
Yumna duduk terdiam di atas kasur dan emnatap pintu kamar yang di ketuk Duta.
"Ngapain juga sih pakai datang. Mana lupa ngunci pintu lagi," ucap Yumna di dalam hatinya.
Ceklek ...
Duta pun langsung membuka pintu kamar Yumna dan menatap Yuman yang diam membisu tanpa menyapa Duta.
"Na ... Ini Kakak bawakan susu sama salad buah kesukaan kamu," ucap Duta pada Yumna dan meletakkan satu gelas susu di nakas dan satu mangkuk salad buah tepat di depan Yumna.
Rencana Duta ingin menyuapi Yumna, jika istrinya tidak keberatan dan di perbolehkan.
"Makan ya?" tawar Duta yang bersiap menyuapi Yumna.
"Gak. Taruh aja. Gak laper," ucap Yumna ketus.
Duta mengangguk pasrah dan meletakkan mangkuk salad itu di atas nakas samping gelas susu hamil yang di buat Duta khusus untuk Yumna.
__ADS_1
"Mau sampai kapan kita seperti ini? Hubungan kita gak jeas, dan menggantung tanpa kepastian," ucap Duta tiba -tiba pada Yumna.
"Beberapa bulan lagi juga bakal ada surat cerai datang ke rumah Kak Duta. Gak usah khawatir soal itu. Yumna gak akan minta uang sepersen pun untuk mengurus perceraian kita," tegas Yumna pada Duta.
Yumna merebahkan tubuhnya dan menarik selimut untuk menutup tubuhnya lalu memejamkan kedua matanya agar tidak menatap Duta terlalu lama. Hatinya masih rapuh dan mudah luluh melihat ketampanan Duta, kelembutan suara suaminya dan ketulusan hati Duta. Namun, itu smeua masih bisa Yumna tutup dengan beberapa kejadian pengkhianatan Duta menurut versinya sendiri.
Duta hanya menarik napas dalam dan menatap wajah Yumna yang terlihat lelah karena terlalu sering begadang mengerjakan tugas maket.
Tangan Duta sudah terangkat dan ingin emmegang wajah mulus Yumna yang begitu ia rindukan. Duta tak hanay ingin menyentuh pipi yang mulai gembil itu tapi juga ingin mencium lembut kedua pipi mulus milik istrinya.
"Gak usah macem -macem," tegas Yumna yang seperti nya tahu kalau Duta ingin menyentuh istrinya.
"Yuman mau istirahat. Kasihan babynya," jawab Yumna singkat dan membalikkan tubuhnya ke arah lain.
***
"Gimana? Masih keras kepala kan adik gue?" ucap Jone membuka pembicaraan saat ketiga lelaki itu berkumpul di ruang tengah.
__ADS_1
Duta mengangguk pasrah. SikapYumna yang keras kepala dan tak mau merubah keputusannya harus di terima Duta denagn lapang dada.
"Gue udah bilang sama lo kan Ta. Yumna itu sekarang berubah. Dia berubah sejka Papah itu gak ada. Sikap manjanya hilang, cerianya juga meluap, yang ada itu sinis, ketus, judes. Apa bawaan bayi juga kali ya," ucap Dafa ikut bingung.
"Yumna tetap ingin bercerai setelah melahirkan nanti. Yumna masih menganggap Duta bersalah dalam hal ini dan berkhianat pada dirinya," ucap Duta bingung.
"Lo gak coba bicara sama Nick? Setahu gue, Nick lagi punya misi," ucap Dafa kemudian.
"Belum Kak. Duta sibuk denagn proyek yang saat ini sedang di kejakan," ucap Duta pada kedua kakak Yumna.
"Perusahaan lo oke juga, Ta. Perusahaan baru yang mampu bersaing sehat dan kini sudah menduduki lima besar di kota ini," ucap Jone dengan sangat bangga.
"Itu hanya kebetulan Kak. Kita kerja tim bukan personal," ucap Duta menjelaskan.
"Tetap saja. Perusahaan itu milik kamu Ta. PT TANAKA yang sudah di kenal si kota ini," puji Dafa kembali.
***
__ADS_1
"Nick!! AKu mohon Nick ... Selamatkan Papahku, Nick!!" teriak Arsista memohon kepada Nick.