sambil menepuk bahu Duta pelan.


Kini, acara wisuda itu sudah berada di puncak acara dengan memanggil satu per satu nama mahasiswa yang sudah terdaftar lalu maju ke depan untuk di pindahkan tali toganya sebagai bukti meerka telah berhasil menyelesaikan semua pendidikan di kampus ini secara baik.


"Selamat atas prestasi kamu. Bukan saja secara pendidikan, tapi juga keberanian kamu untuk mengungkap suatu kebenaran. Kami bangga memiliki anak didik seperti kamu, Duta. Kamu bukan saja mahasiswa berpestasi tapi selamanya akan di kenang dan di kenal sebagai Ketua BEM yang memiliki dedikasi tinggi dan penyelamat kampus," ucap sang Rektor pada Duta.

__ADS_1


Rektor itu tak hanya mengucapkan selamat pada Duta tapi juga memeluk erat Duta dan mengusap pelan punggung mahasiswa terbaik kampus itu.


Duta membalas pelukan sang rektor dan mengucapkan banyak terima kasih atas semua pendidikan yang ia terima.


***


Yumna turun dari mobil dengan dres canti yang baru di belinya. Riasan wajahnya yang tipis tetap membuat Yumna terlihat semakin cantik dan tidak terlihat, jika baru siuman dari tidur panjangnya.


Yumna datang tepat pukul sembilan pagi. Tapi sayang, pintu auditorium sudah di tutup untuk para tamu undangan. Yumna terpaksa menunggu di lobby kampus sambil melihat jalannya acar melalui TV besar yang terkoneksi dengan siaran langsung dari dalam ruangan auditorium itu.


Suara lantang tapi terdengar meyayat hati membuat Yumna tertegun menatap Duta yang jelas merasa sedang bersedih dan cemas akan kondisinya yang justru sudah sangat baik dan bahkan sama sekali sudah membaik.


Bunda Sinta emmeluk tubuh Yumna dan meletakkan dagunya di bahu Yumna sambil berbisik.


"Dia suami yang baik dan setia. Bunda bangga punya menantu seperti Duta. Kamu pasti juga bahagia kan bersamanya," tanya Bunda Sinta berbisik.

__ADS_1


Yuma hanya menganggukkan kepalanya kecil. Sungguh ucapan Duta membuat Yumna terharu. rasa sedih bercampur bahagia menjadi satu di dalam hatinya. Sungguh campur aduk dan tubuhnya sedikit bergetar.


__ADS_2