Duta & Yumna

Duta & Yumna
118


__ADS_3

Duta berdiri dan tubuhnya kini berhadapan dengan Yumna yang menatapnya tajam.


"Kakak rindu sama kamu, Na," ucap Duta kemudian di keheningan mereka yang hanya saling diam dan memandang satu sama lain.


Yumna menggelengkan kepalanya pelan tak percaya lagi dengan ucapan manis suaminya yang selama ini hanya mengedepankan egonya menggapai semua mimpinya untuk karir saja tanpa mempedulikan Yumna, kleuarga Yumna dan perasaan orang banyak yang menunggunya pulang.


"Kak Duta itu bukan rindu Yumna tapi cuma jenuh sama pekerjaan saja. Lagi pula, buat apa pulang ke Indonesia? Kalau semua sudah tercukupi disana," ucap Yumna ketus.

__ADS_1


"Untuk apa? Kakak kesini untuk melayat Papah. Untuk bertemu kamu dan kita hidup bahagia lagi berkumpul seperti dulu. Kenapa kamu bisa bilang begitu, Na? Kamu kayak gak suka Kakak pulang? Kakak ini sudah resign dar pekerjaan Kakak dan memilih pulang agar kita bisa bersama, bukan untuk kepentingan lainnya. Kakak itu mau bareng sama kamu, dan emnjaga anak kita," ucap Duta kemudian.


Yumna hanya tertawa kecut melihat pembelaan Duta yang semakin terlihat pintar bicara.


"Wowww ... Memang susah kalau bicara dengan mantan ketua BEM yang hebat dan banyak fansnya. Pinter aja kalau ngomong, memutar balikkan fakta yang ada," ucap Yumna meluapkan smeua emosinya selama satu bulan ini.


"Kamu bicara apa sih, Na? Gak biasanya kamu ngomong kasar seperti ini sama Kakak," ucap Duta mendesah kecewa.

__ADS_1


Entah siapa yang salah dan benar. Tapi, yang jelas hubungan mereka penuh kontroversi yang cukup pelik. Bukan hanay dari latar belakang keluarga saja, tapi keadaan dan kondisi masing -masing pribadi itu sungguh menentukan sikap mereka. Ada saja orang -orang yang tak suka pada pasangan muda ini hingga meneror dan mengkambing hitamkan orang yang tak bersalah.


"Kakak salah apa, Na?" tanya Duta yang memang tidak pernah tahu duduk perkaranya. Hubungan Duta dan Yuman memburuk saat Duta tak bisa mengantarkan Yumna untuk pulang dan emnemani Yumna di saat Yumna terpuruk dan butuh teman bicara karena kehilangan sang Papah.


"Masih nanya? Coba Kakak pikir sendiri saja," ucap Yumna semakin ketus.


"Kakak emang gak tahu. Kakak itu di Paris kerja, Na. Serius kerja siang dan malam buat menangin tender. Tendernya dapat, Kakak langsung resign dan kembali untuk menemani kamu. Maaf kalau Kakak saat itu egois, tapi Kakak punya pilihan setealh itu. Satu bulan tanpa kamu itu rasanya hampa. Bukan malah enak dan bebas. Kakak juga merana, tersiksa batinnya. Tidak fokus bekerja dan sulit konsentrasi. Kamu pikir? Kakak bisa bahagia berjauhan sama kamu? Berpisah ruang dan waktu? Setiap detik mikirin kamu dan anak kita. Sudah makan belum? Sudah minum susu belum? Di chat gak bales, di telepon sengajja di abaikan. Terus Kakak harus gimana?" tanya Duta denagn suara serak.

__ADS_1


Duta sudah capek, sudah lelah. Tubuhnya juga sakit dan butuh istirahat. Duta pikir, kedatangannya sanagt di harapkan Yuman seperti dulu yang langsung memeluk erat tubuhnya. Tapi, kini keduanya seperti asing satu sama lain. Memiliki status tapi tak ada komunikasi yang baik.


"Mendingan kita cerai saja," ucap Yumna lirih.


__ADS_2